Bingung Pilih Strategi Investasi Saham IPO? Simak 3 Temuan Stockbit Untuk Maksimalkan Cuan

AKURAT.CO Berspekulasi pada saham IPO menawarkan potensi keuntungan yang tinggi, meski memiliki risiko yang juga tinggi. Berdasarkan studi historis, Stockbit menemukan beberapa temuan penting (konklusi) yang dapat dimanfaatkan oleh investor untuk memaksimalkan return sekaligus meminimalkan risiko ketika membeli saham IPO.
Asal tahu, studi ini menggunakan data 161 saham yang melantai di BEI pada periode 6 Desember 2021–12 Februari 2024. Dengan demikian, tren pergerakan harga saham dan rekam jejak masa lalu belum tentu terulang di masa depan. Selain itu, alokasi saham pada saham IPO juga bervariasi, sehingga dapat mempengaruhi risk/return absolut yang didapatkan investor.
Berikut 3 temuan yang dimaksud.
1. Cukup menarik untuk berspekulasi di saham-saham IPO karena menawarkan risk/return asymmetry, kecuali papan akselerasi.
Adanya risk/return asymmetry pada papan utama dan pengembangan. Rata-rata (expected) return atas saham yang mencatatkan performa positif lebih besar dibanding rata-rata kerugian dari saham yang mencatatkan performa negatif. Hal ini mengindikasikan bahwa, jika investor selalu membeli saham IPO di papan utama dan pengembangan, keuntungan secara rata-rata melebihi kerugian dari saham IPO dengan performa negatif.
Lalu juga, terdapat 70% probabilitas untuk mendapat profit. Saham IPO di papan utama dan pengembangan memiliki probabilitas profit sekitar 70%, yang berarti jauh melebihi probabilitas kerugian. Kemudian, hindari saham IPO di papan akselerasi. Stockbit menemukan bahwa saham IPO di papan akselerasi memiliki expected return yang negatif karena probabilitas kerugian yang tinggi.
"Fakta menarik lainnya, menjual saham papan utama dan akselerasi pada hari pertama listing tidak selalu menghasilkan return yang optimal. Berdasarkan data historis, H+6 merupakan waktu yang optimum untuk menjual, dengan expected return kumulatif mencapai 39,1 persen," tulis laporan Stockbit, dikutip Rabu (10/7/2024).
Baca Juga: IHSG Terkoreksi, Saatnya Cicil Saham Big Caps?
2. Pilih saham dengan rekam jejak underwriter yang baik guna maksimalkan potensi return.
Salah satu faktor penting yang perlu dipertimbangkan saat membeli saham IPO adalah rekam jejak underwriter-nya. Dengan melihat rekam jejak underwriter, investor dapat memperbesar potensi profit dari saham IPO. Berikut ini adalah ringkasan rekam jejak underwriter yang telah diurutkan berdasarkan expected return tertinggi, dengan kriteria utama yakni memiliki hit rate minimal 70%.
Dalam pertimbangan menyusun dan mengurutkan, Stockbit memprioritaskan underwriter dengan jumlah saham IPO minimal 4 saham. Underwriter AR dan HP memiliki rekam jejak yang baik, dengan expected return pada hari listing mencapai lebih dari 25% dan hit rate 100%, kendati jumlah sampel yang sedikit (<4). Untuk investor dengan risk appetite yang tinggi dapat berspekulasi pada kedua underwriter ini.
3. The 20% rule untuk menentukan waktu jual optimum.
Untuk kriteria A (saham IPO dengan performa hari listing naik lebih dari 20%), investor dapat hold saham tersebut hingga H+6 selama kenaikan harga secara harian lebih dari 20%. Untuk memaksimalkan return, Stockbit merekomendasikan investor untuk menjual saham tersebut ketika harga secara harian tidak naik lebih dari 20%, tanpa perlu menunggu hingga H+6.
Sebagai contoh, saham AAAA naik 25% saat hari listing. Karena kenaikan pada hari itu lebih dari 20%, maka investor dapat hold. Pada H+1 listing, saham AAAA masih naik 25%, sehingga investor tetap dapat hold. Pada H+2, saham AAAA hanya naik 11%. Karena kenaikan saham AAAA pada H+2 kurang dari +20%, maka investor dapat mengambil posisi jual.
Strategi ini didasarkan oleh data expected return harian pada hari setelah listing yang masih positif hingga H+6. Namun, pada H+7, data menunjukkan bahwa expected return harian menunjukan performa negatif (-0,3%), menunjukan tipping point performa pada kriteria ini. "Simulasi kami berdasarkan data historis membuktikan bahwa dengan menggunakan strategi maksimalkan yang kami rekomendasikan, expected return lebih superior dibanding expected return secara umum pada Kriteria A," tulis laporan itu lagi.
Sementara untuk kriteria B (saham IPO dengan performa hari listing tidak naik lebih dari 20%), investor dapat segera mengambil posisi jual. Alasannya didasarkan oleh data historis yang menunjukkan bahwa banyak saham yang kemudian mencatatkan return harian negatif pada H+1 listing (berbalik arah). Oleh karena itu, untuk mengoptimalkan return, Stockbit merekomendasikan untuk langsung menjual saham IPO pada hari listing jika kenaikan harga tidak lebih dari 20% agar investor mengamankan profit.
Adapun untuk saham yang mengalami return negatif pada hari listing, kami merekomendasikan investor untuk langsung menjualnya pada hari listing (cut loss). Rekomendasi kami didasarkan oleh fakta bahwa probabilitas rebound sangat kecil pada hari berikutnya, dengan risk/return yang tidak menarik. Temuan kami juga menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan rebound saham IPO dengan performa hari listing negatif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










