Tarif AS Sudah Masuk Perhitungan RAPBN 2026, Pemerintah Optimistis Ekonomi Bangkit

AKURAT.CO Pemerintah mengonfirmasi bahwa kebijakan fiskal dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 telah disusun dengan memperhitungkan pengenaan tarif 19% oleh Amerika Serikat terhadap sejumlah komoditas asal Indonesia.
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu menjelaskan, pemerintah mengikuti secara cermat perkembangan geopolitik dan perdagangan global untuk menjaga ketahanan ekonomi domestik.
“Dalam pembahasan RAPBN, kami memperhitungkan faktor eksternal seperti tarif dari AS. Itu sudah dimasukkan dalam asumsi dan strategi anggaran,” ujar Febrio usai rapat bersama DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (24/7/2025).
Baca Juga: RAPBN 2026 Sudah Antisipasi Tarif 19 Persen AS, Pemerintah Klaim Negosiasi Berhasil
Pemerintah memandang bahwa tekanan eksternal harus dijadikan momentum untuk memperkuat basis industri dalam negeri. Menurut Febrio, pengenaan tarif tidak selalu berdampak negatif jika direspons dengan strategi hilirisasi dan perluasan pasar ekspor.
Sebagai bagian dari proyeksi kebijakan fiskal, pemerintah mematok pertumbuhan ekonomi pada rentang 5,2–5,8% untuk 2026. Nilai tukar rupiah diperkirakan berada antara Rp16.500–Rp16.900 per dolar AS, sementara inflasi dijaga di level 1,5–3,5%.
Langkah ini didukung dengan asumsi lifting minyak sebanyak 620 ribu barel per hari dan lifting gas sebesar 1 juta barel setara minyak per hari, sebagai bagian dari strategi menjaga pendapatan negara dari sektor migas.
Lebih lanjut Febrio menegaskan bahwa belanja APBN yang efisien dan tepat sasaran sangatlah penting di situasi saat ini, sebagai respons terhadap tantangan eksternal.
"Tentunya hal tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo dalam Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 mengenai efisiensi belanja pemerintah pusat dan daerah," ucapnya kembali.
Baca Juga: Indef Sebut Industri TPT dan Alas Kaki Paling Terpukul Tarif Trump
Dengan berbagai strategi yang disiapkan, tegasnya, pemerintah optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua 2025 dan sepanjang tahun 2026 akan kembali menguat, sekaligus menjaga daya tahan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







