Likuiditas Ketat, Ini Rekomendasi Sejumlah Saham Bank Besar di 2025
Hefriday | 2 Februari 2025, 23:04 WIB

AKURAT.CO Likuiditas perbankan di Indonesia diprediksi masih ketat sepanjang tahun 2025. Kondisi ini berdampak pada perbedaan rekomendasi dan target harga saham sejumlah bank besar, termasuk BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI.
Berdasarkan laporan DBS Research Group, pertumbuhan kredit perbankan pada tahun 2024 mencapai 9,1% atau sekitar Rp7.688 triliun, menurut data dari Bank Indonesia (BI).
Angka tersebut masih berada di bawah target BI yang memproyeksikan pertumbuhan kredit 10-12%, meskipun masih dalam rentang proyeksi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memperkirakan pertumbuhan 9-11%.
Ketatnya likuiditas perbankan tercermin dari melambatnya pasokan jumlah uang beredar. Salah satu indikatornya adalah loan to deposit ratio (LDR) yang meningkat akibat pertumbuhan simpanan yang hanya mencapai 3,7% pada Desember 2024.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) tidak mampu mengimbangi ekspansi kredit yang dilakukan oleh perbankan. Hal ini menjadi tantangan bagi bank dalam menjaga keseimbangan antara kredit yang disalurkan dan dana yang tersedia.
Sebagai respons terhadap kondisi likuiditas yang ketat, bunga deposito (time deposit/TD) mengalami kenaikan pada Desember 2024. Data dari DBS mencatat bahwa bunga deposito dengan berbagai tenor mengalami kenaikan 2-29 basis poin (bps).
Secara rinci, suku bunga deposito untuk tenor 1 bulan mencapai 4,87%, 3 bulan sebesar 5,55%, 6 bulan sebesar 5,97%, dan 24 bulan di level 4,32%. Meskipun terjadi peningkatan, pertumbuhan suku bunga deposito masih terbilang lebih lambat dibandingkan dengan kebutuhan likuiditas perbankan.
DBS memproyeksikan bahwa ketatnya likuiditas perbankan akan terus berlanjut di tahun 2025. Hal ini disebabkan oleh tingginya LDR serta penurunan suku bunga yang berjalan lebih lambat.
Dalam situasi ini, bank dengan likuiditas yang lebih kuat memiliki keunggulan dalam mempertahankan pertumbuhan bisnisnya. Oleh karena itu, DBS lebih selektif dalam memberikan rekomendasi investasi bagi saham perbankan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
DBS memilih saham perbankan yang memiliki fundamental kuat dan likuiditas yang cukup. Saham yang mendapatkan rekomendasi "buy" dari DBS adalah PT Bank Jago Tbk (ARTO) dengan target harga Rp3.100 dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan target harga Rp12.000
Di sisi lain, beberapa saham bank lainnya mendapatkan rekomendasi "hold", yaitu PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dengan target harga Rp4.300, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan target harga Rp3.600 dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dengan target harga Rp1.000
Adapun PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mendapatkan rekomendasi "buy" dengan target harga Rp7.000. Di tengah kondisi likuiditas yang masih ketat, investor perlu lebih selektif dalam memilih saham perbankan. Bank dengan fundamental kuat dan rasio likuiditas yang lebih baik berpotensi memberikan keuntungan lebih stabil.
Selain itu, investor juga perlu memantau perkembangan suku bunga, baik dari Bank Indonesia maupun kebijakan masing-masing bank dalam menetapkan suku bunga deposito dan kredit. Hal ini dapat membantu dalam mengantisipasi potensi risiko dan peluang di sektor perbankan.
Selain faktor likuiditas dan suku bunga, ada beberapa faktor eksternal yang bisa mempengaruhi kinerja saham perbankan di 2025, antara lain kebijakan Bank Indonesia (BI) terkait suku bunga acuan dan rasio giro wajib minimum (GWM).
Lalu stabilitas ekonomi global, termasuk kebijakan moneter dari bank sentral negara lain seperti The Federal Reserve (The Fed) serta permintaan kredit dari sektor riil, yang dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi domestik dan daya beli masyarakat.
Meskipun likuiditas masih ketat, prospek saham perbankan tetap menarik dalam jangka panjang, terutama bagi bank yang memiliki strategi pengelolaan risiko yang baik.
Investor yang ingin berinvestasi di sektor ini disarankan untuk mempertimbangkan saham perbankan dengan kinerja keuangan yang solid, serta memantau perkembangan kebijakan moneter yang dapat mempengaruhi industri perbankan secara keseluruhan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










