Bos BI: Investor Mulai Beralih ke Obligasi dan Emas Imbas Kebijakan Trump
Camelia Rosa | 19 Maret 2025, 17:44 WIB

AKURAT.CO Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengakui bahwa saat ini telah terjadi pergeseran minat investor global ke instrumen obligasi dan emas.
Menurutnya, hal ini sebagai imbas kebijakan tarif impor tinggi yang dilakukan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Perry mengatakan aliran modal global yang semula terkonsentrasi ke AS bergeser sebagian ke komoditas emas dan obligasi di negara maju dan negara berkembang.
"Jadi saya ulangi, terjadi pergeseran investasi portofolio global yang semuanya sebelumnya berbondong-bondong ke Amerika, sekarang mulai juga ada pergeseran untuk obligasi, fixed income securities mulai ada pergeseran ke emerging market sebagian sudah dan juga ke emas," jelasnya dalam konferensi pers Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulan Maret 2025 di Gedung BI, Jakarta, Rabu (19/3/2025).
Sementara, untuk portofolio investasi saham juga masih terkonsentrasi ke negara maju kecuali AS, dan belum masuk ke negara Emerging Market (EM).
Meski diakuinya, penurunan saham tidak hanya terjadi di Amerika Serikat namun juga di regional Asia, namun Perry meyakini bahwa isntrumen-intrumen aset keuangan yang dimiliki Indonesia masih tetap menarik.
"Kami masih percaya instrumen-instrumen aset keuangan Indonesia apakah Surat Berharga Negara (SBN), saham, apakah Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) secara fundamental tetap menarik karena pertumbuhan ekonomi kita tetap tinggi. Perkiraan kami pertumbuhan tetap di 4,7 sampai 5,5 persen," terangnya.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti juga mengungkapkan bahwa investasi saham memang sangat berkaitan dengan sentimen ekonomi di global yang akhirnya mempengaruhi domestik.
Sehingga menurutnya, kebijakan dari Presiden AS Donald Trump juga memberikan dampak terhadap ekonomi secara keseluruhan.
"Sejak awal tahun ini bahkan mungkin menjelang akhir tahun lalu, saham khususnya itu memang mengalami koreksi yang cukup besar. Saham itu memang sangat dekat sekali kaitannya dengan sentimen di ekonomi, baik itu global yang akhirnya mempengaruhi ke domestik. Kita lihat berbagai policy dari Trump akan memberikan dampak terhadap ekonomi secara keseluruhan," tukas Destry.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









