Pemakaian Air Oleh Raksasa Teknologi Terus Melonjak Akibat Penggunaan AI, Ini Alasannya

AKURAT.CO Penggunaan kecerdasan buatan (AI) meningkat pesat, namun hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap lingkungan, terutama konsumsi air.
Aktivitas AI membutuhkan listrik dalam jumlah besar yang menghasilkan panas, sehingga air menjadi kunci dalam sistem pendingin pusat data besar.
Satu kueri ChatGPT diperkirakan membutuhkan antara dua hingga 15 sendok teh air, tergantung perhitungan dan panjang respons. Studi menunjukkan penggunaan air ini bisa meningkat signifikan dengan jumlah kueri yang sangat banyak setiap hari.
Dengan satu miliar kueri dijawab setiap hari oleh ChatGPT saja, konsumsi air dari AI generatif diperkirakan akan terus naik dalam beberapa tahun ke depan. Tren ini menandakan tekanan yang semakin besar terhadap sumber daya air global.
"Namun sekarang, karena pusat data dan infrastruktur yang dibangun lebih banyak memerlukan energi, sehingga kini perlu menggunakan cairan pendingin," ujar Abhijit Dubey selaku CEO, NTT DATA INC. dalam video BBC di YouTube, dikutip Sabtu (22/11/2025).
Pusat data modern menyimpan ribuan server untuk memproses berbagai aktivitas daring. Sistem pendingin berbasis air digunakan, dengan sebagian air yang dapat menguap hingga 80 persen.
Aktivitas AI yang kompleks, seperti menghasilkan gambar atau video, membutuhkan daya komputasi lebih tinggi dibanding aktivitas daring biasa. Hal ini menyebabkan konsumsi air dan listrik meningkat secara signifikan.
Penggunaan air di pusat data perusahaan besar, seperti Google, Microsoft dan Meta, terus naik sejak 2020. Pada 2024, Google menarik 37 miliar liter air, setara kebutuhan minimum harian 1,6 juta orang selama setahun atau cukup untuk mengairi 51 lapangan golf.
Banyak pusat data dibangun di daerah kering karena ketersediaan lahan, energi terbarukan dan regulasi. Namun, hal ini menimbulkan protes lingkungan di berbagai wilayah.
Beberapa perusahaan mulai mengembangkan sistem pendingin tertutup dan memanfaatkan panas untuk keperluan sekitar. Meskipun demikian, implementasinya masih berada pada tahap awal.
Industri AI menghadapi dilema antara manfaat teknologi dan dampak lingkungan. Upaya efisiensi air dan energi terus dilakukan, termasuk target menjadi 'ramah air' pada 2030, namun transparansi dan standar pelaporan tetap dibutuhkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








