Akurat Logo

Besaran Dana Realisasi 5G Terus Naik, Tapi Hasilnya Belum Merata

Winna Wandayani | 23 Mei 2026, 22:56 WIB
Besaran Dana Realisasi 5G Terus Naik, Tapi Hasilnya Belum Merata
Ilustrasi 5G (Freepik)

AKURAT.CO Investasi jaringan 5G di dunia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Operator telekomunikasi berlomba membangun infrastruktur baru demi mengejar kebutuhan internet cepat dan layanan digital modern.

Industri seluler global diperkirakan menginvestasikan sekitar US$1,2 triliun (sekitar Rp21.254 triliun) hingga 2030. Mayoritas dana tersebut digunakan untuk pengembangan jaringan 5G dan kapasitas data, sebagaimana dikutip dari GSMA, Sabtu (23/5/2026).

Biaya pembangunan 5G jauh lebih mahal dibanding generasi sebelumnya. Operator harus membeli spektrum frekuensi, membangun BTS tambahan dan memperkuat jaringan fiber optik.

Selain itu, operator juga perlu meningkatkan pusat data dan sistem cloud untuk mendukung trafik yang terus naik. Hal ini membuat belanja modal operator telekomunikasi terus membengkak setiap tahun.

Dikutip dari Ericsson, jumlah pelanggan 5G global diperkirakan mencapai 2,9 miliar pada akhir 2025. Pertumbuhan pengguna ini menjadi alasan operator tetap agresif memperluas jaringan.

Meski begitu, manfaat 5G belum sepenuhnya dirasakan banyak pengguna. Di sejumlah negara, jaringan 4G masih dianggap cukup cepat untuk aktivitas sehari-hari seperti streaming dan media sosial.

Situasi tersebut membuat operator mulai fokus pada monetisasi layanan 5G. Mereka kini mencari cara agar investasi besar yang sudah dikeluarkan bisa menghasilkan keuntungan lebih cepat.

Beberapa operator global mulai menawarkan layanan berbasis 5G untuk industri dan bisnis. Contohnya seperti private network, cloud gaming, hingga Fixed Wireless Access atau internet rumah berbasis 5G.

Laporan Ericsson menyebut ratusan operator sudah meluncurkan layanan 5G komersial. Namun hanya sebagian kecil yang masuk ke tahap monetisasi lanjutan melalui jaringan 5G Standalone (SA).

Di sisi lain, tekanan biaya operasional juga terus meningkat. Operator harus menjaga kualitas jaringan sambil tetap menawarkan harga paket data yang kompetitif.

Kondisi tersebut terlihat di banyak negara Asia yang memiliki tarif internet murah. Operator harus mencari keseimbangan antara memperluas jaringan dan menjaga profitabilitas bisnis.

Indonesia juga menghadapi tantangan serupa dalam pengembangan 5G. Jaringan generasi kelima memang sudah hadir, tetapi cakupannya masih terbatas di kota dan area tertentu.

Karena itu, 5G di Indonesia masih lebih banyak diposisikan sebagai layanan premium. Operator pun cenderung berhati-hati dalam menambah investasi sebelum permintaan pasar benar-benar besar.

Harga perangkat yang mendukung 5G juga masih menjadi hambatan bagi sebagian masyarakat. Selain itu, belum semua pengguna merasa membutuhkan kecepatan tambahan dari teknologi tersebut.

Dikutip dari ITPro, operator telekomunikasi kini menghadapi tantangan untuk membuat layanan 5G lebih relevan dan menguntungkan. Meski investasi jaringan terus meningkat, 5G dinilai belum sepenuhnya menjadi game changer di industri telekomunikasi global.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.