Proyeksi Harga Bitcoin di Tengah Konflik Timur Tengah, Bisakah Turun ke US$60.000?

AKURAT.CO Ketika konflik di Timur Tengah memanas, bukan hanya harga minyak yang bergejolak. Pasar kripto juga ikut terseret dalam pusaran ketidakpastian global.
Bitcoin yang sebelumnya sempat stabil di atas US$70.000 kini kembali melemah dan diperdagangkan di sekitar US$69.000. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran membuat investor global lebih berhati-hati terhadap aset berisiko.
Situasi ini memunculkan pertanyaan penting di kalangan investor digital: bagaimana proyeksi harga Bitcoin jika konflik geopolitik terus meningkat? Apakah penurunan ini hanya koreksi sementara, atau justru sinyal tekanan yang lebih besar bagi pasar kripto?
Proyeksi Harga Bitcoin Saat Konflik Geopolitik Memanas
Secara umum, proyeksi harga Bitcoin dalam jangka pendek cenderung tertekan jika eskalasi konflik Timur Tengah terus berlanjut.
Beberapa faktor utama yang mempengaruhi pasar:
Bitcoin turun di bawah level psikologis US$70.000
Investor global cenderung menerapkan sentimen risk-off
Area support Bitcoin berikutnya berada di kisaran US$65.000 – US$60.000
Lonjakan harga minyak berpotensi memicu inflasi global
Inflasi yang tinggi dapat membuat The Fed menahan suku bunga tetap tinggi
Kombinasi faktor geopolitik dan makroekonomi tersebut membuat sentimen pasar kripto global menjadi lebih rapuh dalam jangka pendek.
Konflik Timur Tengah Picu Ketidakpastian Pasar Global
Ketegangan geopolitik meningkat setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengklaim kemenangan dalam konflik dengan Iran, tetapi menegaskan bahwa operasi militer akan terus dilanjutkan.
Trump menyebut militer AS berhasil menghancurkan sebagian besar kekuatan laut dan udara Iran dalam waktu singkat. Namun operasi belum dianggap selesai.
Di sisi lain, Iran melancarkan serangan balasan di berbagai wilayah Timur Tengah, termasuk menyerang kapal tanker bahan bakar di perairan Irak.
Eskalasi ini memicu ketidakpastian di pasar global karena konflik militer di kawasan tersebut sering berdampak langsung pada rantai pasokan energi dunia.
Lonjakan Harga Minyak dan Risiko Inflasi Global
Konflik geopolitik tersebut langsung tercermin pada lonjakan harga minyak dunia.
Harga minyak sempat menyentuh hampir US$120 per barel sebelum kembali turun ke kisaran US$90. Namun dalam perdagangan terbaru, harga kembali naik sekitar 5% menjadi sekitar US$94 per barel.
Militer Iran bahkan memperingatkan bahwa harga minyak dapat melonjak hingga US$200 per barel jika ketegangan regional semakin memburuk.
Untuk meredam gejolak harga energi, International Energy Agency (IEA) mengumumkan rencana pelepasan sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategis global.
Lonjakan harga energi ini berpotensi memicu inflasi global, yang pada akhirnya bisa mempengaruhi kebijakan moneter bank sentral, terutama Federal Reserve.
Dampak Geopolitik terhadap Pasar Kripto
Kondisi geopolitik yang tidak stabil biasanya membuat investor global mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk kripto.
Menurut analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur, eskalasi konflik dapat memicu tekanan pada pasar kripto dalam jangka pendek.
“Ketika ketegangan geopolitik meningkat dan harga energi melonjak, pasar biasanya merespons dengan menurunkan eksposur terhadap aset berisiko. Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung beralih ke aset yang dianggap lebih aman,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa situasi tersebut dapat meningkatkan tekanan jual pada Bitcoin dan aset kripto lainnya.
Fyqieh juga menambahkan bahwa lonjakan harga minyak dapat memperparah inflasi global.
“Jika harga minyak terus naik hingga memicu inflasi yang lebih tinggi, maka ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga akan semakin terbatas. Suku bunga tinggi biasanya mengurangi likuiditas di pasar dan menjadi faktor yang kurang mendukung bagi aset spekulatif seperti kripto,” jelasnya melalui hasil riset yang diterima AKURAT.CO, Kamis, 12 Maret 2026.
Analisis Teknikal Bitcoin dan Area Support Penting
Dari sisi teknikal, Bitcoin saat ini masih menghadapi tekanan setelah gagal mempertahankan level penting di atas US$70.000.
Menurut Fyqieh, kondisi tersebut menunjukkan struktur bearish jangka pendek.
“Secara teknikal, Bitcoin saat ini masih berada dalam struktur bearish jangka pendek setelah gagal mempertahankan level psikologis US$70.000,” katanya.
Jika tekanan jual berlanjut, beberapa level penting yang perlu diperhatikan antara lain:
Support pertama: US$65.000
Support kuat: US$60.000
Area tersebut menjadi zona penting yang sering dipantau trader untuk menentukan apakah pasar akan memantul atau justru melanjutkan tren penurunan.
Apakah Bitcoin Masih Dianggap Safe Haven Saat Perang?
Dalam beberapa tahun terakhir, Bitcoin sering disebut sebagai “emas digital” atau aset lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi.
Namun kenyataannya, dalam banyak kasus konflik geopolitik, Bitcoin justru bergerak seperti aset berisiko.
Hal ini terjadi karena sebagian besar investor kripto masih berasal dari pasar spekulatif yang sensitif terhadap:
likuiditas global
kebijakan suku bunga
sentimen investor
Ketika ketidakpastian meningkat, banyak investor memilih memindahkan dana mereka ke aset yang lebih stabil seperti dolar AS atau emas.
Simulasi Risiko: Dampak Penurunan Harga Bitcoin
Untuk memahami volatilitas pasar kripto, berikut ilustrasi sederhana.
Misalnya seorang investor membeli Bitcoin di harga US$70.000.
Jika harga turun ke US$60.000, maka:
Penurunan nilai: US$10.000
Persentase kerugian: sekitar 14%
Contoh sederhana ini menunjukkan bahwa pergerakan harga Bitcoin bisa sangat cepat dan signifikan, terutama saat pasar dipengaruhi sentimen global.
Apa Arti Konflik Timur Tengah bagi Investor Kripto?
Konflik geopolitik tidak hanya mempengaruhi pasar energi, tetapi juga berdampak pada berbagai kelas aset.
Bagi investor kripto, situasi ini memiliki beberapa implikasi penting:
Volatilitas pasar meningkat
Likuiditas global bisa menyusut
Kebijakan suku bunga menjadi lebih ketat
Sentimen investor berubah menjadi risk-off
Namun di sisi lain, volatilitas juga sering menciptakan peluang bagi trader jangka pendek yang mampu membaca pergerakan pasar.
Penutup
Konflik geopolitik sering muncul secara tiba-tiba, tetapi dampaknya terhadap pasar keuangan bisa bertahan lebih lama dari yang diperkirakan.
Dalam kondisi seperti sekarang, proyeksi harga Bitcoin sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik Timur Tengah, harga minyak dunia, serta kebijakan moneter global.
Bagi investor kripto, memahami dinamika ekonomi global menjadi semakin penting. Pasar digital tidak lagi bergerak sendiri, tetapi semakin terhubung dengan kondisi geopolitik dan kebijakan ekonomi dunia.
Karena itu, memantau perkembangan global menjadi kunci untuk membaca arah pergerakan Bitcoin di tengah ketidakpastian pasar saat ini.
Baca Juga: Bitcoin Terguncang Konflik Iran VS Israel dan AS, Safe Haven Kembali Dipertanyakan
Baca Juga: Pertaruhan Arah Ekonomi AS, Lebih Aman Investasi Bitcoin atau Emas?
FAQ
1. Mengapa harga Bitcoin turun saat konflik Timur Tengah meningkat?
Harga Bitcoin bisa turun ketika konflik geopolitik meningkat karena investor global cenderung menghindari aset berisiko. Ketegangan di Timur Tengah memicu sentimen risk-off, sehingga banyak investor memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS atau emas. Akibatnya, tekanan jual di pasar kripto meningkat dan membuat harga Bitcoin hari ini bergerak melemah.
2. Apakah konflik Timur Tengah benar-benar mempengaruhi pasar kripto?
Ya, dampak konflik Timur Tengah ke Bitcoin biasanya terlihat melalui perubahan sentimen pasar global. Ketika ketidakpastian geopolitik meningkat, volatilitas pasar keuangan ikut naik, termasuk pasar kripto. Investor menjadi lebih berhati-hati dalam menempatkan dana pada aset spekulatif seperti Bitcoin dan altcoin.
3. Mengapa Bitcoin berada di bawah level US$70.000?
Saat ini Bitcoin di bawah 70000 karena kombinasi faktor geopolitik, tekanan makroekonomi, serta aksi ambil untung dari investor. Selain itu, lonjakan harga minyak dunia meningkatkan risiko inflasi global, yang berpotensi membuat kebijakan moneter tetap ketat. Kondisi ini mengurangi likuiditas di pasar kripto dan memicu koreksi harga Bitcoin.
4. Berapa level support penting Bitcoin saat ini?
Berdasarkan analisis Bitcoin terbaru, level support yang banyak dipantau trader berada di kisaran US$65.000 hingga US$60.000. Area tersebut dianggap sebagai zona pertahanan harga jika tekanan jual terus berlanjut. Jika support Bitcoin 65000 berhasil bertahan, ada peluang harga kembali stabil atau mengalami pemantulan.
5. Apakah kenaikan harga minyak mempengaruhi Bitcoin?
Kenaikan harga minyak dapat berdampak pada pasar kripto melalui jalur inflasi dan kebijakan moneter. Ketika harga minyak dan pasar kripto saling terhubung melalui faktor makroekonomi, inflasi global berpotensi meningkat. Jika inflasi naik, bank sentral seperti The Fed mungkin menahan suku bunga tetap tinggi, yang biasanya kurang mendukung pertumbuhan harga Bitcoin.
6. Apakah Bitcoin aman saat terjadi perang atau konflik global?
Banyak orang menganggap Bitcoin sebagai aset lindung nilai, tetapi dalam praktiknya apakah Bitcoin aman saat perang masih menjadi perdebatan. Dalam beberapa situasi krisis global, Bitcoin justru bergerak seperti aset berisiko karena investor mencari likuiditas cepat. Namun dalam jangka panjang, sebagian investor tetap melihat Bitcoin sebagai alternatif terhadap sistem keuangan tradisional.
7. Bagaimana prediksi Bitcoin jika konflik geopolitik terus meningkat?
Prediksi Bitcoin dalam jangka pendek cenderung volatil jika konflik geopolitik terus meningkat. Tekanan jual bisa berlanjut hingga menguji area support di sekitar US$65.000 atau bahkan US$60.000. Namun arah pergerakan jangka menengah tetap bergantung pada perkembangan konflik, stabilitas harga energi, serta kebijakan suku bunga global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









