Akurat
Pemprov Sumsel

China Kembangkan Robot Perang, Drone Otonom hingga AI Propaganda untuk Modernisasi Militer

Winna Wandayani | 5 Maret 2026, 20:23 WIB
China Kembangkan Robot Perang, Drone Otonom hingga AI Propaganda untuk Modernisasi Militer
Ilustrasi AI (Freepik)

AKURAT.CO Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA) mempercepat penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memperkuat militernya. Proyeknya mencakup robot humanoid militer, drone tempur otonom, hingga robot untuk operasi di luar angkasa.

Selain itu, PLA juga mengembangkan sistem AI yang dapat digunakan dalam operasi propaganda dan perang informasi. Teknologi ini dirancang untuk mendukung berbagai skenario konflik modern yang semakin bergantung pada otomatisasi dan data.

Perubahan fokus tersebut terlihat dalam parade militer Tiongkok pada September 2025. Alih-alih menonjolkan tank dan pasukan berbaris, acara itu lebih banyak menampilkan teknologi seperti kendaraan tanpa awak, drone udara dan bawah laut, serta jet tempur otonom berbasis AI.

Fokus pada drone dan robot tempur

Temuan ini berasal dari analisis dokumen pengadaan militer Tiongkok oleh peneliti Universitas Georgetown, Sam Bresnik, dan timnya. Dokumen tersebut menunjukkan PLA sedang mengembangkan pasukan drone yang mampu mengenali target dan melacak musuh secara otomatis.

Drone tersebut juga dirancang dapat berkoordinasi untuk melancarkan serangan tanpa banyak campur tangan manusia. Teknologi ini menjadi bagian dari strategi militer Tiongkok untuk meningkatkan kemampuan tempur berbasis AI.

Selain drone, militer Tiongkok juga berinvestasi pada berbagai robot, termasuk anjing robot dan robot humanoid. Ada pula robot kecil yang dirancang untuk operasi di luar angkasa jika terjadi konflik antar satelit.

PLA juga mengembangkan sistem pengambilan keputusan berbasis AI untuk membantu komando militer. Saat ini teknologi AI tersebut sudah digunakan untuk simulasi medan perang virtual dan memprediksi perilaku musuh dalam berbagai skenario konflik.

AI juga dipakai untuk perang informasi

Ambisi PLA tidak berhenti pada sistem tempur. Dokumen pengadaan juga menunjukkan minat pada teknologi deepfake, yaitu pembuatan gambar, video dan audio berbasis AI yang realistis.

Dikutip dari Gigazine, Rabu (4/3/2026), teknologi ini dipandang sebagai alat strategis untuk:

- memengaruhi opini publik

- memanipulasi persepsi situasional musuh

- mengganggu proses pengambilan keputusan lawan

Algoritma AI juga dikembangkan untuk memantau berita internasional dan membaca dinamika opini publik global. Sistem ini digunakan untuk memetakan pandangan politik negara lain serta memprediksi potensi kerusuhan sosial.

Strategi eksperimen cepat

Menurut para peneliti, Tiongkok tidak menunggu terobosan besar dalam teknologi AI sebelum mengadopsinya. Sebaliknya, PLA memilih pendekatan eksperimen cepat menggunakan teknologi yang sudah tersedia.

Banyak proyek AI militer Tiongkok memiliki waktu pengembangan yang relatif singkat. Pendekatan ini membuat teknologi dapat diuji dengan biaya lebih rendah dan cepat diterapkan di berbagai sektor militer.

Pemerintah Tiongkok juga memberi subsidi dan insentif pajak bagi perusahaan teknologi domestik. Tujuannya agar teknologi sipil dapat dimodifikasi dan dimanfaatkan untuk kebutuhan pertahanan.

Sejumlah program AI militer Tiongkok juga disebut terinspirasi dari proyek Amerika Serikat. Di antaranya Replicator Initiative dan CJADC2 yang fokus pada integrasi sensor, sistem tempur dan pengambilan keputusan lintas domain.

Risiko kesalahan keputusan AI

Meski potensinya besar, penggunaan AI dalam sistem militer juga memunculkan risiko. Salah satunya adalah ketergantungan berlebihan pada otomatisasi.

Berbeda dengan Amerika Serikat yang masih menekankan evaluasi manusia dalam keputusan militer, PLA disebut lebih terbuka menggunakan AI untuk membantu pengambilan keputusan di medan perang. Hal ini berpotensi memicu kesalahan interpretasi terhadap sinyal militer atau diplomatik.

Keterbatasan pengalaman tempur Tiongkok menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan AI militer. Selain itu, kurangnya dataset militer rahasia juga dapat menghambat proses pelatihan sistem AI.

Risiko lain muncul dari kemungkinan manipulasi data. Karena sebagian sistem AI menggunakan informasi publik, pihak lawan bisa saja membanjiri media sosial dengan informasi palsu atau mengganggu sumber data seperti citra satelit komersial untuk menipu sistem AI militer.

Persaingan teknologi dengan Amerika Serikat

Para peneliti menilai Amerika Serikat masih unggul dalam hal daya komputasi, talenta teknologi dan pengalaman operasional. Namun, dinamika politik domestik serta konflik terkait rantai pasokan AI dinilai dapat memengaruhi keunggulan tersebut.

Para peneliti menilai eksperimen AI militer Tiongkok sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Namun, beberapa aplikasinya berpotensi meningkatkan risiko kesalahan perhitungan strategis.

Risiko tersebut terutama muncul pada sistem pengambilan keputusan berbasis AI dan teknologi perang kognitif. Karena itu, Amerika Serikat dinilai perlu mempercepat inovasi AI militer agar tetap mempertahankan keunggulan strategis.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.