Lab Indonesia 2026 Digelar, Kebutuhan Teknologi Laboratorium RI Kian Meningkat

AKURAT.CO Kebutuhan layanan dan teknologi laboratorium di Indonesia terus meningkat seiring pertumbuhan industri dan tuntutan standar mutu. Kondisi ini mendorong laboratorium menjadi infrastruktur penting dalam riset, inovasi, hingga pengembangan industri.
Data menunjukkan Indonesia kini memiliki lebih dari 10.500 laboratorium kesehatan masyarakat. Sementara itu, pasar laboratorium klinis nasional diproyeksikan menembus lebih dari $3,1 miliar (sekitar Rp52,6 triliun) pada 2027, menandakan potensi bisnis yang terus berkembang.
Peningkatan kebutuhan laboratorium tidak lepas dari dorongan industri manufaktur dan program nasional terkait kualitas produksi. Laboratorium berperan dalam pengujian, pengendalian mutu, hingga memastikan kepatuhan terhadap standar.
Secara global, industri teknologi laboratorium juga tumbuh pesat. Nilainya diperkirakan naik dari $258,71 miliar (sekitar Rp4.397 triliun) pada 2023 menjadi sekitar $468,15 miliar (sekitar Rp7.957 triliun) pada 2032, memperlihatkan kompetisi yang semakin ketat.
Dalam konteks ini, kolaborasi antara industri, regulator dan akademisi menjadi faktor kunci. Tanpa integrasi tersebut, inovasi sulit berkembang dan daya saing nasional berpotensi tertinggal.
Pameran Lab Indonesia 2026 akan kembali digelar pada 15-17 April di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City. Ajang ini memasuki edisi ke-8 dengan fokus pada inovasi, standar dan daya saing global.
Baca Juga: Peneliti Kenalkan Laboratorium AI yang Bisa Kumpulkan 10 Kali Lebih Banyak Data
Dengan area pameran lebih dari 14.500 meter persegi, acara ini menargetkan lebih dari 300 perusahaan dan sekitar 15.000 pengunjung profesional. Partisipasi juga datang dari berbagai negara, termasuk China, Jerman, Korea dan Malaysia.
"Kami berharap Lab Indonesia dapat menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan inovasi global dengan kebutuhan industri dan riset di Indonesia," ujar Kristi Wulandari selaku Deputy Event Director dari PT Pamerindo Indonesia selaku penyelenggara Lab Indonesia 2026, saat konferensi pers di ICE BSD, Tangerang, Rabu (1/4/2026).
Komposisi peserta didominasi perusahaan di bidang instrumen laboratorium dan peralatan ilmiah. Selain itu, sektor lain seperti consumables, pengujian, riset dan pengembangan, serta quality control juga mendapat perhatian.
Perkembangan teknologi seperti bioteknologi, pengujian lingkungan, hingga farmasi menunjukkan bahwa kebutuhan analisis laboratorium semakin kompleks. Industri membutuhkan sistem yang lebih presisi, efisien dan sesuai standar global.
Tingginya minat industri juga terlihat dari tingkat partisipasi ulang peserta. Sekitar 53 persen peserta lama menyatakan kembali ikut serta, menandakan pameran ini dinilai efektif sebagai pintu masuk pasar.
"Kami sebagai peserta hadir dan bermitra dengan berbagai pelanggan dan pemangku kepentingan untuk turut mendorong standar keunggulan laboratorium yang lebih tinggi di seluruh Indonesia," kata Saptogiri selaku Managing Director PT Wiralab Analitika Solusindo.
Meski potensinya besar, industri laboratorium Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Ketergantungan pada impor alat, minimnya hilirisasi riset, serta kurangnya kolaborasi antar institusi menjadi hambatan utama.
Ketua Himpunan Kimia Indonesia (HKI) Jakarta, Afrizal, menilai integrasi ekosistem riset masih belum optimal. "Kolaborasi antara industri dan akademisi serta dukungan media menjadi kunci dalam menjadikan laboratorium kimia sebagai pusat inovasi menuju Indonesia Emas 2045," pungkasnya.
Pandangan serupa disampaikan Deputi Akreditasi Badan Standardisasi Nasional (BSN), Wahyu Purbowasito. Menurutnya, Lab Indonesia tidak hanya menjadi ajang transaksi, tetapi juga ruang berbagi pengetahuan dan pembaruan teknologi.
Selain pameran, Lab Indonesia 2026 juga menghadirkan forum ilmiah, seminar teknis, hingga program business matching. Pada edisi sebelumnya, lebih dari 720 pertemuan bisnis tercatat melalui program ini.
Dengan meningkatnya kebutuhan teknologi dan standar global, posisi laboratorium di Indonesia diperkirakan akan semakin krusial. Tantangannya bukan lagi sekadar adopsi teknologi, tetapi bagaimana membangun kolaborasi yang mampu mendorong inovasi berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini






