3 Bahaya Fenomena Dissaving Atau Makan Tabungan
Hefriday | 28 September 2024, 17:02 WIB

AKURAT.CO Fenomena masyarakat yang terpaksa menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau dikenal dengan dissaving kini bukan hanya dialami oleh kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, tetapi juga oleh kelas menengah.
Inflasi yang terus meningkat, ditambah dengan gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di berbagai sektor, membuat semakin banyak orang bergantung pada simpanan mereka untuk bertahan hidup. Namun, mengandalkan tabungan secara terus-menerus memiliki risiko yang perlu diwaspadai.
Inflasi yang meningkat tajam dalam beberapa waktu terakhir telah mempengaruhi daya beli masyarakat. Harga kebutuhan pokok melonjak, sementara pendapatan banyak keluarga stagnan.
Bagi sebagian besar masyarakat kelas menengah, yang biasanya memiliki sedikit ruang untuk berinvestasi atau menabung, kondisi ini menjadi semakin sulit. Kenaikan harga barang-barang esensial membuat banyak orang terpaksa memanfaatkan tabungan mereka untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.
Di sisi lain, gelombang PHK di berbagai sektor ekonomi menambah tekanan bagi kelas menengah. Banyak yang kehilangan sumber penghasilan utama atau mengalami penurunan pendapatan yang signifikan.
Di sisi lain, gelombang PHK di berbagai sektor ekonomi menambah tekanan bagi kelas menengah. Banyak yang kehilangan sumber penghasilan utama atau mengalami penurunan pendapatan yang signifikan.
Akibatnya, simpanan yang sebelumnya digunakan untuk tujuan jangka panjang seperti pendidikan, kesehatan, atau investasi masa depan kini harus dialokasikan untuk kebutuhan mendesak. Situasi ini membuat kelas menengah semakin terjepit.
Mengandalkan tabungan untuk kebutuhan sehari-hari memang bisa menjadi solusi sementara, tetapi jika berlangsung terlalu lama, hal ini bisa berdampak negatif terhadap stabilitas keuangan. Mengutip dari berbagai sumber, Sabtu (28/9/2024), berikut beberapa bahaya fenomena dissaving:
1. Rencana Masa Depan Terganggu
Mengandalkan tabungan untuk kebutuhan sehari-hari memang bisa menjadi solusi sementara, tetapi jika berlangsung terlalu lama, hal ini bisa berdampak negatif terhadap stabilitas keuangan. Mengutip dari berbagai sumber, Sabtu (28/9/2024), berikut beberapa bahaya fenomena dissaving:
1. Rencana Masa Depan Terganggu
Tabungan yang seharusnya digunakan untuk tujuan darurat atau rencana masa depan, seperti pensiun, perumahan, atau pendidikan, bisa terkuras dengan cepat jika digunakan terus-menerus untuk kebutuhan harian. Saat tabungan habis, masyarakat akan lebih rentan terhadap krisis keuangan yang lebih parah di masa mendatang.
2. Rentan Berutang
2. Rentan Berutang
Setelah tabungan habis, proses untuk membangun kembali simpanan bisa menjadi sulit, terutama jika pendapatan tidak segera pulih. Situasi ini membuat masyarakat semakin rentan terhadap kejadian tak terduga seperti sakit atau kebutuhan mendesak lainnya, yang pada akhirnya bisa memaksa mereka berutang atau mencari solusi keuangan lainnya yang lebih mahal, seperti pinjaman dengan bunga tinggi.
3. Peluang Berinvestasi Menipis
3. Peluang Berinvestasi Menipis
Kelas menengah yang biasanya memiliki sedikit ruang untuk berinvestasi akan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kekayaan atau menyiapkan dana untuk masa depan. Dengan habisnya tabungan, peluang untuk melakukan investasi yang menguntungkan seperti membeli properti atau memulai usaha baru menjadi semakin kecil.
Solusi
Lalu dengan adanya kejadian ini, bagaimana cara kita menghadapinya dan apa solusinya?
Mengatasi fenomena ini tentu memerlukan upaya dari berbagai pihak. Pemerintah dan sektor swasta perlu bekerja sama untuk menciptakan peluang kerja yang lebih stabil dan memberikan insentif kepada perusahaan agar tidak melakukan PHK secara massal. Selain itu, kebijakan untuk menekan inflasi dan menjaga harga kebutuhan pokok tetap terjangkau juga sangat penting.
Di tingkat individu, penting untuk melakukan perencanaan keuangan yang matang. Masyarakat bisa mulai dengan menciptakan anggaran bulanan yang jelas, mencari sumber pendapatan tambahan, atau meninjau kembali gaya hidup dan pengeluaran sehari-hari, juga diversifikasi sumber pendapatan dan investasi menjadi kunci penting untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi di masa depan.
Fenomena "makan tabungan" adalah dampak langsung dari tekanan inflasi dan gelombang PHK yang kini tak hanya menghantam masyarakat kelas bawah, tetapi juga kelas menengah. Jika tidak segera diatasi, resiko kehabisan simpanan dan krisis keuangan yang lebih besar di masa mendatang akan semakin besar. Dengan perencanaan keuangan yang baik dan dukungan kebijakan yang tepat, diharapkan masyarakat bisa keluar dari tekanan ini dan menjaga stabilitas keuangan mereka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










