Akurat
Pemprov Sumsel

IHSG Sempat Anjlok, Misbakhun: Komunikasi KSSK ke Pasar Harus Diperbaiki

Hefriday | 21 Maret 2025, 19:47 WIB
IHSG Sempat Anjlok, Misbakhun: Komunikasi KSSK ke Pasar Harus Diperbaiki

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat dalam beberapa hari terakhir, bahkan sempat turun hingga 6%.

Kondisi ini dinilai sebagai imbas dari komunikasi yang kurang jelas antara pemerintah dan otoritas keuangan dengan para pelaku pasar. 

Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun pun mendesak Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk segera memperbaiki cara mereka berkomunikasi demi menjaga kepercayaan investor.
 
"Komunikasi ini memang harus diperbaiki. Saya hadir di sini untuk membantu komunikasi kepada pasar," ujar Misbakhun dalam Capital Market Forum 2025 di Jakarta, Jumat (21/3/2025).
 
Ia menegaskan bahwa tanpa komunikasi yang jelas dan transparan, pasar bisa dengan mudah terseret dalam spekulasi dan rumor yang memperburuk sentimen.
 
 
Hal ini terbukti dengan pelemahan IHSG baru-baru ini yang lebih banyak dipicu oleh ketidakpastian, bukan fundamental ekonomi yang sesungguhnya.
 
Menurut Misbakhun, pasar keuangan yang matang seharusnya bergerak berdasarkan data dan kondisi ekonomi yang nyata, bukan sekadar rumor atau sentimen negatif.
 
Sayangnya, pola komunikasi yang tidak terkoordinasi justru menciptakan ketidakpastian di kalangan investor.
 
"Pasar yang makin lama makin dewasa seharusnya bergerak berdasarkan fundamental, bukan rumor dan sentimen semata. Ini tantangan bagi kita semua, apakah kita cukup dewasa dalam merespons situasi?" ujarnya.
 
Ia pun meminta KSSK, yang terdiri dari Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK), untuk lebih terbuka dalam menyampaikan kebijakan ekonomi dan fiskal.
 
Dengan begitu, pelaku pasar bisa memahami situasi dengan lebih baik dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang simpang siur.
 
Salah satu rumor yang paling mengguncang pasar adalah isu pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Jika benar terjadi, hal ini berpotensi mengurangi kepercayaan investor terhadap kemampuan pemerintah dalam menjaga stabilitas fiskal.
 
Sri Mulyani selama ini dikenal sebagai figur yang disegani dalam pengelolaan keuangan negara. Mundurnya sosok penting seperti dia bisa memicu reaksi berantai di pasar, mulai dari kejatuhan nilai tukar rupiah hingga penurunan minat investor terhadap aset di Indonesia.
 
Melihat kondisi ini, Misbakhun menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa membiarkan pasar terus dalam ketidakpastian.
 
Ia mendorong KSSK untuk segera mengambil langkah konkret dalam menenangkan investor, salah satunya dengan memberikan informasi yang lebih jelas dan transparan mengenai arah kebijakan ekonomi ke depan.
 
"Kita tidak bisa membiarkan pasar terus dalam situasi ini. Komunikasi harus diperbaiki, langkah-langkah konkret harus diambil," tegasnya.
 
Senada Head of Research & Chief Economist Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto, menyoroti bahwa penurunan IHSG tak hanya dipicu oleh komunikasi yang lemah, tetapi juga oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik yang membuat investor semakin ragu.
 
Dari sisi eksternal, kebijakan tarif dagang Amerika Serikat terhadap mitra dagangnya memberi tekanan tersendiri, meski bukan faktor utama. Sementara itu, keputusan bank sentral AS, The Fed, terkait kebijakan suku bunga juga menjadi perhatian besar bagi pasar global.
 
Namun, faktor domestik justru lebih dominan dalam menekan IHSG. Rully menyebut bahwa pasar saham Indonesia masih mengalami capital outflow yang cukup besar, menandakan kepercayaan investor asing terhadap ekonomi nasional sedang melemah.
 
Selain arus modal keluar, beberapa kebijakan pemerintah belakangan ini juga disebut memperburuk sentimen pasar. Misalnya, pemangkasan anggaran, pembentukan Danantara, serta pendirian Koperasi Merah Putih yang melibatkan bank-bank BUMN.
 
"Ditambah lagi berbagai kebijakan justru menimbulkan kecemasan. Ini yang membuat pelaku pasar semakin waspada," ujar Rully.
 
Kebijakan-kebijakan tersebut dianggap belum memiliki kejelasan yang cukup, sehingga menimbulkan banyak spekulasi di kalangan investor. Alih-alih meningkatkan kepercayaan, langkah-langkah tersebut justru membuat pasar semakin ragu akan stabilitas ekonomi ke depan.
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa