Akurat
Pemprov Sumsel

Inflasi AS 2,4 Persen Tahan Pergerakan Pasar Kripto

Esha Tri Wahyuni | 13 Maret 2026, 19:16 WIB
Inflasi AS 2,4 Persen Tahan Pergerakan Pasar Kripto
Industri kripto

AKURAT.CO Pasar kripto global, termasuk Bitcoin dan aset digital lainnya, saat ini berada dalam fase “wait and see” setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) Februari 2026 tercatat stabil di level 2,4% secara tahunan.

Stabilnya inflasi tersebut membuat investor kripto menahan langkah sambil menunggu arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang dinilai masih menjadi faktor utama yang menentukan likuiditas pasar global dan pergerakan aset berisiko.

Pelaku industri kripto menilai kondisi ini mencerminkan fase konsolidasi pasar. Investor cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil posisi, sembari mencermati rilis data ekonomi berikutnya serta sinyal kebijakan moneter dari bank sentral AS. 

Baca Juga: CFX Rilis Laporan Perdana Industri Kripto, Total Transaksi Februari Rp28,21 Trliun

Faktor seperti inflasi AS, suku bunga The Fed, volatilitas harga energi, hingga ketegangan geopolitik global kini menjadi indikator utama yang mempengaruhi sentimen di pasar kripto.

Vice President Indodax, Antony Kusuma mengatakan, angka inflasi AS pada Februari yang berada di level 2,4% sebenarnya telah sesuai dengan ekspektasi pasar.

“Angka inflasi Februari 2026 yang berada di 2,4 persen sesuai dengan ekspektasi pasar, sehingga sentimen investor cenderung lebih stabil,” ujar Antony dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (13/3/2026).

Menurutnya, dalam situasi seperti sekarang, fokus utama investor bukan lagi sekadar angka inflasi semata, melainkan bagaimana The Fed merespons data tersebut melalui kebijakan suku bunga.

“Pelaku pasar biasanya akan lebih fokus mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed karena kebijakan moneter masih menjadi faktor utama yang mempengaruhi likuiditas dan pergerakan aset berisiko, termasuk kripto,” jelasnya.

Inflasi AS Masih Terkendali, Namun Masih di Atas The Fed

Data ekonomi terbaru menunjukkan tekanan inflasi di Amerika Serikat masih relatif terkendali, meskipun belum sepenuhnya kembali ke target bank sentral.

Berdasarkan laporan ekonomi terbaru, inflasi bulanan AS pada Februari 2026 tercatat naik 0,3%, sedikit lebih tinggi dibandingkan 0,2% pada Januari.

Sementara itu, inflasi inti atau core Consumer Price Index (CPI) yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi tercatat meningkat 0,2% secara bulanan dan 2,5% secara tahunan. Angka ini sejalan dengan proyeksi para analis pasar.

Antony menilai stabilnya data inflasi tersebut memperkuat pandangan bahwa tekanan harga di ekonomi AS masih berada dalam kondisi yang relatif terkendali.

“Stabilnya angka inflasi ini memperkuat pandangan bahwa tekanan harga di ekonomi AS masih relatif terkendali, meskipun tetap berada di atas target inflasi 2 persen yang ditetapkan oleh Federal Reserve,” ujarnya.

Bagi pasar kripto, kondisi ini membuat investor belum memiliki katalis kuat untuk melakukan akumulasi besar ataupun aksi jual signifikan.

The Fed di Prediksi Tahan Suku Bunga

Ekspektasi investor terhadap arah kebijakan moneter juga tercermin dalam proyeksi pasar global. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, probabilitas Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada pertemuan Maret 2026 mencapai hampir 99%.

Sementara itu, peluang pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin pada April 2026 masih tergolong kecil, yakni hanya sekitar 11%.

Kondisi tersebut membuat pasar kripto bergerak lebih defensif karena likuiditas global sangat bergantung pada kebijakan suku bunga AS.

Ketika suku bunga tinggi dipertahankan, investor biasanya cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti obligasi pemerintah.

“Untuk saat ini, pasar cenderung berada dalam fase menunggu sambil memperhatikan perkembangan data ekonomi berikutnya,” kata Antony.

Respons pasar kripto terhadap rilis data inflasi terbaru juga dinilai relatif terbatas. Hal ini menunjukkan investor masih menunggu sinyal yang lebih jelas dari bank sentral AS sebelum mengambil keputusan investasi yang lebih agresif.

Selain faktor kebijakan moneter, pasar kripto juga dipengaruhi oleh dinamika global lainnya, termasuk ketegangan geopolitik dan fluktuasi harga energi.

Dalam beberapa pekan terakhir, volatilitas harga minyak dunia meningkat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini berpotensi memicu tekanan inflasi baru jika harga energi terus naik.

Bagi pasar keuangan global, lonjakan harga minyak biasanya berdampak langsung pada ekspektasi inflasi dan kebijakan suku bunga bank sentral.

Ketika inflasi berpotensi meningkat kembali, peluang pemangkasan suku bunga menjadi semakin kecil.

Dampaknya, aset berisiko seperti saham teknologi dan kripto biasanya mengalami tekanan volatilitas yang lebih tinggi.

Di tengah ketidakpastian global tersebut, pelaku industri kripto mengimbau investor untuk tetap menerapkan strategi investasi yang disiplin.

Antony menekankan pentingnya manajemen risiko, terutama bagi investor ritel yang aktif di pasar kripto yang terkenal sangat volatil.

“Investor perlu tetap mengedepankan manajemen risiko yang disiplin dan melakukan riset secara mandiri atau Do Your Own Research (DYOR),” ujarnya.

Dirinya juga menyarankan strategi investasi bertahap seperti Dollar Cost Averaging (DCA) untuk mengurangi risiko volatilitas harga.

Strategi DCA memungkinkan investor membeli aset kripto secara berkala dengan nominal yang sama dalam jangka waktu tertentu. Pendekatan ini dinilai efektif untuk mengurangi dampak fluktuasi harga yang tajam di pasar kripto.

Selain itu, Indodax juga terus mendorong peningkatan literasi aset kripto di Indonesia melalui berbagai program edukasi bagi masyarakat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.