Stimulus Bank Sentral China Jadi Angin Segar Pasar Kripto

AKURAT.CO Pasar aset kripto kembali menjadi sorotan setelah muncul kabar Bank Sentral Cina atau People’s Bank of China (PBOC) sedang mempertimbangkan langkah-langkah stimulus untuk mengatasi perlambatan ekonomi domestik.
Kabar ini dianggap sebagai titik kritis bagi investor kripto global, mengingat peran besar Cina dalam perekonomian dunia.
Apabila Beijing benar-benar menyuntikkan likuiditas ke sistem keuangan, altcoin bisa terdorong mengalami reli signifikan.
Bahkan, tidak sedikit yang percaya bahwa kebijakan ekspansif tersebut dapat membawa harga altcoin melampaui rekor tertinggi yang pernah dicapai sebelumnya.
Selama ini, perhatian pasar lebih sering tertuju pada kebijakan moneter Amerika Serikat melalui The Federal Reserve.
Baca Juga: Pasar Kripto Terkoreksi Tipis, Ulah Whale?
Namun, laporan 21Shares pada Maret 2025 menegaskan bahwa keputusan PBOC juga punya pengaruh besar.
Dikutip dari laman Crypto, Sennin (18/8/2025), analisis Porkopolis Economics, saat ini basis moneter M0 Amerika Serikat berada di angka USD5,8 triliun, diikuti zona euro sebesar USD5,4 triliun, Cina sebesar USD5,2 triliun, dan Jepang sebesar USD4,4 triliun.
Data ekonomi terbaru dari Cina menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Pada Juli 2025, penjualan ritel turun tipis 0,1% dibanding bulan sebelumnya, sementara investasi aset tetap merosot 5,3% secara tahunan.
Tekanan juga terlihat di pasar tenaga kerja. Tingkat pengangguran perkotaan meningkat menjadi 5,2% pada Juli, naik dari 5,0% di bulan sebelumnya.
Dalam praktiknya, stimulus bank sentral biasanya diberikan melalui pemangkasan suku bunga atau penyediaan fasilitas pembiayaan khusus. Kebijakan semacam ini memperbesar pasokan uang dan membuat likuiditas lebih mudah diakses.
Dari sisi lain, kondisi pasar Amerika Serikat juga memberi konteks tambahan. Meski kekhawatiran akan resesi semakin meningkat, pasar ekuitas masih menunjukkan ketangguhan.
Bagi pasar kripto, kombinasi faktor global ini, yakni stimulus potensial dari Cina, ekuitas AS yang kuat, dan imbal hasil obligasi yang stabil, menciptakan ekosistem yang kondusif bagi kebangkitan altcoin.
Meski begitu, jalan altcoin tidak sepenuhnya mulus. Cina memang pernah menjadi pusat ekosistem kripto global sebelum pemerintah menekan industri tersebut pada 2017.
Sejumlah ketidakpastian tetap membayangi. Risiko resesi global, ketegangan geopolitik, serta dinamika regulasi di berbagai yurisdiksi bisa menjadi faktor penghambat reli altcoin. Selain itu, efektivitas stimulus PBOC juga sangat bergantung pada skala dan keberlanjutan kebijakan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









