Pemangkasan Suku Bunga The Fed Beri Angin Segar, Time to Buy?
Hefriday | 12 Desember 2025, 12:05 WIB

AKURAT.CO Keputusan Federal Reserve memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi sinyal positif bagi pasar keuangan global, termasuk Indonesia.
Ekonom Senior Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menyebut momentum ini dapat meningkatkan minat investasi dan memperkuat pemulihan kredit domestik.
Menurut dia, penurunan imbal hasil obligasi AS (US Treasury 10-year) setelah pengumuman The Fed menunjukkan pasar merespons lebih dovish dibanding tahun sebelumnya. Kondisi ini memberikan ruang lebih besar bagi aliran modal masuk ke negara berkembang.
Menurut dia, penurunan imbal hasil obligasi AS (US Treasury 10-year) setelah pengumuman The Fed menunjukkan pasar merespons lebih dovish dibanding tahun sebelumnya. Kondisi ini memberikan ruang lebih besar bagi aliran modal masuk ke negara berkembang.
“Berbeda dengan 2024, kali ini yield turun dan menciptakan ruang stabilitas baru. Ini positif bagi Indonesia, terutama dalam memperkuat nilai tukar dan menurunkan biaya pendanaan,” jelasnya di Jakarta, Jumat (12/12/2025).
Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat di Tengah Sinyal Dovish The Fed
Pemerintah sendiri telah menyiapkan langkah lanjutan melalui kebijakan pemindahan likuiditas Rp200 triliun dari BI ke perbankan.
Pemerintah sendiri telah menyiapkan langkah lanjutan melalui kebijakan pemindahan likuiditas Rp200 triliun dari BI ke perbankan.
Langkah ini disebut Fithra berpotensi menurunkan cost of fund sehingga perbankan dapat lebih agresif dalam menyalurkan kredit produktif.
Di saat bersamaan, sektor korporasi menunjukkan kesiapan untuk berekspansi. Dana pihak ketiga korporasi tumbuh 12,5%, jauh di atas pertumbuhan DPK sektor individu yang hanya 0,8%.
“Perusahaan sebenarnya punya kapasitas, hanya masih menunggu sinyal kuat. Pemangkasan suku bunga The Fed dan stimulus pemerintah akan menjadi pemicu percepatan investasi tahun depan,” katanya.
Dengan kombinasi kebijakan global dan domestik tersebut, pertumbuhan ekonomi kuartal IV diperkirakan mampu berada di kisaran 5,2–5,3%.
Di saat bersamaan, sektor korporasi menunjukkan kesiapan untuk berekspansi. Dana pihak ketiga korporasi tumbuh 12,5%, jauh di atas pertumbuhan DPK sektor individu yang hanya 0,8%.
“Perusahaan sebenarnya punya kapasitas, hanya masih menunggu sinyal kuat. Pemangkasan suku bunga The Fed dan stimulus pemerintah akan menjadi pemicu percepatan investasi tahun depan,” katanya.
Dengan kombinasi kebijakan global dan domestik tersebut, pertumbuhan ekonomi kuartal IV diperkirakan mampu berada di kisaran 5,2–5,3%.
Pada 2025, aktivitas ekonomi diprediksi semakin solid, terutama jika percepatan di wilayah Sumatra turut terwujud.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









