Akurat Logo

Mitra Netra Luncurkan Direktori Karier Tunanetra, Dorong Inklusi Kerja Berbasis Teknologi Digital

Winna Wandayani | 7 Mei 2026, 22:21 WIB
Mitra Netra Luncurkan Direktori Karier Tunanetra, Dorong Inklusi Kerja Berbasis Teknologi Digital
Mitra Netra Luncurkan Direktori Karier Tunanetra (AKURAT.CO/Winna Wandayani)

AKURAT.CO Yayasan Mitra Netra meluncurkan Direktori Pekerjaan Tunanetra Indonesia pada 11 Desember 2025. Direktori ini dibuat untuk mendorong inklusi kerja penyandang tunanetra di sektor formal.

Kebijakan ini muncul di tengah masih rendahnya partisipasi kerja penyandang disabilitas di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 mencatat tingkat partisipasi kerja penyandang disabilitas baru mencapai 23,94 persen.

Berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), terdapat sekitar 4,2 juta penyandang disabilitas sensorik netra di Indonesia. Namun, hanya sekitar satu persen yang berhasil bekerja di sektor formal.

Mitra Netra menilai kondisi tersebut dipengaruhi hambatan akses dan minimnya pemahaman perusahaan terhadap kemampuan tunanetra. Banyak perusahaan dinilai masih berfokus pada keterbatasan dibanding potensi kerja yang dimiliki penyandang disabilitas.

"Penerbitan Direktori Pekerjaan Tunanetra Indonesia merupakan langkah strategis dalam menyelaraskan potensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri nasional," ujar Aria Indrawati selaku Kepala Bagian Tenaga Kerja Mitra Netra, saat konferensi pers di Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Direktori tersebut memuat 36 profesi yang telah dijalani penyandang tunanetra di Indonesia hingga 2025. Profesi itu tersebar di sektor teknologi, komunikasi, pendidikan, administrasi, keuangan, hingga layanan publik.

Beberapa pekerjaan yang tercantum antara lain software developer, analis data, jurnalis, staf administrasi, guru, hingga pengacara. Mitra Netra menilai daftar profesi itu menunjukkan tunanetra dapat bekerja di berbagai bidang strategis.

Baca Juga: Dukung Kemandirian Tuna Netra, Pelindo Solusi Logistik Luncurkan Program PIJAR

Organisasi tersebut juga menyoroti pentingnya aksesibilitas di lingkungan kerja. Aksesibilitas mencakup fasilitas fisik dan digital yang memudahkan tunanetra menjalankan aktivitas profesional.

Salah satu teknologi yang banyak digunakan adalah Non Visual Desktop Access (NVDA) sebagai pembaca layar. Teknologi ini membuat tunanetra dapat mengakses dokumen, mengelola data, hingga melakukan pemrograman secara mandiri.

Selain aksesibilitas, perusahaan dinilai perlu menyediakan akomodasi kerja yang sesuai kebutuhan individu. Contohnya berupa materi rapat dalam format digital yang aksesibel atau sistem kerja kolaboratif untuk tugas tertentu.

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) juga disebut membuka peluang baru bagi tenaga kerja tunanetra. Teknologi text-to-speech dan deskripsi gambar otomatis dinilai membantu akses terhadap informasi visual yang lebih kompleks.

Direktori itu turut memuat kisah pekerja tunanetra di berbagai sektor industri. Salah satunya Sigit Yulyadi yang bekerja sebagai digital customer service di PT Mahanagari Nusantara Bandung dengan bantuan teknologi pembaca layar.

Contoh lain datang dari Andira Pramatyasari yang bekerja sebagai ASN di Biro Hukum Pemprov DKI Jakarta sejak 2021. Sebelumnya, Andira juga aktif melatih literasi komputer bagi penyandang tunanetra di Kementerian Kominfo.

Di sektor teknologi, perusahaan Imamatek mulai melibatkan pekerja tunanetra sebagai software tester sejak 2023. Mitra Netra menilai pekerja tunanetra memiliki ketelitian tinggi dalam mengevaluasi alur aplikasi digital.

Mitra Netra menegaskan ekosistem kerja inklusif membutuhkan kolaborasi pemerintah, perusahaan dan masyarakat sipil. Organisasi tersebut juga menyediakan layanan pendampingan bagi perusahaan yang ingin merekrut pekerja tunanetra secara lebih inklusif.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.