Akurat
Pemprov Sumsel

Ketegangan Global Dorong Harga Emas, HRTA: Momentum Perkuat Permintaan Domestik

Yosi Winosa | 11 Maret 2026, 10:53 WIB
Ketegangan Global Dorong Harga Emas, HRTA: Momentum Perkuat Permintaan Domestik
Emas HRTA

AKURAT.CO Ketegangan geopolitik global kembali mendorong perhatian pasar terhadap emas. Eskalasi konflik Timur Tengah, termasuk meningkatnya tensi antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada awal Maret, memicu kenaikan harga emas global setelah sempat mengalami koreksi pada awal tahun.

Sepanjang Februari 2026, harga rata-rata emas tercatat berada di level USD5.015 per ounce atau sekitar Rp2,71 juta per gram, meningkat 17% secara tahunan dan 6% dibandingkan bulan sebelumnya.

Harga emas bahkan ditutup pada level USD5.278 per ounce, mendekati rekor tertinggi yang tercapai pada Januari lalu. Sebagai informasi, harga terbaru HRTA Gold per 10 Maret 2026, pukul 08.40 WIB tercatat sebesar Rp2.893.000 per gram.

Baca Juga: Harga Emas di Pegadaian Terbaru, 11 Maret 2026: Bangkit Perlahan untuk Galeri24 dan UBS

Kenaikan harga emas di pasar domestik juga dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar rupiah. Bank Indonesia mencatat rupiah berada pada kondisi undervalued di tengah ketidakpastian global, sehingga pelemahan mata uang ini turut membuat harga emas menjadi lebih tinggi dalam rupiah meskipun perubahan fundamental di pasar emas global tidak terlalu besar.

Di tingkat global, arah kebijakan moneter Amerika Serikat turut menjadi faktor penting. The Federal Reserve kembali menahan suku bunga pada Februari di tengah inflasi yang masih berada di atas target, meskipun tetap membuka ruang untuk penurunan suku bunga di masa mendatang.

Ketegangan geopolitik juga menjadi katalis terbaru bagi pergerakan harga. Pada awal Maret, serangan militer yang menewaskan pemimpin Iran memicu kenaikan harga emas sekitar 1%, diikuti lonjakan harga minyak yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global.

Kondisi ini mendorong sebagian pelaku pasar untuk menempatkan emas sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi.

Direktur Investor Relations HRTA, Thendra Crisnanda, mengatakan bahwa dinamika geopolitik dan ekonomi global saat ini kembali menegaskan peran emas sebagai instrumen penyimpan nilai dalam jangka panjang.

“Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, seperti konflik geopolitik maupun tekanan inflasi, masyarakat cenderung melihat emas sebagai sarana menabung nilai yang relatif stabil. Kami melihat minat terhadap kepemilikan emas tetap kuat, baik dari masyarakat maupun institusi,” ujar Thendra.

Di dalam negeri, momentum musiman turut memperkuat permintaan emas. Perayaan Tahun Baru Imlek yang berdekatan dengan Ramadan dan Idul Fitri secara tradisional menjadi periode peningkatan pembelian emas, baik dalam bentuk perhiasan maupun emas batangan yang sering dijadikan hadiah maupun tabungan keluarga.

Menurut Thendra, faktor musiman ini sering kali memberikan dorongan tambahan bagi permintaan emas di pasar domestik.

“Menjelang Ramadan dan Idulfitri biasanya terjadi peningkatan aktivitas pembelian emas. Selain sebagai hadiah, masyarakat juga semakin melihat emas sebagai salah satu cara menabung untuk menjaga nilai aset dalam jangka panjang,” jelasnya.

Selain faktor permintaan masyarakat, tren akumulasi emas oleh bank sentral juga menunjukkan sinyal kuat. Bank Indonesia menambah 7 ton emas ke dalam cadangan nasional sepanjang 2025, sehingga total cadangan emas mencapai 85 ton pada akhir tahun tersebut.

Pembelian kembali sekitar 2 ton emas pada Januari 2026 menandakan meningkatnya kepercayaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai dalam cadangan negara.

Di sisi kebijakan, pemerintah juga mengambil langkah untuk memperkuat ekosistem emas domestik.

Kementerian Keuangan mulai memberlakukan bea ekspor produk emas sejak Desember 2025, berkisar 7,5–12,5% dan meningkat menjadi 10–15% ketika harga emas melampaui USD3.200 per ounce, dengan tujuan menjaga pasokan emas di dalam negeri dan mendorong pengolahan bernilai tambah di dalam negeri.

Sementara itu, tarif PPh 22 untuk transaksi emas batangan ritel telah dipangkas menjadi 0,25%, sehingga dapat membantu menekan biaya perdagangan bagi konsumen.

Ke depan, pelaku pasar juga akan mencermati sejumlah katalis utama dari Amerika Serikat, termasuk rilis data tenaga kerja, inflasi (CPI), serta keputusan FOMC, yang berpotensi memengaruhi arah harga emas global.

Sejumlah institusi keuangan global bahkan mulai menaikkan proyeksi harga emas. Goldman Sachs meningkatkan target harga emas menjadi USD5.400 per ounce untuk 2026, dari sebelumnya USD4.900 per ounce.

Sementara JP Morgan memproyeksikan harga emas dapat mencapai USD6.000 per ounce dalam jangka panjang, didorong oleh permintaan kuat dari bank sentral dan institusi di tengah kekhawatiran terhadap penurunan nilai mata uang global.

“Dengan kombinasi faktor geopolitik, kebijakan moneter, serta momentum permintaan domestik menjelang Ramadan, emas diperkirakan akan tetap menjadi pilihan asset lindung nilai bagi masyarakat untuk ditabung dalam jangka panjang,” tutup Thendra.

Informasi harga emas HRTA Gold beserta harga buyback terbaik yang diperbarui secara berkala dapat diakses melalui situs hrtagold.id/en/gold-price maupun melalui aplikasi HRTA Gold yang tersedia di App Store dan Play Store.

Melalui platform ini, masyarakat dapat memantau pergerakan harga sekaligus melakukan transaksi pembelian maupun buyback emas fisik secara praktis dan aman sebagai bagian dari perencanaan tabungan emas jangka panjang.

Dalam rangka memperingati HUT HRTA Gold ke-22, perusahaan juga menghadirkan rangkaian program apresiasi pelanggan melalui HRTA Gold Festival Emas Terbesar yang berlangsung pada 2–29 Maret 2026.

Program ini menawarkan berbagai penawaran khusus, antara lain potongan harga emas batangan hingga Rp22 ribu per gram, serta diskon hingga 20% untuk perhiasan emas Ardore Special Collection yang tersedia di seluruh Hartadinata Abadi Store, serta melalui web dan aplikasi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.