Antrean IPO BEI Bertambah, 7 Perusahaan Aset Jumbo Siap Melantai di Bursa

AKURAT.CO PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan terdapat tujuh perusahaan yang saat ini berada dalam antrean penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) di pasar modal Indonesia hingga awal Maret 2026.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna mengatakan, dari total perusahaan tersebut, enam di antaranya merupakan perusahaan dengan kategori aset skala besar.
“Hingga saat ini, terdapat tujuh perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” ujar Nyoman dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (8/3/2026).
Baca Juga: BEI Suspensi Saham WIKA Usai Tunda Bayar Bunga dan Pokok Sejumlah Surat Utang
Dirinya menjelaskan, perusahaan beraset skala besar merupakan emiten yang memiliki aset di atas Rp250 miliar, sedangkan perusahaan beraset skala menengah memiliki aset Rp50 miliar hingga Rp250 miliar.
Klasifikasi tersebut mengacu pada ketentuan dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 53/POJK.04/2017.
Nyoman merinci, dari sisi sektor usaha, antrean IPO tersebut terdiri dari tiga perusahaan sektor keuangan, satu perusahaan transportasi dan logistik, satu perusahaan barang konsumen primer, satu perusahaan energi, serta satu perusahaan kesehatan.
Meski sudah ada pipeline pencatatan saham, BEI mencatat hingga 6 Maret 2026 belum ada perusahaan yang resmi melaksanakan IPO di pasar modal domestik sepanjang tahun ini.
Dengan demikian, jumlah perusahaan tercatat di BEI masih berada di level 956 emiten, sama seperti posisi pada akhir 2025.
Sebagai perbandingan, dalam beberapa tahun terakhir aktivitas IPO di pasar modal Indonesia cenderung fluktuatif. Data BEI menunjukkan sepanjang 2024 terdapat 79 perusahaan melakukan IPO, sementara pada 2025 jumlahnya menurun seiring volatilitas pasar global.
Kondisi pasar pada awal 2026 juga masih dipengaruhi sentimen eksternal, termasuk ketidakpastian ekonomi global dan konflik geopolitik.
Baca Juga: Konflik Iran-Israel Tekan IHSG, BEI Minta Investor Rasional
Di sisi lain, aktivitas penghimpunan dana melalui instrumen pasar modal selain saham tetap berjalan. Hingga 6 Maret 2026, BEI mencatat telah terjadi 37 penerbitan efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) dari 26 penerbit, dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp41,41 triliun.
Selain itu, masih terdapat 20 emisi dari 13 penerbit yang sedang berada dalam pipeline penerbitan EBUS di pasar modal Indonesia.
Untuk aksi korporasi lainnya, BEI juga mencatat hingga periode yang sama terdapat tiga perusahaan yang telah melaksanakan rights issue dengan total nilai Rp3,75 triliun. Sementara itu, terdapat satu perusahaan dari sektor properti yang masih berada dalam antrean untuk melaksanakan aksi penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu tersebut.
Diketahui, perkembangan pipeline IPO tersebut menjadi indikator penting bagi pelaku pasar karena mencerminkan minat perusahaan untuk menghimpun pendanaan melalui pasar modal.
Aktivitas IPO juga berkontribusi terhadap pendalaman pasar keuangan domestik serta memperluas pilihan investasi bagi investor ritel dan institusi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK










