Ancaman Perang Tarif AS-China dan Efek Domino bagi Perdagangan Global

AKURAT.CO Tahun 2025 menjadi tahun tantangan baru bagi pertumbuhan ekonomi China.
Di mana, banyaknya tekanan baik dari internal hingga eksternal membuat pertumbuhan ekonomi negara panda tersebut kian melambat.
Hadirnya kebijakan tarif yang digaungkan oleh Presiden AS, Donald Trump, kembali menjadi momok menyeramkan yang tidak hanya dirasakan oleh China saja, namun ekonomi global ikut terpengaruh.
Sebab, apabila diterapkan, tarif tersebut berpotensi menghantam sektor ekspor China yang menyumbang hampir sepertiga dari pertumbuhan ekonomi negara itu pada tahun lalu.
Mengutip dari Bloomberg (Kamis, 30/1/2025), pesanan ekspor baru juga menunjukkan tren penurunan tajam ke level terendah sejak Februari.
Baca Juga: Industri Teknologi Kena Pukul, Produksi Global Terancam Berubah Gegara Tarif
Hal ini mengindikasikan lemahnya permintaan global yang semakin memperburuk situasi.
"Produksi melambat karena liburan Tahun Baru Imlek tetapi penurunan pesanan ekspor jauh lebih buruk dari yang diperkirakan," kata Kepala Ekonom Pinpoint Asset Management, Zhiwei Zhang.
Sedangkan sektor manufaktur China, yang selama ini menjadi tulang punggung ekspor, sangat bergantung pada permintaan luar negeri.
Dengan adanya persaingan global yang semakin ketat dan sentimen konsumen yang lesu, produsen di China menghadapi tantangan untuk tetap kompetitif.
Beban tambahan berupa tarif dari AS hanya akan memperparah situasi, membuat harga produk China menjadi kurang bersaing di pasar internasional.
Baca Juga: Menelaah Trumpnomics: Kontroversi di Balik Kebijakan Tarif Tinggi AS
Selain itu, lemahnya ekspor juga mencerminkan ketidakmampuan sektor domestik untuk mengimbangi kekurangan permintaan global.
Ini menjadi pengingat bahwa ketergantungan yang berlebihan pada ekspor bukanlah strategi yang berkelanjutan.
Namun, di tengah tantangan ini, ada harapan bahwa pemerintah akan mengambil langkah berani untuk menstabilkan perekonomian.
Pihak berwenang berencana meningkatkan rasio defisit anggaran untuk mendukung pengeluaran publik.
Langkah ini diharapkan dapat memberikan dorongan bagi sektor-sektor yang terdampak.
Baca Juga: Trump Kembali Terapkan Tarif Tinggi: Usaha Mewujudkan 'Era Keemasan' Ekonomi Amerika
Meski begitu, para analis tetap waspada.
Chang Shu dan Eric Zhu dari Bloomberg Economics menekankan pentingnya kebijakan moneter yang lebih proaktif.
"Pelonggaran moneter harus menjadi prioritas utama untuk mencegah deflasi dan mendorong permintaan domestik," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








