Investor Waspada, Strategi DCA Jadi Pilihan di Tengah Sentimen Tarif AS

AKURAT.CO Data inflasi Amerika Serikat yang dirilis Rabu (12/6/2025) lalu menunjukkan kenaikan sebesar 0,1% pada Mei 2025, lebih rendah dari perkiraan pasar.
Namun, sentimen pasar tidak serta-merta positif. Pasalnya, pernyataan terbaru Presiden Donald Trump tentang rencana tarif baru kembali memunculkan kekhawatiran akan meningkatnya tekanan inflasi jangka menengah.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran investor, baik di pasar saham maupun aset kripto. Indeks-indeks utama Wall Street mencatat pelemahan minor, sedangkan aset digital seperti Bitcoin dan Ethereum masing-masing melemah 1,60% dan 1,32%.
“Pasar tampaknya lebih fokus pada kemungkinan naiknya inflasi beberapa bulan mendatang, akibat kebijakan tarif yang direncanakan,” ucap Analis Reku, Fahmi Almuttaqin.
Lebih lanjut dirinya menambahkan, efek tarif masih belum terasa sepenuhnya karena peritel masih menjual barang sebelum aturan berlaku.
Baca Juga: UMKM AS Kian Terjepit, Tarif Trump Dinilai Ancam Stabilitas Ekonomi Lokal
Menyikapi kondisi ini, investor cenderung mengedepankan strategi akumulasi untuk mengurangi dampak volatilitas pasar. Strategi Dollar Cost Averaging (DCA), yakni pembelian aset secara bertahap dalam interval waktu tertentu, kembali menjadi sorotan.
“DCA bisa jadi solusi untuk investor yang ingin tetap masuk pasar di tengah ketidakpastian,” kata Fahmi. Ia juga menyebutkan pentingnya diversifikasi aset, baik di saham maupun kripto.
“Fitur seperti Packs di aplikasi Reku bisa dimanfaatkan untuk diversifikasi otomatis ke aset blue chip dan ETF saham AS secara praktis,” jelasnya.
Fahmi juga menekankan bahwa meskipun inflasi bulanan masih terkendali, risiko tetap ada. “Pelemahan pasar kripto hari ini menggambarkan bagaimana sentimen negatif dari tarif membatasi respons positif terhadap data inflasi yang cukup baik,” ujarnya.
Baca Juga: Trump Desak Ganti Gubernur The Fed, Independensi Bank Sentral Dipertanyakan
Dengan The Fed diperkirakan masih mempertahankan suku bunga pekan depan, perhatian investor kini tertuju pada perkembangan kebijakan tarif dan hasil negosiasi dagang AS dengan China yang akan sangat menentukan arah pasar ke depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








