Akurat
Pemprov Sumsel

Stabilitas Fiskal Terjaga, Pemerintah Tekan Defisit dan Dorong Kredit

Hefriday | 21 November 2025, 08:50 WIB
Stabilitas Fiskal Terjaga, Pemerintah Tekan Defisit dan Dorong Kredit

AKURAT.CO Pemerintah menegaskan komitmennya menjaga stabilitas fiskal dan likuiditas perekonomian nasional di tengah kondisi global yang masih tidak menentu.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa APBN 2025 dikelola secara hati-hati dan tetap menjadi instrumen utama dalam mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi.

"Per 31 Oktober 2025, pendapatan negara mencapai Rp2.113,3 triliun atau 73,7 persen dari outlook. Penerimaan pajak tercatat Rp1.708,3 triliun, sementara penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp402,4 triliun, melampaui capaian tahun sebelumnya," ujar Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KiTA di Jakarta, Kamis (20/11/2025).

Baca Juga: RDG BI Libatkan Kemenkeu, Sinergi Kebijakan Diperkuat Hadapi Ketidakpastian

Pemerintah menilai kinerja PNBP yang kuat menunjukkan optimalisasi sumber pendapatan non-pajak semakin efektif.

"Di sisi lain, belanja negara tercatat Rp2.593 triliun atau 73,5 persen dari target. Alokasi belanja difokuskan pada program prioritas seperti perlindungan sosial, penguatan pangan, infrastruktur, dan transfer ke daerah," jelasnya.

Pemerintah menyebut belanja APBN memiliki peran signifikan dalam menjaga daya beli dan mendukung pertumbuhan sektor strategis.

Dengan posisi pendapatan dan belanja tersebut, defisit APBN mencapai Rp479,7 triliun atau 2,02% terhadap PDB.

Angka ini berada jauh di bawah defisit target outlook sebesar 2,78%. Pemerintah menilai defisit yang terkendali menjadi bukti disiplin fiskal tetap terjaga.

Di sektor perbankan, pemerintah menempatkan dana Rp200 triliun untuk memperkuat likuiditas dan mendorong penyaluran kredit. Hingga Oktober, penempatan tersebut telah menghasilkan penyaluran kredit hingga Rp188 triliun.

"Pada 10 November, pemerintah kembali menambah penempatan dana sebesar Rp76 triliun kepada bank-bank BUMN dan Bank DKI," jelas Purbaya.

Baca Juga: KPK Periksa Mantan Pejabat Kemenkeu Terkait Korupsi Proyek Jalan Mempawah Era Ria Norsan

Kebijakan ini bertujuan menjaga biaya dana (cost of fund) tetap rendah. Tingkat bunga deposito tenor enam bulan menurun dari 6% menjadi 5,2%.

Dampaknya mulai terlihat pada penurunan suku bunga kredit tertimbang menjadi 9%, lebih rendah dibandingkan posisi Juli sebesar 9,12%.

Stabilitas nilai tukar juga menjadi fokus pemerintah. Rupiah berada di kisaran Rp16.700 per USD hingga pertengahan November.

Meski masih melemah secara tahunan, pemerintah menilai stabilitas rupiah lebih baik dibandingkan sejumlah negara berkembang lain yang mengalami depresiasi lebih dalam.

Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun ke 6,11%. Penurunan ini mencerminkan kepercayaan investor domestik yang tetap kuat, meskipun pasar global masih dipengaruhi reposisi portofolio investor asing.

Inflasi Indonesia berada pada posisi yang stabil, yakni 2,86% secara tahunan pada Oktober 2025. Inflasi inti tercatat 2,36%, sementara inflasi pangan bergejolak tetap terkendali berkat intervensi pemerintah dan peran Bulog dalam menjaga ketersediaan pasokan.

Pemerintah memastikan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter terus diperkuat untuk menjaga stabilitas perekonomian. 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi