Akurat
Pemprov Sumsel

OJK Perkuat Koordinasi Jaga Stabilitas Pasar Modal di Tengah Tekanan Global

Hefriday | 2 Juni 2025, 15:00 WIB
OJK Perkuat Koordinasi Jaga Stabilitas Pasar Modal di Tengah Tekanan Global

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas pasar modal nasional di tengah tekanan eksternal yang meningkat.

OJK memperkuat koordinasi lintas lembaga guna menghadapi gejolak pasar akibat perlambatan ekonomi kuartal I 2025 dan kebijakan penahanan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed).

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan, Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, mengatakan pihaknya secara aktif berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Baca Juga: OJK: 36 Emiten Buyback Saham Tanpa RUPS, Dana Capai Rp17,43 Triliun

Koordinasi dilakukan melalui forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) bersama Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), serta dengan Self Regulatory Organization (SRO) dan pelaku pasar.

“Langkah ini kami ambil untuk menjaga kepercayaan investor dan memastikan pasar tetap resilient dalam menghadapi dinamika global,” ujar Inarno dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Senin (2/6/2025).

OJK turut menekankan pentingnya transparansi informasi bagi investor, agar pengambilan keputusan investasi dilakukan secara bijak dan berbasis data yang akurat.

Menurut Inarno, informasi yang memadai adalah bagian penting dalam menjaga ekosistem pasar modal yang sehat dan berkelanjutan.

Dalam konteks kebijakan moneter, OJK mendukung langkah Bank Indonesia yang menurunkan suku bunga acuan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2025. Kebijakan ini dinilai selaras dengan upaya menjaga stabilitas sistem keuangan nasional di tengah tekanan eksternal.

Baca Juga: OJK dan Bank DKI Kolaborasi Wujudkan Pulau Seribu Jadi Digital Island

Sementara itu, keputusan The Fed untuk menahan suku bunga di kisaran 4,25–4,5% turut mempengaruhi arus modal global.

Sentimen investor global yang masih cenderung berhati-hati menyebabkan terjadinya pengalihan dana ke instrumen investasi yang dianggap lebih aman atau safe haven, seperti obligasi pemerintah AS.

OJK mencermati bahwa pasar modal Indonesia sejauh ini masih mampu menunjukkan ketahanan di tengah tekanan global. Likuiditas pasar relatif terjaga, dengan kontribusi signifikan dari investor domestik, khususnya investor ritel yang terus tumbuh dalam beberapa tahun terakhir.

Meski demikian, OJK tidak menampik bahwa volatilitas pasar terus meningkat. Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China, serta ketidakpastian kebijakan tarif dan geopolitik global, menjadi faktor dominan yang menyebabkan tekanan terhadap arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Situasi risk-off global ini menyebabkan investor global lebih memilih untuk menempatkan dananya pada aset yang dianggap lebih stabil. Ini berdampak langsung pada pasar keuangan negara-negara emerging market,” jelas Inarno.

Sedangkan dari sisi lainnya, perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik turut menjadi perhatian. Pada kuartal I 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 4,87% secara tahunan (year-on-year), melambat dibandingkan capaian 5,02% pada kuartal IV 2024. Kondisi ini menunjukkan pentingnya sinergi kebijakan untuk mendorong pemulihan ekonomi yang lebih solid.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi