Akurat
Pemprov Sumsel

Tiongkok Fokus Jadi Pemimpin Teknologi Global pada 2035, 5 Tahun ke Depan Jadi Penentu

Petrus C. Vianney | 10 Oktober 2025, 14:25 WIB
Tiongkok Fokus Jadi Pemimpin Teknologi Global pada 2035, 5 Tahun ke Depan Jadi Penentu

AKURAT.CO Tiongkok menargetkan menjadi pemimpin global dalam sains dan teknologi pada 2035. Lima tahun ke depan dianggap krusial untuk meraih terobosan besar di tengah persaingan ketat, khususnya di sektor semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI).

Menteri Sains dan Teknologi, Yin Hejun, memaparkan kemajuan besar selama pelaksanaan Rencana Lima Tahun ke-14 (2021-2025). Ia menyoroti pencapaian penting yang menunjukkan kemajuan pesat Tiongkok di bidang sains dan teknologi.

Investasi nasional untuk riset dan pengembangan (R&D) tercatat naik 48 persen dibandingkan tahun 2020. Peningkatan ini menjadikan Tiongkok memiliki jumlah peneliti terbesar di dunia dan berhasil menempati posisi ke-10 dalam Indeks Inovasi Global.

Tiongkok memimpin dunia dalam publikasi ilmiah bereputasi dan aplikasi paten selama lima tahun terakhir. Namun, sektor semikonduktor dan AI tetap menjadi tantangan utama akibat pembatasan ekspor Amerika Serikat yang menghambat akses terhadap teknologi chip canggih.

Profesor Ye Tianchun dari Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok menilai tantangan utama industri chip adalah beralih dari strategi mengejar dan substitusi impor ke penciptaan teknologi baru. Ia menekankan pentingnya inovasi agar Tiongkok mandiri dalam penguasaan teknologi kunci.

Menurutnya, riset mandiri berperan penting dalam mengembangkan proses chip generasi lanjut. Upaya ini juga harus disertai dengan penguatan ekosistem kolaboratif di dalam negeri untuk mempercepat kemajuan industri semikonduktor.

Saat ini, Tiongkok telah mampu mandiri dalam produksi chip berteknologi menengah seperti 28 nanometer ke atas. Capaian ini menunjukkan kemajuan signifikan dalam penguasaan industri semikonduktor domestik.

Namun, pasar chip kelas atas masih didominasi oleh perusahaan asal Amerika, Jepang dan Eropa. Karena itu, Tiongkok perlu melakukan terobosan besar dalam pengembangan peralatan penting seperti mesin litografi dan komponen utamanya.

Ketika ukuran transistor mendekati batas fisiknya, industri semikonduktor global mulai mengeksplorasi teknologi baru seperti chip fotonik dan komputasi kuantum. Inovasi ini dianggap sebagai langkah penting untuk melampaui keterbatasan teknologi konvensional.

Menurut Ye, teknologi Fully Depleted Silicon-on-Insulator (FDSOI) menawarkan peluang besar bagi Tiongkok. Prosesnya lebih sederhana, biaya rendah dan efisiensi daya tinggi, sehingga menjadi alternatif untuk produksi chip kelas atas.

Baca Juga: Trump Desak Eropa Tekan Tiongkok untuk Akhiri Perang Rusia–Ukraina

Meski begitu, industri dalam negeri masih menghadapi persaingan berlebihan di hampir semua segmen. Hal ini dipicu oleh pembatasan AS dan kebijakan ekspansi yang membuat banyak perusahaan memproduksi produk serupa sehingga membuang sumber daya inovasi.

Profesor Li Xianjun dari Akademi Ilmu Sosial Beijing menilai Tiongkok perlu lebih maju dalam inovasi teknologi semikonduktor. Ia mendorong pengembangan litografi EUV, pengemasan chiplet dan ekosistem chip sumber terbuka RISC-V sebagai strategi penting.

Selain itu, Li menekankan pentingnya eksplorasi teknik manufaktur mutakhir seperti litografi nanoimprint. Pendekatan ini dinilai dapat membantu Tiongkok mengurangi ketergantungan pada arsitektur dan teknologi asing.

Li menambahkan, pertumbuhan infrastruktur komputasi, kendaraan otonom dan manufaktur cerdas akan menjadi pendorong utama pada Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030). Faktor-faktor ini diharapkan mempercepat transformasi industri teknologi Tiongkok.

Sementara itu, kemajuan pesat AI menjadi katalis ganda bagi industri chip. Teknologi ini tidak hanya menciptakan permintaan baru, tetapi juga meningkatkan efisiensi dalam proses manufaktur.

Akademisi Chen Xiaohong dari Akademi Teknik Tiongkok menegaskan pentingnya mempercepat pembentukan ekosistem inovasi terpadu antara sains dan industri. Strategi ini dinilai krusial untuk memperkuat daya saing nasional.

Menurut Chen, strategi AI Tiongkok berfokus pada tiga pilar utama. Pilar tersebut meliputi terobosan dalam algoritma dan chip kelas atas, pengembangan komputasi terinspirasi otak untuk efisiensi energi, serta pembangunan ekosistem data dan daya komputasi nasional.

Ia menambahkan, penerapan teknologi ini akan diprioritaskan di sektor-sektor strategis. Beberapa di antaranya meliputi robot humanoid, kendaraan pintar, transportasi hijau, dan ekonomi berbasis udara rendah.

Sejalan dengan arah tersebut, Menteri Industri dan Teknologi Informasi Li Lecheng menegaskan Rencana Lima Tahun ke-15 akan fokus pada pengembangan AI dan penerapannya di sektor manufaktur. Hal ini menjadi strategi penting untuk memperkuat daya saing industri nasional.

Li menilai, penguatan sektor AI akan menjadi fondasi penting bagi kemajuan teknologi Tiongkok. Upaya ini diharapkan mampu membawa negara tersebut mencapai ambisinya sebagai pemimpin teknologi global pada 2035.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.