Akurat
Pemprov Sumsel

Prospek Saham Bank Pelat Merah di Tengah Rencana Buyback

Hefriday | 16 Februari 2025, 15:43 WIB
Prospek Saham Bank Pelat Merah di Tengah Rencana Buyback

AKURAT.CO Tiga bank pelat merah, yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), berencana melakukan pembelian kembali saham (buyback) dalam waktu dekat. 

Langkah ini diambil guna menjaga stabilitas harga saham serta meningkatkan kepercayaan investor terhadap fundamental perusahaan.
 
Berdasarkan keterbukaan informasi dan dikutip dari beberapa sumber, Minggu (16/2/2025), Manajemen BMRI menyatakan akan melakukan buyback saham dengan nilai maksimal Rp1,17 triliun.
 
Rencana ini akan dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dijadwalkan pada 25 Maret 2025. 
 
Manajemen BMRI menegaskan bahwa aksi buyback bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara kondisi pasar dan fundamental perusahaan, serta memberikan keyakinan kepada investor terhadap prospek jangka panjang perseroan.
 
 
Sementara itu, BBNI dan BBRI juga berencana melakukan buyback saham setelah mendapatkan persetujuan dari RUPS masing-masing. BBRI mengalokasikan dana sebesar Rp3 triliun, sedangkan BBNI menyiapkan dana sebesar Rp905 miliar. 
 
Langkah ini diharapkan dapat menstabilkan harga saham mereka yang mengalami tekanan akibat faktor eksternal, termasuk ketidakstabilan geopolitik global dan kondisi makroekonomi domestik.
 
Corporate Secretary BBNI, Okki Rushartomo, menjelaskan bahwa pada 10 bulan pertama 2024, saham BBNI mengalami pertumbuhan positif sejalan dengan peningkatan kinerja fundamental.
 
Namun, tekanan pada saham mulai terasa menjelang akhir tahun, dipicu oleh ketidakpastian ekonomi global serta pelemahan nilai tukar rupiah.
 
Direktur Utama BBRI, Sunarso, menegaskan bahwa pihaknya akan mengajukan usulan buyback dalam RUPS mendatang.
 
Buyback ini dinilai sebagai strategi penting untuk mengurangi tekanan jual di pasar dan memberikan sinyal positif kepada investor bahwa harga saham saat ini masih undervalued.
 
Di tengah rencana buyback ini, kinerja saham ketiga bank pelat merah masih bervariasi. Saham BMRI sempat menguat 1,99% ke level Rp5.125 per lembar pada perdagangan akhir pekan lalu. 
 
Namun, secara year to date (YtD), harga sahamnya sudah terkoreksi 10,09%. Sementara itu, saham BBRI turun 3,26% ke level Rp3.860 per lembar dan mengalami pelemahan 5,39% YtD. 
 
Berbeda dengan dua bank lainnya, saham BBNI justru menguat 2,82% ke level Rp4.370 per lembar dan mencatat kenaikan 0,46% YtD.
 
Buyback saham merupakan strategi yang sering dilakukan emiten untuk meningkatkan stabilitas harga saham dan memperkuat fundamental perusahaan. 
 
Menurut Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, aksi buyback berpotensi meningkatkan kapitalisasi pasar dan menarik minat investor, terutama setelah harga buyback diumumkan dan eksekusi dilakukan.
 
Prospek saham BMRI, BBRI, dan BBNI ke depan dinilai masih positif, terutama dengan adanya potensi penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI).
 
Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2025, BI memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%, yang diharapkan dapat mendukung pertumbuhan sektor perbankan.
 
Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan accumulative buy untuk BMRI dengan target harga Rp6.025 per lembar, sementara saham BBRI direkomendasikan buy on weakness dengan target harga Rp4.860 per lembar.
 
Untuk BBNI, rekomendasi buy on weakness juga diberikan dengan target harga Rp5.850 per lembar.
 
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, menambahkan bahwa buyback saham umumnya menjadi sinyal bahwa perusahaan menilai harga sahamnya masih undervalued.
 
Aksi ini juga diharapkan dapat menopang harga saham serta meningkatkan kepercayaan pasar terhadap fundamental perusahaan.
 
Faktor lain yang dapat memengaruhi pergerakan saham bank pelat merah meliputi kebijakan suku bunga BI, pertumbuhan kredit, serta kondisi ekonomi domestik secara keseluruhan.
 
Langkah buyback yang dilakukan BMRI, BBRI, dan BBNI, investor diharapkan dapat melihat prospek jangka panjang yang lebih menjanjikan di sektor perbankan.
 
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa