Google Ungkap Hacker Mulai Manfaatkan AI untuk Temukan Celah Keamanan

AKURAT.CO Google menemukan indikasi peretas mulai memakai kecerdasan buatan (AI) untuk mencari celah keamanan siber berbahaya. Temuan ini menunjukkan AI kini digunakan dalam pengembangan serangan digital yang lebih canggih.
Dalam laporan terbaru, Google menyebut ini sebagai kasus pertama AI terdeteksi digunakan untuk membantu membuat zero-day exploit. Celah keamanan ini berbahaya karena dapat dimanfaatkan sebelum pembaruan sistem dirilis.
Google menjelaskan perusahaan yang terdampak sudah menerima laporan sebelum informasi tersebut dipublikasikan. Setelah itu, patch keamanan langsung dirilis untuk menutup kerentanan yang ditemukan.
Raksasa teknologi tersebut juga menilai penggunaan AI dalam dunia siber kini berkembang jauh lebih cepat. Peretas disebut mulai memanfaatkan AI untuk mempercepat proses pencarian kelemahan jaringan.
Google memastikan model Claude Mythos milik Anthropic kemungkinan besar tidak digunakan dalam kasus ini. Meski begitu, model AI tersebut diketahui mampu menemukan ribuan celah keamanan di berbagai sistem operasi dan browser populer.
Baca Juga: Google Tingkatkan Fitur AI Gmail agar Tulisan Email Lebih Natural
Selain Claude Mythos, model GPT-5.5-Cyber buatan OpenAI juga menjadi perhatian pemerintah Amerika Serikat. Pemerintahan Donald Trump disebut sedang berdiskusi dengan pelaku industri terkait regulasi dan pengawasan AI canggih.
Chief Analyst Google Threat Intelligence Group, John Hultquist, mengatakan penggunaan AI oleh pelaku ancaman siber akan terus meningkat. Ia menilai teknologi tersebut membuat serangan menjadi lebih cepat dan sulit dideteksi.
"Untuk setiap hari nol kita dapat melacak kembali ke AI, mungkin ada lebih banyak lagi di luar sana," ujar Hultquist dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (12/5/2026).
Peneliti keamanan siber beberapa bulan terakhir memang semakin sering menemukan pemanfaatan AI dalam aktivitas peretasan. Teknologi tersebut dipakai untuk membantu otomatisasi serangan hingga pembuatan malware.
Pada November lalu, Anthropic mengungkap hacker yang didukung Beijing mulai memakai AI untuk mengotomatiskan serangan siber sepenuhnya. Hal ini menjadi salah satu contoh nyata meningkatnya penggunaan AI dalam dunia kejahatan digital.
Laporan Google juga menyoroti aktivitas kelompok peretas terkait Rusia yang memakai AI untuk menyerang jaringan Ukraina. Sementara itu, kelompok hacker Korea Utara APT45 disebut menggunakan AI untuk memperluas metode serangan mereka.
Perkembangan AI generatif yang semakin canggih memunculkan kekhawatiran baru di industri keamanan siber. Banyak pihak menilai AI dapat dimanfaatkan penjahat digital untuk melancarkan serangan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








