Sederet Ketakutan Eksekutif Sektor Keuangan pada Tarif Trump

AKURAT.CO Keputusan Presiden Donald Trump untuk menerapkan tarif besar-besaran pada berbagai barang impor ternyata tidak cuma mengguncang meja-meja rapat di Gedung Putih, tapi juga bikin deg-degan pasar keuangan dunia.
Efeknya langsung terasa, terutama di Wall Street, yang mencatat lonjakan kecemasan tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Dalam dua hari, nilai pasar saham global menyusut hingga triliunan dolar.
Saham-saham AS anjlok lebih dari 10%, sementara Nasdaq Composite resmi masuk ke zona bear market sebuah istilah untuk kondisi ketika indeks saham turun lebih dari 20% dari puncaknya.
Dikutip dari Reuters, Sabtu (5/4/2025), kepanikan ini muncul setelah China membalas dengan tarif balasan untuk semua produk asal AS, memicu kekhawatiran bahwa perang dagang global bakal makin panjang dan sengit.
Baca Juga: IBC Usulkan 4 Langkah Hadapi Tarif Trump
Tak heran, pelaku pasar dan eksekutif keuangan pun langsung bereaksi keras. “Oh my God, terrible!” celetuk salah satu eksekutif industri yang enggan disebut namanya.
Seorang eksekutif senior lainnya menyebut situasi ini sebagai “shellshock” bagi dunia bisnis yang lagi-lagi harus memikirkan ulang arah strategi mereka.
Mereka tak hanya memikirkan angka keuntungan, tapi mulai khawatir soal keberlangsungan ekonomi secara keseluruhan.
Indeks Volatilitas Cboe (VIX), yang jadi barometer rasa takut investor, melonjak ke angka 45,31, tertinggi sejak April 2020.
Menurut Manajer portofolio dari Rational Equity Armor Fund, Joe Tigay, angka segitu udah masuk kategori ngeri-ngeri sedap.
“VIX di angka 40 jelas tanda ketakutan. Biasanya angka segitu muncul kalau ada krisis yang lebih dari sekadar jualan panik, mungkin ada risiko kredit atau potensi efek domino ke instrumen lainnya,” katanya.
Pasar pun makin waspada. Dengan S&P 500 turun hampir 14% sepanjang tahun, investor memantau ketat VIX sebagai indikator seberapa genting kondisi pasar.
“Ketidakpastian soal tarif bakal terus mengguncang pasar ke depan,” kata Kepala struktur pasar di Liquidnet. Jeff O’Connor.
Saking parahnya, penurunan S&P 500 yang mencapai 6% di hari Jumat hampir menyentuh batas circuit breaker 7%, yang kalau dilewati akan menghentikan perdagangan selama 15 menit. Tujuannya sederhana: mencegah kepanikan lebih lanjut.
Pemerintahan Trump sendiri mencoba tenang. Mereka menyebut kondisi ini sebagai bentuk penyesuaian jangka pendek yang nantinya akan berdampak baik dalam jangka panjang.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, bahkan mengaitkan penurunan ini dengan munculnya alat kecerdasan buatan asal Tiongkok bernama DeepSeek, yang sempat bikin heboh awal tahun.
Tapi kenyataannya, pasar saham dari yang gede sampai yang kecil ikut berdarah. Bahkan indeks yang mengukur korelasi antar saham mencatat level tertinggi dalam dua tahun. Artinya, semua saham kompak turun bersama dan ini bukan sinyal baik.
Efek ketakutan juga menjalar ke pasar mata uang. Volatilitas euro untuk kontrak satu bulan naik ke level tertinggi dalam dua tahun, yaitu 10,45. Nilai euro sendiri melemah sekitar 1% terhadap dolar AS.
Di sisi lain, dolar AS juga loyo, jatuh ke posisi terendah dalam enam bulan terhadap sekeranjang mata uang lainnya karena pasar dibombardir berita soal tarif dan balasan tarif dari negara lain.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










