Peringatan Hari Pemantauan Air Sedunia, Teknologi IoT Jadi Solusi Lingkungan

AKURAT.CO Memperingati World Water Monitoring Day atau Hari Pemantauan Air Sedunia, para ahli menilai teknologi Internet of Things (IoT) menjadi solusi efektif untuk menjaga kualitas air. IoT juga membantu menangani risiko pencemaran secara real time.
Perusahaan teknologi lingkungan, sistem IoT mampu memantau parameter penting seperti pH, turbidity (kekeruhan), konduktivitas, oksigen terlarut dan suhu air secara terus-menerus. Teknologi ini membuat proses pengawasan kualitas air lebih efisien dan akurat.
Data hasil pemantauan dapat dikirim langsung ke server atau aplikasi pintar untuk diolah. Dengan begitu, tindakan cepat bisa dilakukan saat terdeteksi polutan atau perubahan kualitas air yang berbahaya, sebagaimana dikutip dari Ignitec, Kamis (18/9/2025).
Penelitian terbaru turut menguatkan hal ini. Studi berjudul "An Intelligence Modular Water Monitoring IoT System" yang terbit di Sustainability tahun 2023 memperkenalkan sistem modular pemantauan air berbasis IoT.
Sistem tersebut tidak hanya mengukur kuantitas, tetapi juga kualitas air secara real time. Arsitekturnya dirancang fleksibel sehingga bisa digunakan di wilayah perkotaan maupun pedesaan.
Di Bangladesh, proyek 'IoT-enabled intelligent water quality monitoring system' memanfaatkan sensor pH, turbidity, TDS (Total Dissolved Solids) dan suhu. Sensor tersebut terhubung ke mikrokontroler ESP32 dengan modul Wi-Fi untuk mengirim data langsung ke server pusat.
Dikutip dari SpringerLink, hasil penelitian menunjukkan temuan yang mengkhawatirkan. Sekitar separuh sampel air dari kawasan wisata di sana tidak memenuhi standar keamanan minum yang ditetapkan WHO.
Kajian di MDPI menunjukkan solusi IoT mampu mendeteksi kebocoran, memantau level air dan mengontrol pompa otomatis. IoT-Water Storage Tanks (IoT-WST) juga memberi umpan balik real time yang bermanfaat untuk rumah tangga maupun komunitas.
Berikut manfaat utama teknologi IoT dalam pemantauan air:
- Deteksi dini pencemaran atau penurunan kualitas air sehingga respon bisa lebih cepat.
- Pemantauan terus-menerus tanpa harus mengirim sampel ke laboratorium secara manual.
- Penghematan biaya dan sumber daya bila dibandingkan metode tradisional.
- Peningkatan kesadaran masyarakat karena data bisa diakses publik lewat aplikasi atau platform digital.
Tantangan yang masih dihadapi:
- Ketersediaan sensor yang tahan lingkungan dan akurat dalam jangka panjang.
- Masalah daya atau sumber listrik, terutama di daerah terpencil.
- Konektivitas dan keamanan data (misalnya enkripsi, integritas data) agar hasil monitoring dapat dipercaya.
- Kebutuhan regulasi dan standar agar data yang dihasilkan bisa diterima oleh lembaga lingkungan dan publik.
Pemerintah, lembaga penelitian, swasta dan masyarakat didorong lebih aktif mengadopsi solusi ini. Hal tersebut penting untuk mendukung tercapainya Sustainable Development Goal (SDG) 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal




