Akurat
Pemprov Sumsel

Konflik Iran-Israel Tekan IHSG, BEI Minta Investor Rasional

Esha Tri Wahyuni | 2 Maret 2026, 13:27 WIB
Konflik Iran-Israel Tekan IHSG, BEI Minta Investor Rasional
Ilustrasi layar yang menampilkan harga saham-saham di Bursa Efek Indonesia

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 23,95 poin atau 0,29% ke level 8.211,31 pada perdagangan Senin (02/3/2026), seiring meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS).

Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan yang juga melanda mayoritas bursa Asia pada sesi pagi.

Pejabat Sementara Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, mengimbau pelaku pasar tetap rasional dalam menyikapi volatilitas global.

Baca Juga: IHSG Hari ini Diprediksi Menguat Usai Penetapan Tarif AS

“Menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat global, kami menghimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental. Sesuaikan strategi investasi dengan toleransi risiko masing-masing investor," ujarnya di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Data perdagangan menunjukkan tekanan jual terjadi sejak awal sesi, mengikuti sentimen negatif regional. Sejumlah bursa di kawasan Asia dibuka melemah, sementara Bursa Kuwait dilaporkan sempat menghentikan perdagangan.

Uni Emirat Arab (UEA) bahkan menutup pasar sahamnya pada Senin (02/3/2026) dan Selasa (03/3/2026) sebagai respons terhadap ketidakpastian yang meningkat.

Eskalasi konflik memuncak setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap sejumlah target strategis di Iran dalam operasi yang disebut “Operation Epic Fury”, mencakup kompleks militer dan fasilitas yang diduga terkait program rudal serta nuklir Teheran.

Baca Juga: IHSG Melemah ke 8.271, Analis Soroti Support 8.170

Iran membalas dengan meluncurkan rudal balistik ke sejumlah negara yang menjadi basis pasukan AS dan sekutunya di kawasan Teluk, termasuk Bahrain, Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Yordania, dan UEA.

Perkembangan ini menjadi perhatian pasar global karena berpotensi mengganggu jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Berdasarkan data US Energy Information Administration (EIA), sekitar 20% hingga 25% pasokan minyak mentah dan liquefied natural gas (LNG) dunia melewati selat tersebut setiap hari.

Volume yang ditransitkan mencapai sekitar 20 juta barel minyak per hari. Gangguan pada jalur ini berpotensi mendorong lonjakan harga energi global, meningkatkan biaya asuransi pengiriman, serta memperluas tekanan inflasi di berbagai negara.

Secara historis, konflik di kawasan Timur Tengah kerap memicu volatilitas pasar keuangan global. Pada periode ketegangan Iran-AS awal 2020, harga minyak dunia sempat melonjak lebih dari 4% dalam sehari sebelum akhirnya terkoreksi.

Pola serupa berulang ketika terjadi gangguan pasokan atau ancaman penutupan Selat Hormuz, mengingat kawasan tersebut menjadi simpul distribusi energi utama dunia.

Bagi Indonesia, dampak langsung tercermin pada pergerakan IHSG dan potensi tekanan terhadap nilai tukar rupiah serta harga energi domestik.

Diketahui, Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak mentah dan BBM, sehingga kenaikan harga global berpotensi memengaruhi biaya subsidi energi dan defisit transaksi berjalan apabila berlangsung berkepanjangan.

BEI menegaskan bahwa mekanisme perdagangan tetap berjalan normal dan otoritas bursa terus memantau dinamika pasar. Investor diimbau memperhatikan kinerja fundamental emiten, kondisi makroekonomi domestik, serta eksposur sektor terhadap risiko energi dan geopolitik.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.