Purbaya Kaji Penyaluran Likuiditas Rp275 Triliun ke BPD, Bank DKI dan Bank Jatim Siap Serap
Hefriday | 8 Oktober 2025, 17:22 WIB

AKURAT.CO Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan komitmennya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata di seluruh Indonesia melalui optimalisasi penempatan dana pemerintah di bank pembangunan daerah (BPD).
Langkah ini disebut sebagai salah satu pendekatan baru pemerintah dalam mempercepat sirkulasi ekonomi daerah tanpa menimbulkan risiko tinggi terhadap stabilitas fiskal.
Purbaya mengungkapkan bahwa saat ini pemerintah memiliki dana tunai menganggur mencapai Rp275 triliun. Dana tersebut akan ditempatkan secara selektif di sejumlah bank daerah yang dinilai memiliki kapasitas dan manajemen risiko yang kuat.
“Saya lagi diskusi dengan mereka, mereka bisa terima berapa. Kalau nggak bisa ya sudah, tapi DKI dan Bank Jatim kelihatannya siap,” ujarnya di Jakarta, Rabu (8/9/2025).
Menurutnya, keputusan untuk menyalurkan dana ke bank daerah dilakukan dengan pendekatan hati-hati. Pemerintah ingin memastikan dana yang ditempatkan benar-benar mampu mendukung pembiayaan produktif, terutama sektor-sektor yang mendorong pertumbuhan ekonomi lokal seperti UMKM, infrastruktur, dan ketahanan pangan.
Menurutnya, keputusan untuk menyalurkan dana ke bank daerah dilakukan dengan pendekatan hati-hati. Pemerintah ingin memastikan dana yang ditempatkan benar-benar mampu mendukung pembiayaan produktif, terutama sektor-sektor yang mendorong pertumbuhan ekonomi lokal seperti UMKM, infrastruktur, dan ketahanan pangan.
Langkah ini sekaligus menjadi strategi untuk menekan ketimpangan antara pusat dan daerah. Dengan penempatan dana di bank daerah, diharapkan perputaran uang di wilayah-wilayah penyangga ekonomi nasional meningkat, menciptakan efek berganda bagi masyarakat setempat.
“Kalau saya masukin ke Bank Jatim, harusnya cepat ke bank lain di daerah lain. Kita akan ciptakan pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih merata,” tambahnya.
Purbaya menekankan bahwa pemerintah tidak akan memaksa bank daerah menerima dana dalam jumlah besar jika tidak siap. Pendekatan ini berbeda dengan pola sebelumnya yang lebih bersifat top-down.
Purbaya menekankan bahwa pemerintah tidak akan memaksa bank daerah menerima dana dalam jumlah besar jika tidak siap. Pendekatan ini berbeda dengan pola sebelumnya yang lebih bersifat top-down.
“Kalau bank-nya nggak sebesar BUMN, saya nggak akan paksa. Tapi kalau siap, langsung kita dorong agar uangnya bekerja di daerah,” jelasnya.
Ekonom menilai kebijakan tersebut berpotensi memperkuat likuiditas perbankan daerah. Dengan tambahan dana, bank daerah bisa memperluas penyaluran kredit produktif, khususnya untuk usaha kecil dan menengah yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal.
Selain memperkuat ekonomi daerah, langkah ini juga dianggap sebagai bagian dari upaya reformasi fiskal pemerintah dalam mempercepat realisasi anggaran. Dengan menempatkan dana idle (menganggur) di bank daerah, uang negara bisa berputar lebih cepat tanpa menunggu belanja kementerian atau lembaga.
Ekonom menilai kebijakan tersebut berpotensi memperkuat likuiditas perbankan daerah. Dengan tambahan dana, bank daerah bisa memperluas penyaluran kredit produktif, khususnya untuk usaha kecil dan menengah yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal.
Selain memperkuat ekonomi daerah, langkah ini juga dianggap sebagai bagian dari upaya reformasi fiskal pemerintah dalam mempercepat realisasi anggaran. Dengan menempatkan dana idle (menganggur) di bank daerah, uang negara bisa berputar lebih cepat tanpa menunggu belanja kementerian atau lembaga.
Namun, pemerintah juga menyiapkan langkah mitigasi risiko. Jika dana yang ditempatkan tidak dimanfaatkan secara efektif atau berisiko, maka penarikan akan segera dilakukan. “Kalau uangnya hilang, saya potong aja. Uangnya ada dan akan selesai,” tegas Purbaya.
Langkah tersebut mendapat dukungan dari sejumlah kepala daerah yang melihat potensi multiplier effect terhadap perekonomian lokal. Dengan tambahan likuiditas, daerah diharapkan dapat memperkuat perannya dalam pertumbuhan nasional.
Purbaya optimistis strategi ini dapat membantu mempercepat pemulihan ekonomi di kuartal IV-2025 dan menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5%.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 8Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






