Harga Turun, Minat Beli Emas Fisik Melonjak di Jewellery Fair 2026

AKURAT.CO Antrean panjang pembelian emas fisik mewarnai gelaran Jewellery Fair 2026 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan.
Fenomena ini ramai beredar di media sosial dan sejumlah pemberitaan, memperlihatkan lonjakan minat masyarakat terhadap logam mulia.
Lonjakan pembelian terjadi saat harga emas mengalami koreksi dari posisi tertingginya yang sempat menembus Rp3 juta per gram. Bagi sebagian masyarakat, penurunan harga tersebut justru menjadi momentum akumulasi.
Baca Juga: Harga Emas di Pegadaian Terbaru, 17 Februari 2026: Spesial Hari Raya Imlek
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai antrean yang terjadi bukan sekadar fenomena FOMO (fear of missing out). Ia menyebut pola serupa kerap muncul ketika harga emas terkoreksi.
"Justru saat harga turun, masyarakat melihatnya sebagai momentum tepat untuk membeli, karena secara jangka pendek hingga panjang harga emas akan naik cukup signifikan," ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa (17/2/2026).
Menurutnya, permintaan emas fisik tidak hanya terjadi di area pameran. Gerai Antam dan Pegadaian juga dilaporkan mengalami lonjakan permintaan cetak emas, sehingga pembeli harus mengantre.
Ibrahim menambahkan, ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu katalis utama yang berpotensi mendorong harga emas kembali menguat. Isu mendekatnya kapal induk Amerika Serikat di kawasan tersebut dan potensi eskalasi terhadap Iran meningkatkan sentimen safe haven di pasar global.
Baca Juga: Harga Emas Global Menuju USD3.950 Karena 7 Faktor Berikut
"Ketegangan ini membuat harga emas berpotensi kembali naik, ditambah pelemahan rupiah semakin mendorong masyarakat mencari aset aman," jelasnya.
Selain faktor geopolitik, dinamika politik di Amerika Serikat serta arah kebijakan bank sentralnya juga turut memengaruhi pergerakan harga emas. Di dalam negeri, pertumbuhan ekonomi 5,11% sepanjang 2025 serta meningkatnya indeks kepercayaan konsumen menunjukkan daya beli relatif terjaga.
Kondisi tersebut, lanjut Ibrahim, menciptakan ruang bagi masyarakat untuk melakukan diversifikasi aset, terutama ke instrumen lindung nilai seperti emas.
"Meski sudah ada bullion bank, masyarakat tetap lebih condong membeli emas dalam bentuk fisik. Mereka intens memantau kondisi pasar global dan domestik, dan saat ini emas menjadi pilihan paling rasional sebagai lindung nilai," tegasnya.
Fenomena di Jewellery Fair 2026 menunjukkan bahwa perilaku investor ritel semakin adaptif terhadap dinamika harga dan sentimen global. Koreksi bukan dipandang sebagai risiko, melainkan peluang masuk sebelum harga kembali bergerak naik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










