Persimpangan Pasar Kripto: Bitcoin Tertekan, Ethereum Bakal Pulih?
Hefriday | 30 Oktober 2025, 20:27 WIB

AKURAT.CO Pasar aset kripto kembali menunjukkan dinamika menarik menjelang akhir Oktober 2025.
Dua mata uang digital terbesar di dunia, Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH), kini berada di titik krusial yang dapat menentukan arah pergerakan pasar dalam beberapa minggu mendatang.
Meskipun keduanya sama-sama mengalami tekanan, sinyal pemulihan mulai terlihat, terutama pada Ethereum yang berusaha merebut kembali zona penting di atas USD4.200.
Dikutip dari berebagai sumber, Kamis (30/10/2025) dalam beberapa hari terakhir, volatilitas di pasar kripto meningkat tajam.
Berdasarkan data perdagangan terkini, harga Bitcoin berada di kisaran Rp1,85 miliar per BTC (sekitar USD114.000) dengan kenaikan harian 3,63%. Sementara itu, Ethereum menempati posisi kedua dengan harga Rp66,4 juta per ETH, tumbuh 3,62% dalam 24 jam terakhir.
Baca Juga: Efek Halloween di Pasar Kripto, AAVE dan ETH Konsisten Cuan Tiap Tahun
Meskipun angka ini menunjukkan pergerakan positif jangka pendek, para analis memperingatkan bahwa pasar masih berada dalam fase ketidakpastian tinggi. Penarikan likuiditas besar-besaran di pasar derivatif Bitcoin telah memicu kekhawatiran baru tentang potensi tekanan jual lanjutan.
Menurut analis kripto Can Özsüer, penyapuan likuiditas di area USD116.000 menjadi momen penting yang mengguncang pasar Bitcoin. Dalam pembaruan grafik satu jam terbarunya, Özsüer mencatat bahwa belum ada tanda-tanda teknikal bullish yang signifikan pada BTC.
“Setelah penyapuan besar ini, banyak posisi long tersapu bersih, membuat pasar memasuki fase kehati-hatian ekstrem,” ujar Özsüer. Kondisi ini menandai periode di mana investor disarankan untuk menahan diri dan lebih fokus pada manajemen risiko ketimbang mengejar keuntungan jangka pendek.
Efek domino dari penurunan ini juga menyebar ke seluruh ekosistem cryptocurrency, termasuk altcoin. Sentimen pasar melemah, sementara ketidakpastian global, mulai dari tensi geopolitik hingga kebijakan moneter Amerika Serikat, menambah tekanan pada aset digital berisiko tinggi seperti Bitcoin.
Berbeda dengan Bitcoin yang tampak stagnan, Ethereum (ETH) mulai memperlihatkan potensi pemulihan teknikal. Analis Ted Pillows menilai bahwa zona USD4.200 menjadi area kunci yang dapat menentukan arah pergerakan ETH dalam waktu dekat.
“Jika Ethereum berhasil menembus dan mempertahankan posisi di atas level USD4.200, kita bisa melihat fase akumulasi baru yang mendorong ETH ke tren naik yang lebih kuat,” jelas Pillows.
Meskipun angka ini menunjukkan pergerakan positif jangka pendek, para analis memperingatkan bahwa pasar masih berada dalam fase ketidakpastian tinggi. Penarikan likuiditas besar-besaran di pasar derivatif Bitcoin telah memicu kekhawatiran baru tentang potensi tekanan jual lanjutan.
Menurut analis kripto Can Özsüer, penyapuan likuiditas di area USD116.000 menjadi momen penting yang mengguncang pasar Bitcoin. Dalam pembaruan grafik satu jam terbarunya, Özsüer mencatat bahwa belum ada tanda-tanda teknikal bullish yang signifikan pada BTC.
“Setelah penyapuan besar ini, banyak posisi long tersapu bersih, membuat pasar memasuki fase kehati-hatian ekstrem,” ujar Özsüer. Kondisi ini menandai periode di mana investor disarankan untuk menahan diri dan lebih fokus pada manajemen risiko ketimbang mengejar keuntungan jangka pendek.
Efek domino dari penurunan ini juga menyebar ke seluruh ekosistem cryptocurrency, termasuk altcoin. Sentimen pasar melemah, sementara ketidakpastian global, mulai dari tensi geopolitik hingga kebijakan moneter Amerika Serikat, menambah tekanan pada aset digital berisiko tinggi seperti Bitcoin.
Berbeda dengan Bitcoin yang tampak stagnan, Ethereum (ETH) mulai memperlihatkan potensi pemulihan teknikal. Analis Ted Pillows menilai bahwa zona USD4.200 menjadi area kunci yang dapat menentukan arah pergerakan ETH dalam waktu dekat.
“Jika Ethereum berhasil menembus dan mempertahankan posisi di atas level USD4.200, kita bisa melihat fase akumulasi baru yang mendorong ETH ke tren naik yang lebih kuat,” jelas Pillows.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan ETH dalam merebut level tersebut akan memberikan sinyal kepercayaan baru bagi investor, sekaligus memperkuat dominasi Ethereum di sektor DeFi dan smart contract.
Selain resistensi di USD4.200, zona USD3.600 juga menjadi titik teknikal yang krusial. Beberapa analis memperkirakan bahwa jika ETH mampu mempertahankan dukungan di area ini, momentum pembelian bisa meningkat tajam.
Selain resistensi di USD4.200, zona USD3.600 juga menjadi titik teknikal yang krusial. Beberapa analis memperkirakan bahwa jika ETH mampu mempertahankan dukungan di area ini, momentum pembelian bisa meningkat tajam.
Hal ini didukung oleh data on-chain yang menunjukkan peningkatan aktivitas dompet whale dan aliran dana masuk ke bursa kripto besar.
Kenaikan ini juga bisa dipicu oleh faktor fundamental, seperti peningkatan aktivitas jaringan Ethereum dan adopsi luas pada sektor keuangan terdesentralisasi (DeFi), NFT, serta aplikasi berbasis layer-2 yang semakin efisien.
Sementara itu, Bitcoin tampak masih mencari pijakan kuat setelah volatilitas besar yang terjadi selama dua pekan terakhir. Para analis menilai bahwa BTC belum benar-benar memulai reli bullish sejatinya.
Beberapa indikator teknikal menunjukkan bahwa pergerakan Bitcoin masih berada dalam fase konsolidasi horizontal antara USD110.000 hingga USD117.000. Apabila BTC gagal menembus zona resistance di atas USD117.000, peluang terjadinya koreksi jangka pendek masih terbuka lebar.
Namun, ada juga potensi positif. Jika Bitcoin berhasil bertahan di atas level support utama dan investor institusional kembali masuk melalui produk ETF Bitcoin, harga dapat melonjak menuju rekor baru di kisaran USD125.000–USD130.000 dalam beberapa minggu mendatang.
Pergerakan Bitcoin dan Ethereum juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi makroekonomi global. Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, inflasi yang masih tinggi, serta kebijakan suku bunga The Fed menjadi faktor yang membentuk psikologi pasar kripto saat ini.
Investor ritel cenderung lebih berhati-hati, sementara investor institusional terlihat mulai mengatur ulang portofolio mereka dengan pendekatan jangka panjang. “Kita sedang melihat fase transisi di mana pasar kripto berusaha menyesuaikan diri dengan realitas ekonomi global yang penuh ketidakpastian,” tulis laporan CryptoQuant.
Di tengah volatilitas ekstrem Bitcoin, Ethereum tampil sebagai aset yang semakin kuat secara fundamental. Pembaruan teknologi melalui Ethereum 2.0 dan peningkatan efisiensi gas fee membuat blockchain ini tetap menjadi tulang punggung industri Web3.
Para pengembang dan proyek besar masih menjadikan Ethereum sebagai platform utama untuk inovasi digital, memperkuat narasi bahwa ETH bukan hanya sekadar aset spekulatif, tetapi juga infrastruktur digital masa depan.
Pergerakan Bitcoin dan Ethereum saat ini menempatkan pasar kripto pada posisi yang sangat menarik. Di satu sisi, Bitcoin masih mencari momentum setelah penurunan tajam, sementara di sisi lain, Ethereum menunjukkan potensi rebound yang dapat memicu semangat baru di seluruh pasar.
Kenaikan ini juga bisa dipicu oleh faktor fundamental, seperti peningkatan aktivitas jaringan Ethereum dan adopsi luas pada sektor keuangan terdesentralisasi (DeFi), NFT, serta aplikasi berbasis layer-2 yang semakin efisien.
Sementara itu, Bitcoin tampak masih mencari pijakan kuat setelah volatilitas besar yang terjadi selama dua pekan terakhir. Para analis menilai bahwa BTC belum benar-benar memulai reli bullish sejatinya.
Beberapa indikator teknikal menunjukkan bahwa pergerakan Bitcoin masih berada dalam fase konsolidasi horizontal antara USD110.000 hingga USD117.000. Apabila BTC gagal menembus zona resistance di atas USD117.000, peluang terjadinya koreksi jangka pendek masih terbuka lebar.
Namun, ada juga potensi positif. Jika Bitcoin berhasil bertahan di atas level support utama dan investor institusional kembali masuk melalui produk ETF Bitcoin, harga dapat melonjak menuju rekor baru di kisaran USD125.000–USD130.000 dalam beberapa minggu mendatang.
Pergerakan Bitcoin dan Ethereum juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi makroekonomi global. Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, inflasi yang masih tinggi, serta kebijakan suku bunga The Fed menjadi faktor yang membentuk psikologi pasar kripto saat ini.
Investor ritel cenderung lebih berhati-hati, sementara investor institusional terlihat mulai mengatur ulang portofolio mereka dengan pendekatan jangka panjang. “Kita sedang melihat fase transisi di mana pasar kripto berusaha menyesuaikan diri dengan realitas ekonomi global yang penuh ketidakpastian,” tulis laporan CryptoQuant.
Di tengah volatilitas ekstrem Bitcoin, Ethereum tampil sebagai aset yang semakin kuat secara fundamental. Pembaruan teknologi melalui Ethereum 2.0 dan peningkatan efisiensi gas fee membuat blockchain ini tetap menjadi tulang punggung industri Web3.
Para pengembang dan proyek besar masih menjadikan Ethereum sebagai platform utama untuk inovasi digital, memperkuat narasi bahwa ETH bukan hanya sekadar aset spekulatif, tetapi juga infrastruktur digital masa depan.
Pergerakan Bitcoin dan Ethereum saat ini menempatkan pasar kripto pada posisi yang sangat menarik. Di satu sisi, Bitcoin masih mencari momentum setelah penurunan tajam, sementara di sisi lain, Ethereum menunjukkan potensi rebound yang dapat memicu semangat baru di seluruh pasar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








