Trump Melunak terhadap Raksasa Teknologi, Ada Apa?

AKURAT.CO Pemerintahan Donald Trump periode kedua dinilai lebih ramah terhadap para raksasa teknologi, meski sempat diperkirakan akan memperketat aturan antimonopoli. Sikap ini mendorong lonjakan merger teknologi di Amerika Serikat hingga naik 52 persen dari tahun lalu.
Sejauh ini, Trump baru mengajukan satu kasus antimonopoli besar, yaitu akuisisi Hewlett Packard Enterprise atas Juniper Networks senilai 14 miliar dolar AS. Kasus ini diselesaikan dengan alasan keamanan nasional, meski menuai pertanyaan.
Dikutip dari Axios, Selasa (9/9/2025), beberapa kesepakatan teknologi lain tetap berjalan dengan syarat divestasi. Hal ini menunjukkan pemerintahan Trump memilih jalan kompromi daripada melakukan penolakan total.
Secara politik, Partai Republik dikenal lebih longgar dalam urusan antimonopoli dibanding Demokrat. Namun menariknya, Trump memiliki sejarah perseteruan dengan perusahaan teknologi raksasa, khususnya pada periode pertamanya.
Pada masa itu, Trump pernah melancarkan gugatan besar terhadap Google. Kasus ini kemudian tetap berlanjut di era Joe Biden hingga akhirnya pemerintah memenangkan perkara tersebut.
Meski begitu, sikap Trump kini terlihat lebih akomodatif terhadap Big Tech. Dalam sebuah pertemuan dengan CEO Google, ia bahkan menyindir bahwa gugatan tersebut lebih didorong oleh Biden.
Perubahan sikap ini diyakini karena Trump ingin mendorong pengembangan kecerdasan buatan (AI) dalam negeri. Selain itu, ia juga berfokus pada persaingan teknologi dengan Tiongkok yang semakin ketat.
Walaupun terlihat lebih ramah, sejumlah pengamat menilai kemungkinan munculnya kasus antimonopoli baru tetap ada. Pemerintahan baru biasanya membutuhkan waktu untuk menentukan arah kebijakan yang lebih jelas.
Di sisi lain, tekanan terhadap Big Tech diprediksi masih akan datang dari anggota Partai Republik di Kongres maupun regulator. Isu seputar kebebasan berpendapat dan konten digital diperkirakan tetap menjadi sorotan utama.
Secara keseluruhan, sikap Trump terhadap Big Tech kini lebih pragmatis. Demi kepentingan geopolitik dan inovasi teknologi, ia tampak memilih menjalin hubungan baik dibanding memicu konflik hukum baru.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








