Adopsi QRIS Bikin RI Jadi Pasar Terbesar Pembayaran Digital di ASEAN
Hefriday | 13 November 2025, 18:15 WIB

AKURAT.CO Transformasi keuangan digital Indonesia semakin melaju kencang. Apalagi saat ini ditambah dengan kahiran Qris yang memudahkan masyarakat dalam bertransaksi.
Menurut Country Director Google Indonesia, Veronica Utami, dari laporan e-Conomy SEA 2025 yang dirilis Google bersama Temasek dan Bain & Company menempatkan Indonesia sebagai pasar pembayaran digital terbesar di Asia Tenggara, berkat keberhasilan integrasi sistem QRIS yang mendorong adopsi transaksi tanpa tunai secara masif.
“Nilai transaksi pembayaran digital Indonesia mencapai USD538 miliar tahun ini, tumbuh 27 persen dari tahun lalu. Ini pertumbuhan yang sangat besar dan menjadi bukti keberhasilan QRIS dalam menyatukan pasar,” ujar Veronica di kantor Google Indonesia, Jakarta, Kamis (13/11/2025).
Baca Juga: Google Sebut Ekonomi Digital RI Tumbuh 14 Persen di 2025, Tembus Hampir USD100 Miliar
Selain pembayaran digital, sektor digital lending atau pinjaman daring juga mencatatkan pertumbuhan pesat. Nilai buku pinjaman tahun 2025 diperkirakan mencapai USD13 miliar, meningkat 29% dibanding tahun sebelumnya.
Namun, Veronica menekankan masih ada tantangan yang harus diatasi, terutama dalam membangun kepercayaan konsumen terhadap penyedia layanan pinjaman digital.
“Nilai absolut digital lending kita masih tertinggal dari Malaysia dan Thailand, meskipun populasinya lebih kecil. Isu utama kita adalah tingkat kepercayaan masyarakat yang belum setara dengan bank konvensional,” ujarnya.
Kinerja sektor keuangan digital turut menopang pertumbuhan ekonomi digital nasional yang kini mencapai hampir USD100 miliar. Di tengah tekanan ekonomi global akibat konflik geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia, Indonesia tetap mencatatkan pertumbuhan 14% secara tahunan.
“Ini bukti ketahanan ekonomi digital Indonesia. Di saat banyak negara stagnan, kita justru memperlihatkan akselerasi yang solid di berbagai lini,” kata Veronica.
Integrasi pembayaran digital melalui QRIS dinilai menjadi katalis utama inklusi keuangan di Indonesia. Dengan semakin banyaknya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang beralih ke transaksi digital, ekosistem ekonomi digital Indonesia diyakini akan semakin inklusif dan berdaya saing.
“QRIS tidak hanya menyatukan sistem pembayaran, tapi juga membuka akses ekonomi digital bagi seluruh lapisan masyarakat,” tegas Veronica.
Selain pembayaran digital, sektor digital lending atau pinjaman daring juga mencatatkan pertumbuhan pesat. Nilai buku pinjaman tahun 2025 diperkirakan mencapai USD13 miliar, meningkat 29% dibanding tahun sebelumnya.
Namun, Veronica menekankan masih ada tantangan yang harus diatasi, terutama dalam membangun kepercayaan konsumen terhadap penyedia layanan pinjaman digital.
“Nilai absolut digital lending kita masih tertinggal dari Malaysia dan Thailand, meskipun populasinya lebih kecil. Isu utama kita adalah tingkat kepercayaan masyarakat yang belum setara dengan bank konvensional,” ujarnya.
Kinerja sektor keuangan digital turut menopang pertumbuhan ekonomi digital nasional yang kini mencapai hampir USD100 miliar. Di tengah tekanan ekonomi global akibat konflik geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia, Indonesia tetap mencatatkan pertumbuhan 14% secara tahunan.
“Ini bukti ketahanan ekonomi digital Indonesia. Di saat banyak negara stagnan, kita justru memperlihatkan akselerasi yang solid di berbagai lini,” kata Veronica.
Integrasi pembayaran digital melalui QRIS dinilai menjadi katalis utama inklusi keuangan di Indonesia. Dengan semakin banyaknya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang beralih ke transaksi digital, ekosistem ekonomi digital Indonesia diyakini akan semakin inklusif dan berdaya saing.
“QRIS tidak hanya menyatukan sistem pembayaran, tapi juga membuka akses ekonomi digital bagi seluruh lapisan masyarakat,” tegas Veronica.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









