AKURAT.CO Harga emas dunia kembali menunjukkan tren penguatan yang signifikan. Dalam perdagangan terbaru, logam mulia tersebut telah menembus level USD3.360 per ounce (oz) dan diprediksi bisa mencapai USD3.400 per ounce dalam waktu dekat.
Menurut pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, lonjakan ini bukan tanpa sebab. Dirinya menjelaskan bahwa penguatan harga emas ini didorong oleh tiga faktor utama yang berasal dari dinamika geopolitik dan kebijakan ekonomi global.
Faktor pertama, eskalasi konflik antara Rusia dan Ukraina yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Ketegangan yang terus membara menyebabkan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa, menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Rusia. Sanksi tersebut memicu ketidakpastian global dan mendorong investor untuk mencari aset lindung nilai seperti emas.
Faktor kedua yang tak kalah penting adalah memanasnya kembali hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China. Pemerintahan Amerika di bawah kebijakan tarif baru menaikkan biaya impor baja dan aluminium hingga 50%.
“Langkah ini memicu reaksi keras dari sejumlah negara, seperti China, Australia, Selandia Baru, hingga negara-negara Eropa yang menjadi eksportir utama komoditas tersebut,” kata Ibrahim.
Faktor ketiga berasal dari kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat. Gubernur Federal Reserve, Christopher Waller, mengindikasikan adanya kemungkinan penurunan suku bunga pada akhir tahun. Hal ini seiring dengan terus menurunnya angka inflasi Amerika dari bulan ke bulan.
Meskipun demikian, kebijakan tersebut masih bersifat tentatif dan sangat bergantung pada perkembangan lanjutan dari tarif impor.
Dari sisi lain, indeks dolar Amerika atau DXY mengalami tekanan yang signifikan. Saat ini, indeks dolar berada di level 98,80, dan berpotensi turun lebih lanjut ke angka 98. Melemahnya dolar AS biasanya berbanding lurus dengan menguatnya harga emas, karena membuat emas lebih murah bagi investor dengan mata uang lain.
Dengan kombinasi tiga faktor ini ketegangan geopolitik, perang dagang, dan kebijakan moneter longgar pasar komoditas logam mulia diprediksi akan tetap dalam tren bullish. Namun, Ibrahim juga mengingatkan agar investor tetap waspada terhadap fluktuasi pasar dan tidak berspekulasi tanpa dasar analisis yang kuat.
“Kondisi pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh dinamika global. Bagi masyarakat atau investor ritel di Indonesia yang tertarik berinvestasi emas, penting untuk memahami konteks global yang memengaruhi pergerakan harganya,” tukas Ibrahim.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









