Akurat Logo

5G di Indonesia: Teknologi yang Datang Terlalu Cepat atau Ekosistem yang Terlalu Lambat?

Winna Wandayani | 24 Mei 2026, 21:45 WIB
5G di Indonesia: Teknologi yang Datang Terlalu Cepat atau Ekosistem yang Terlalu Lambat?
Ilustrasi 5G (Freepik)

AKURAT.CO 5G pernah dipromosikan sebagai teknologi yang bakal mengubah segalanya. Internet super cepat, mobil tanpa sopir, pabrik pintar, sampai operasi jarak jauh jadi gambaran masa depan yang terus dijual industri teknologi.

Tapi beberapa tahun setelah hadir di Indonesia, realitasnya belum terlalu terasa. Sinyal 5G memang sudah tersedia di sejumlah kota, tetapi mayoritas pengguna masih mengandalkan 4G untuk aktivitas sehari-hari.

Pertanyaannya, apakah 5G memang datang terlalu cepat atau justru ekosistemnya yang masih lambat berkembang?

5G Sudah Ada, Tapi Belum Jadi Kebutuhan

Masalah terbesar 5G saat ini adalah banyak orang belum merasa benar-benar membutuhkannya. Bagi sebagian pengguna, internet 4G masih dianggap cukup untuk aktivitas sehari-hari.

Streaming video, media sosial, hingga gaming juga masih bisa berjalan cukup lancar di jaringan 4G. Karena itu, perbedaan pengalaman antara 4G dan 5G belum terlalu terasa signifikan.

Operator global kini mulai fokus mencari cara menghasilkan uang dari layanan 5G. Hal itu terjadi karena adopsi konsumen berjalan lebih lambat dibanding ekspektasi awal industri, sebagaimana dikutip dari GSMA, Minggu (24/5/2026).

Infrastruktur Sudah Jalan, Ekosistem Belum Mengejar

5G sebenarnya bukan cuma soal internet cepat. Teknologi ini dirancang untuk mendukung AI, IoT, kendaraan otonom, hingga otomatisasi industri.

Masalahnya, banyak negara berkembang masih berada di tahap awal transformasi digital. Termasuk Indonesia, di mana penggunaan internet masih didominasi hiburan dan media sosial.

Artinya, jaringan 5G hadir lebih dulu sebelum kebutuhan industrinya benar-benar matang.

Negara seperti Korea Selatan dan China bisa lebih cepat memanfaatkan 5G karena ekosistem digital mereka sudah lebih siap sejak awal.

Operator Menghadapi Tantangan Besar

Di sisi lain, membangun jaringan 5G membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Operator harus membeli spektrum, membangun BTS baru dan memperkuat jaringan fiber optik.

Masalahnya, tidak semua pengguna mau membayar lebih mahal hanya untuk internet yang sedikit lebih cepat. Apalagi, pengalaman 5G di banyak wilayah masih belum konsisten.

Karena itu, banyak operator global mulai mengarahkan 5G ke sektor industri. Mereka melihat peluang lebih besar dari otomatisasi pabrik, logistik dan layanan bisnis dibanding pasar konsumen biasa.

Jadi, apakah 5G Gagal? Belum tentu. Dikutip dari CNBC, banyak analis menilai 5G saat ini masih berada di fase awal perkembangan. Situasinya mirip seperti 4G dulu sebelum era streaming, cloud, dan media sosial berkembang besar.

Bedanya, hype 5G datang terlalu cepat dibanding kesiapan ekosistem pendukungnya. Infrastruktur mulai dibangun, tetapi kebutuhan pasarnya belum tumbuh secepat ekspektasi industri.

Untuk sekarang, 5G di Indonesia mungkin belum menjadi game changer. Namun dalam beberapa tahun ke depan, teknologi ini tetap berpotensi menjadi fondasi penting untuk AI, smart city, dan layanan digital generasi berikutnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.