Kuartal lll-2025 Penuh Tantangan, DBS Bagikan Strategi Investasi

AKURAT.CO Realita fiskal pemerintah AS di bawah komando Presiden Trump di 100 hari pertamanya cukup mengguncang pasar global.
Hal ini utamanya menyusul ambiguitas kebijakan tarof dagang yang tetap menjadi ciri utama yang meningkatkan premi risiko atas aset keuangan AS.
Melihat dinamika ini, Chief Investment Officer (CIO) Bank DBS, Hou Wey Fook mendorong perubahan pada strategi portofolio utama.
DBS mempertahankan sikap netral terhadap saham, namun tetap telusuri perbedaan kinerja antar sektor dan wilayah; tetap percaya diri pada sektor teknologi AS sementara sektor jasa mengungguli sektor barang.
DBS juga menurunkan peringkat obligasi pemerintah negara maju (DM) menjadi netral karena kekhawatiran fiskal dan inflasi yang membandel; gunakan pendekatan duration barbell dalam kredit.
Baca Juga: HSBC Rombak Strategi Investasi, Fokus ke Sektor Potensial Berbasis Asia
Kemudian, DBS memberikan overweight pada aset alternatif, khususnya emas (target USD 3.765/ons pada 4Q25) dan aset privat penghasil pendapatan.
"Tiga tema utama yang akan mendominasi di kuartal ini yakni deeskalasi pragmatis ketegangan tarif, perbedaan kinerja saham, dan tekanan fiskal yang berdampak negatif terhadap obligasi pemerintah dan dolar, tetapi positif untuk emas," ujar Hou, Senin (7/7/2025).
Deeskalasi mendadak dalam ketegangan AS-China mengejutkan pasar, didorong oleh pragmatisme, karena tarif 145% pada dasarnya merupakan embargo dagang yang merugikan kedua pihak.
Dengan USD 7,8 triliun utang AS yang harus dibiayai ulang tahun ini dan angka jajak pendapat domestik yang menurun, pendekatan progresif Trump mencerminkan upaya mereposisi Partai Republik sebagai partai kelas pekerja menjelang pemilu sela 2026.
Di sisi lain ,hubungan terbalik tradisional antara emas dan imbal hasil obligasi telah rusak sejak “Hari Pembebasan,” mencerminkan dinamika baru seputar keberlanjutan fiskal dan de-dolarisasi.
Permintaan emas dari bank sentral mencapai 1.045 ton pada 2024 (121% di atas rata-rata historis 2010–2021), mengindikasikan diversifikasi berkelanjutan dari aset keuangan AS.
Pelemahan dolar sebesar -9,7% YTD meskipun imbal hasil Treasury melonjak mencerminkan keraguan yang meningkat terhadap status dolar sebagai mata uang cadangan dunia.
"Kesimpulannya, pemborosan fiskal AS dan ambiguitas kebijakan meningkatkan premi risiko atas aset keuangan," ujar Hou lagi.
Meskipun pragmatisme akan mendasari deeskalasi tarif, diharapkan terjadi perbedaan signifikan dalam kinerja saham, dengan sektor teknologi dan jasa mengungguli.
mempertahankan strategi defensif dengan overweight pada aset alternatif — khususnya emas dan aset privat penghasil pendapatan — untuk ketahanan portofolio di era peralihan global dari dominasi aset keuangan AS.
Imbauan Taktis
1. Lintas Aset: Obligasi Tetap Menarik
Pertahankan preferensi terhadap obligasi dibandingkan saham dalam konteks stagflasi (stagflation).
Momentum manufaktur AS melambat sejak awal tahun, sementara kejutan ekonomi mengecewakan seiring ketidakpastian perang dagang yang mengikis kepercayaan bisnis dan menghambat belanja modal.
Uniknya, perlambatan pertumbuhan ini berbarengan dengan risiko inflasi yang meningkat akibat gangguan rantai pasok, ketatnya pasar tenaga kerja, dan pertumbuhan suplai uang, dengan banyak perusahaan yang sudah melaporkan lonjakan biaya input.
Proyeksi laba AS direvisi turun sedikit, menunjukkan asumsi analis tentang deeskalasi perang dagang, dengan tren serupa terjadi di Eropa dan Jepang.
Asia (di luar Jepang) justru menunjukkan kekuatan dengan proyeksi pertumbuhan laba 2025 sebesar 12,4% (vs 6,6% untuk DM).
2. Saham: Pertahankan keyakinan Teknologi AS; Tambah bobot di Eropa
Mengingat ketidakpastian tarif yang masih berlangsung, alokasi negara menghadapi hasil biner tergantung pada negosiasi kesepakatan dagang pada bulan Juli.
DBS mempertahankan asumsi dasar terkait de eskalasi pragmatis antara China dan Eropa.
Di antara negara maju, DBS CIO mempertahankan posisi pengurangan bobot kecil (slight underweight) pada saham AS karena proyeksi laba konsensus masih sangat optimistis (11% vs 7% untuk DM) dan pelemahan dolar mendorong diversifikasi portofolio.
Namun, panduan kuat dari Nvidia memperkuat ketahanan industri AI, dengan momentum teknologi diperkirakan mampu mengimbangi kelemahan sektor non-teknologi AS.
Pertahankan overweight di Eropa karena kekhawatiran atas keberlanjutan fiskal AS yang mendorong pergeseran alokasi serta belanja pertahanan yang meningkat.
Asia ex-Japan tetap menarik sebagai deep value play dengan diskon 33% terhadap DM dan pertumbuhan laba yang kuat.
3. Obligasi: Pendekatan Duration Barbell di Tengah Kekhawatiran Fiskal & Inflasi
Perhatian pasar bergeser ke keberlanjutan fiskal seiring meningkatnya imbal hasil jangka panjang akibat ketidakseimbangan permintaan-penawaran.
Kenaikan tajam pada Treasury dan JGB tenor panjang mencerminkan inflasi yang membandel akibat ketidakpastian tarif, ketatnya pasar tenaga kerja, dan pertumbuhan suplai uang.
DBS menurunkan peringkat obligasi pemerintah DM menjadi Netral baik untuk jangka 3 bulan maupun 12 bulan karena ekspektasi imbal hasil jangka panjang yang lebih tinggi dan kurva yang makin curam.
Dalam instrumen obligasi, tetap fokus pada kualitas di level A/BBB dan gunakan strategi duration barbell dengan eksposur 2-3 tahun dan 7-10 tahun peringkat investasi.
Strategi Liquid+ 2-3 tahun oleh DBS tetap ideal untuk kondisi stagflasi. DBS kurang yakin terhadap high yield (HY) karena risiko pelebaran spread.
4. Aset Alternatif – Overweight Emas (Target USD 3.765/ons); Cari Peluang di Aset Privat Fixed Income
Emas diuntungkan pada skenario apapun dalam masa Trump 2.0. Di satu sisi, pemotongan pajak dan deregulasi hanya akan memperparah kekhawatiran jangka panjang terhadap pelemahan moneter di AS.
Di sisi lain, kebijakan tarif dan kejutan kebijakan akan mendorong imbal hasil obligasi lebih rendah dan mendorong investor beralih ke aset aman seperti emas.
Untuk aset privat, DBS menyarankan investor mencari peluang pada middle market buyouts dan growth private equity.
Perusahaan skala menengah memiliki valuasi pembelian lebih rendah, memberikan potensi kenaikan nilai lebih besar di masa depan. Selain itu, kebutuhan leverage yang lebih rendah di sektor ini cocok dalam lingkungan suku bunga tinggi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










