Akurat
Pemprov Sumsel

Uang Primer Oktober 2025 Melonjak, Gubernur BI: Dampak Penempatan SAL Pemerintah di Perbankan

Hefriday | 20 November 2025, 07:09 WIB
Uang Primer Oktober 2025 Melonjak, Gubernur BI: Dampak Penempatan SAL Pemerintah di Perbankan

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) melaporkan peningkatan signifikan pada uang primer atau M0 adjusted pada Oktober 2025. 

Kenaikan tersebut terutama dipicu ekspansi keuangan pemerintah, termasuk pengalihan penempatan saldo anggaran lebih (SAL) ke sektor perbankan.
 
Gubernur BI, Perry Warjiyo menjelaskan bahwa aliran dana pemerintah ke perbankan memberikan dorongan kuat terhadap likuiditas, yang kemudian tercermin pada ekspansi tagihan bersih kepada pemerintah pusat atau net claims on government (NCG).
 
Menurut data BI, M0 adjusted tumbuh 14,38% secara tahunan (yoy) pada Oktober 2025. Dengan pertumbuhan tersebut, nilai uang primer yang beredar mencapai Rp2.117,6 triliun.
 
 
“Peningkatan jumlah uang beredar sejalan dengan kebijakan moneter yang longgar dan dampak penempatan dana SAL pemerintah di perbankan,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI November 2025 di Jakarta, Rabu (19/11/2025). 
 
M0 adjusted menggambarkan kondisi uang primer setelah dihitung dengan menetralkan efek penurunan giro wajib minimum (GWM) perbankan di BI akibat insentif likuiditas makroprudensial (KLM). Kebijakan ini memungkinkan bank memiliki ruang likuiditas lebih luas.
 
BI mencatat, pertumbuhan M0 adjusted pada Oktober 2025 lebih tinggi dibandingkan M0 konvensional yang naik 7,75% (yoy). Perbedaan tersebut menunjukkan kuatnya pengaruh insentif KLM terhadap likuiditas sistem keuangan.

Uang Beredar Naik 8,02 Persen

Perry menambahkan, pelonggaran kebijakan moneter tahun ini juga berdampak pada meningkatnya jumlah uang beredar dalam arti luas atau M2. Pada September 2025, pertumbuhan M2 naik menjadi 8,02% (yoy), meningkat dari 5,46% (yoy) pada Januari 2025.
 
Dari sisi komponennya, kenaikan M2 terutama ditopang pertumbuhan uang beredar dalam arti sempit atau M1. Komponen tersebut mencatat percepatan dari 7,25% (yoy) pada Januari menjadi 10,72% (yoy) pada September 2025.
 
Tren ini turut diperkuat oleh peningkatan uang kartal di luar bank umum dan BPR yang tumbuh dari 10,30% (yoy) menjadi 14,50% (yoy) dalam periode yang sama. Kenaikan tersebut mengindikasikan meningkatnya kebutuhan transaksi masyarakat sejalan dengan pemulihan kegiatan ekonomi.
 
Dari sisi faktor pendorong, BI menyebut dua sumber utama pertumbuhan M2, yakni meningkatnya aktiva luar negeri bersih (net foreign asset / NFA) serta ekspansi keuangan pemerintah yang mendorong perputaran likuiditas domestik.
 
Perry memperkirakan tren kenaikan jumlah uang beredar akan berlanjut pada bulan-bulan mendatang. “Ke depan, jumlah uang yang beredar diprakirakan meningkat sejalan dengan ekspansi kebijakan fiskal pemerintah dan peningkatan kegiatan ekonomi,” katanya.
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa