Teknologi Jadi Kunci Kolaborasi Indonesia-Taiwan Tangani Sampah Laut di Indo-Pasifik

AKURAT.CO Pemanfaatan teknologi kini menjadi perhatian utama dalam upaya mengurangi sampah laut di kawasan Indo-Pasifik. Inovasi digital dinilai mampu membantu memantau dan menekan pencemaran secara lebih efektif.
Isu ini menjadi sorotan dalam Lokakarya Internasional bertema 'Indonesia-Taiwan Collaboration in Scaling Up Marine Plastic Debris Governance in the Indo-Pacific'. Acara tersebut diselenggarakan oleh The Habibie Center (THC) bersama Ocean Affairs Council (OAC) Taiwan.
"Masalah timbunan sampah plastik di laut sudah semakin mendesak dan semakin meningkat setiap tahunnya telah mencemari laut dan sekitarnya," ujar Mohammad Hasan Ansori selaku Direktur Eksekutif THC, saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (6/11/2025).
Dukungan terhadap pendekatan berbasis teknologi juga datang dari Direktur Departemen Pembangunan Internasional OAC, Lee Shan Ying. Ia menjelaskan bahwa Taiwan telah lama mengembangkan inovasi lingkungan berbasis komunitas dan digital.
"Dalam kolaborasi multipihak ini juga penting untuk melibatkan generasi muda. Taiwan memiliki ragam inovasi berbasis komunitas yang dikelola oleh anak-anak muda secara aktif," jelasnya.
Salah satu inovasi yang menarik perhatian dalam lokakarya datang dari Azure Alliance, organisasi nirlaba asal Taiwan yang berfokus pada konservasi laut. CEO Cheer Chen bersama Co-founder Yu Ting Tseng memperkenalkan kapal pemungut sampah tanpa awak yang dapat beroperasi secara mandiri di perairan.
Teknologi ini dirancang untuk mengumpulkan sampah laut dengan efisien tanpa mengganggu ekosistem sekitarnya. Inovasi tersebut menunjukkan bagaimana solusi berbasis teknologi dapat berperan besar dalam menjaga kebersihan dan kelestarian laut.
Inovasi tersebut lahir dari kolaborasi antara pemerintah, lembaga riset dan perusahaan teknologi seperti Acer dan Google. Azure Alliance memadukan kecerdasan buatan dengan sistem navigasi pintar agar kapal dapat mendeteksi serta mengumpulkan sampah secara akurat.
Pendekatan ini dinilai lebih efisien dalam penggunaan energi dan dapat diterapkan di berbagai jenis perairan. Teknologi ini juga memperluas peluang penerapan solusi ramah lingkungan di sektor kelautan.
Selain teknologi pembersihan laut, lokakarya juga menyoroti pentingnya penguatan data dan pemantauan berbasis digital. Pendekatan ini dinilai krusial untuk memahami pola dan sumber utama pencemaran laut.
Prof. Muhammad Reza Cordova dari The Habibie Center dan BRIN menjelaskan bahwa penggunaan sensor, citra satelit dan sistem pelacakan dapat membantu memetakan sebaran sampah plastik. Dengan data tersebut, upaya intervensi dapat dilakukan secara lebih tepat dan efisien.
THC dan OAC Taiwan menegaskan bahwa inovasi teknologi perlu menjadi strategi jangka panjang dalam pengelolaan sampah laut. Kolaborasi lintas negara diharapkan melahirkan sistem yang adaptif, terukur dan berkelanjutan demi terwujudnya laut Indo-Pasifik yang bersih.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








