Trump Klaim Tarif Impor Bisa Biayai Pemangkasan Pajak Penghasilan

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali menegaskan bahwa kebijakan tarif impor besar-besaran yang diberlakukannya dapat menjadi sumber pendanaan untuk menurunkan pajak penghasilan warga berpenghasilan di bawah USD200.000 (sekitar Rp3,3 miliar) per tahun.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan, ketika tarif diberlakukan, pajak penghasilan banyak orang akan berkurang secara signifikan, bahkan mungkin dihapus sepenuhnya.
Namun, pernyataan tersebut sontak menuai kritik tajam dari kalangan ekonom. Dimana mereka mempertanyakan validitas klaim Trump, mengingat beban tarif pada akhirnya seringkali dibebankan kepada konsumen dalam bentuk harga barang yang lebih mahal, bukan menghasilkan sumber pendapatan langsung yang stabil.
Baca Juga: Tarif Tinggi Trump Ancam Ekonomi AS, Potensi Resesi Membayangi
Selain itu, kebijakan tarif Trump memicu kekhawatiran baru di pasar keuangan. Harga konsumen diprediksi melonjak, meningkatkan risiko inflasi, sekaligus memperburuk daya beli masyarakat. Para analis juga memperingatkan potensi resesi jika ketidakpastian ini terus berlanjut.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent berupaya meredam kekhawatiran tersebut. Dalam wawancara di ABC, dirinya menyatakan bahwa volatilitas pasar bersifat sementara.
“Pasar obligasi pemerintah AS tetap yang paling aman di dunia,” ujarnya.
Namun, hasil jajak pendapat CBS News yang dirilis hari yang sama menunjukkan 69% warga AS merasa pemerintahan Trump gagal fokus menurunkan harga-harga. Tingkat kepuasan terhadap kinerja ekonomi Trump anjlok menjadi 42% dari 51% pada awal Maret.
Trump tetap melanjutkan agendanya dengan rencana memperpanjang pemangkasan pajak penghasilan yang sempat disahkan pada 2017 dan berakhir akhir tahun ini. Ia juga mengusulkan berbagai keringanan baru, seperti membebaskan pajak atas tip pekerja dan penghasilan dari Jaminan Sosial, serta memangkas tarif pajak korporasi dari 21% menjadi 15%.
Baca Juga: Tarif Tinggi Trump Ancam Ekonomi AS, Potensi Resesi Membayangi
Sementara itu, Trump juga tengah mengupayakan perjanjian dagang bilateral dengan 17 mitra dagang utama, tanpa melibatkan China. Langkah ini dilakukan setelah memberlakukan tarif timbal balik pada awal April.
Meskipun Menteri Keuangan optimistis bahwa pendekatan ini akan memperkuat posisi AS, banyak pihak mengingatkan bahwa ketidakpastian dagang justru bisa memperburuk tekanan ekonomi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







