Akurat
Pemprov Sumsel

Serial Konglomerat IX: Deretan Bisnis Hartono Bersaudara, dari Kretek Kudus hingga Bank Digital

Hefriday | 6 November 2025, 19:23 WIB
Serial Konglomerat IX: Deretan Bisnis Hartono Bersaudara, dari Kretek Kudus hingga Bank Digital

AKURAT.CO Hartono bersaudara, Robert Budi Hartono (Oei Hwie Tjhong) dan Michael Bambang Hartono (Oei Hwie Siang), merupakan dua sosok yang telah lama bertengger di posisi teratas daftar orang terkaya Indonesia. 

Nama mereka identik dengan Djarum Group, perusahaan rokok legendaris asal Kudus, Jawa Tengah, yang kini menjelma menjadi konglomerasi besar dengan gurita bisnis di berbagai sektor: mulai dari perbankan, properti, telekomunikasi, hingga ekonomi digital.
 
Keberhasilan mereka bukan hanya hasil dari warisan keluarga, tetapi juga hasil strategi bisnis yang konsisten, hati-hati, dan berorientasi jangka panjang. 
 
Filosofi mereka sederhana namun kuat yakni “Bekerja dengan fokus, berpikir dalam diam, dan berkembang tanpa banyak bicara.” Prinsip inilah yang membuat Hartono bersaudara tetap menjadi figur misterius namun disegani dalam dunia bisnis nasional.
 
Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono adalah putra dari Oei Wie Gwan, pendiri perusahaan rokok Djarum. Perusahaan ini berdiri pada tahun 1951 di Kudus, Jawa Tengah, dengan nama awal Djarum Gramophon. 
 
 
Setelah kebakaran besar yang hampir menghancurkan bisnis pada tahun 1963, kedua putra Oei Wie Gwan mengambil alih kepemimpinan dan memulai kebangkitan perusahaan dari nol.
 
Sejak saat itu, mereka mengubah Djarum menjadi produsen rokok kretek modern dengan standar tinggi. Produk andalan seperti Djarum Super dan Djarum Black menjadi ikon industri kretek, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di pasar internasional.
 
Filosofi bisnis keluarga Hartono didasari pada kerja keras, ketekunan, dan fokus terhadap kualitas. Mereka tidak pernah mengejar popularitas publik, namun menanamkan nilai low profile, high impact. Dalam berbagai kesempatan, Bambang Hartono sering menekankan pentingnya membangun bisnis secara berkelanjutan.

Gurita Bisnis Hartono Bersaudara

Hartono bersaudara dikenal dengan gaya kepemimpinan konservatif namun adaptif terhadap perubahan. Mereka lebih suka memperkuat bisnis inti sebelum berekspansi ke sektor baru. 
 
Strategi ini terbukti berhasil, karena Djarum tetap menjadi pemain utama di industri rokok, meski menghadapi tekanan regulasi dan perubahan selera konsumen.
 
Di bawah kendali Hartono bersaudara, Djarum Group berkembang menjadi konglomerasi lintas industri. Meski bisnis tembakau tetap menjadi tulang punggung, mereka berhasil mendiversifikasi portofolio usaha secara strategis sehingga tetap relevan di era modern.

1. Rokok dan Tembakau

Pertama, sektor Rokok Djarum yang menjadi pondasi utama. Sektor rokok masih menjadi penopang utama kekayaan Hartono bersaudara. Produk seperti Djarum Super, Djarum Black, dan LA Lights menjadi tulang punggung penjualan. 
 
Melalui strategi inovasi produk dan penetrasi pasar global, Djarum mampu bertahan sebagai salah satu dari tiga besar produsen rokok di Indonesia, bersaing dengan Gudang Garam dan Sampoerna.
 
Produksi Djarum sebagian besar berlokasi di Kudus, dengan puluhan ribu tenaga kerja yang menjadikannya salah satu pemberi kerja terbesar di Jawa Tengah. Perusahaan juga fokus pada ekspor ke lebih dari 80 negara, menjadikan Djarum salah satu eksportir rokok terbesar di Asia Tenggara.

2. Bank dan Keuangan

Kedua, sektor Perbankan – BCA, yang menjadi mesin uang raksasa. Namun, aset terbesar keluarga Hartono bukan berasal dari rokok, melainkan dari Bank Central Asia (BCA). Djarum Group resmi mengakuisisi BCA pada tahun 2002 melalui PT Dwimuria Investama Andalan setelah krisis moneter 1998 menghantam sektor perbankan Indonesia.
 
Sejak diakuisisi, BCA menjelma menjadi bank paling bernilai di Indonesia, dengan kapitalisasi pasar yang mencapai lebih dari Rp1.000 triliun pada 2025. Di bawah pengelolaan keluarga Hartono, BCA dikenal dengan manajemen risiko yang konservatif, efisiensi operasional tinggi, dan fokus pada layanan digital yang berorientasi pelanggan.
 
Transformasi digital BCA juga menjadi kisah sukses tersendiri. Melalui inovasi layanan seperti BCA Mobile, myBCA, dan Blu by BCA Digital, bank ini berhasil mempertahankan posisinya di puncak industri perbankan nasional, bahkan di tengah gempuran fintech dan bank digital baru.

3. Properti

Ketiga, sektor Properti dan Real Estate dari Grand Indonesia hingga Djarum Foundation. Diversifikasi bisnis keluarga Hartono juga mencakup sektor properti. 
 
Salah satu aset paling dikenal publik adalah Grand Indonesia, kompleks ritel dan perkantoran mewah di jantung Jakarta yang menjadi simbol kesuksesan bisnis non-tembakau mereka.
 
Selain itu, Djarum Group memiliki investasi besar melalui emiten infrastruktur telekomunikasi, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (pemilik menara telekomunikasi Protelindo.
 
Melalui Djarum Foundation, keluarga Hartono juga aktif di bidang sosial dan budaya, mendukung program lingkungan, pendidikan, serta pelestarian seni dan olahraga. 
 
Komitmen mereka terhadap pengembangan bulutangkis Indonesia misalnya, diwujudkan melalui PB Djarum Kudus, yang melahirkan banyak atlet kelas dunia seperti Liem Swie King hingga Kevin Sanjaya Sukamuljo.

4. Media Digital

Keempat, sektor Digital dan E-Commerce yakni Blibli yang menjadi Era Baru Djarum Group. Dalam dekade terakhir, Hartono bersaudara mulai menapaki era ekonomi digital melalui anak usaha Blibli.com, platform e-commerce yang didirikan pada 2011.
 
Blibli kini menjadi bagian dari PT Global Digital Niaga Tbk. (BELI) yang melantai di bursa pada 2022. Perusahaan ini memperluas jaringan bisnis dengan mengakuisisi raksasa ritel Matahari Putra Prima (MPPA) dan raksasa tiket online Tiket.com, menjadikannya salah satu konglomerasi digital terbesar di Asia Tenggara.
 
Kehadiran Blibli memperlihatkan bagaimana keluarga Hartono mampu beradaptasi dengan perubahan lanskap ekonomi digital, tanpa meninggalkan prinsip bisnis konservatif yang menekankan efisiensi dan kontrol ketat terhadap arus kas.

5. Ritel

Mereka memiliki saham di perusahaan ritel seperti PT Supra Boga Lestari Tbk. (RANC), yang mengoperasikan supermarket Ranch Market.

Generasi Penerus

Meski jarang tampil di publik, keluarga Hartono telah mempersiapkan generasi penerus untuk meneruskan imperium bisnisnya. Beberapa anak dan keponakan dari Robert maupun Michael kini menduduki posisi penting di perusahaan grup Djarum maupun di BCA.
 
Robert dan Michael lahir dari pasangan Oei Wie Gwan dan Goei Tjoe Nio. 
 
Robert menikah dengan Ika Budiarto, melahirkan Armand Wahyudi (Wadirut BCA), Victor Rachmat (COO Djarum), dan Martin Basuki (CEO DGP Venture). 
 
Sementara Micahel menikah dengan Widowati, melahirkan Roberto Setiabudi (Polytron), Tessa Natalia Damayanti (CEO Grand Indonesia), Stefanus WIjaya dan Vanessa Ratnasari.
 
Generasi kedua keluarga Hartono dikenal menguasai dua hal penting yaitu teknologi dan keuangan. Hal ini selaras dengan arah masa depan grup yang semakin bergeser ke bisnis digital dan finansial. 
 
Walau tetap berpegang pada prinsip kerahasiaan, sumber internal industri menyebut bahwa regenerasi bisnis di Djarum Group telah berjalan secara halus dan terstruktur, dengan peran generasi muda yang semakin besar dalam pengambilan keputusan strategis.

Filosofi Bisnis Keluarga Hartono

Keluarga Hartono bukan tipe pengusaha yang banyak berbicara di media, namun filosofi bisnis mereka bisa dirangkum dari beberapa prinsip yang konsisten diterapkan selama puluhan tahun.
 
Pertama, Fokus pada inti bisnis. Mereka tidak mudah tergoda untuk masuk ke bisnis yang tidak mereka pahami. Setiap ekspansi selalu berangkat dari sinergi dengan bisnis inti, seperti investasi mereka di perbankan yang terkait erat dengan pengelolaan keuangan Djarum.
 
Kedua, Jaga likuiditas dan hindari utang berlebihan. Salah satu rahasia kesuksesan Djarum Group adalah manajemen keuangan yang konservatif. Mereka selalu menjaga kas besar dan tidak bergantung pada pinjaman eksternal untuk membiayai ekspansi.
 
Ketiga, Investasi jangka panjang. Hartono bersaudara dikenal sabar dalam membangun bisnis. Mereka tidak mengejar keuntungan instan, tetapi membangun fundamental kuat. Filosofi ini juga diterapkan di BCA, yang tumbuh stabil dengan pendekatan low risk, steady growth.
 
Keempat, Disiplin dan loyal pada kualitas. Baik dalam rokok maupun layanan bank, kualitas produk selalu menjadi prioritas. Djarum dikenal memiliki standar produksi yang tinggi, sementara BCA dikenal dengan layanan nasabah yang unggul.
 
Kelima, Diam, namun efektif. Keluarga Hartono hampir tak pernah tampil di panggung politik atau media sosial. Mereka lebih memilih bekerja dalam diam, membiarkan hasil yang berbicara. Strategi “low profile, high result” ini justru meningkatkan wibawa dan kredibilitas mereka di mata pelaku bisnis.
 
Kisah Hartono bersaudara adalah gambaran tentang perpaduan antara tradisi dan inovasi. Dari pabrik kretek sederhana di Kudus, mereka menjelma menjadi penguasa industri perbankan dan digital di Indonesia, tanpa pernah kehilangan jati diri sebagai pengusaha yang bekerja dalam kesenyapan.
 
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa