Honda Proyeksikan Kerugian Pertama dalam 70 Tahun, Imbas Restrukturisasi Bisnis EV Senilai USD15,7 Miliar

AKURAT.CO Raksasa otomotif Jepang, Honda Motor, memperkirakan akan membukukan kerugian tahunan pertamanya sejak melantai di bursa hampir tujuh dekade lalu.
Tekanan utama berasal dari biaya restrukturisasi besar-besaran di bisnis kendaraan listrik (EV) yang nilainya dapat mencapai CNY2,5 triliun setara USD15,7 miliar.
Langkah ini mencerminkan realitas baru di industri otomotif global: permintaan kendaraan listrik yang melambat jauh dari ekspektasi awal, memaksa produsen mobil untuk meninjau ulang strategi elektrifikasi mereka.
Baca Juga: 5 Cara Merawat Honda Mobilio agar Tetap Awet dan Nyaman Dikendarai
Situasi semakin kompleks setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump menghentikan dukungan pemerintah terhadap kendaraan listrik.
Kebijakan tersebut mendorong sejumlah produsen besar—termasuk Ford Motor Company dan Stellantis—untuk merevisi rencana investasi EV mereka serta mencatat penurunan nilai aset (write-down) dalam jumlah besar.
Program EV AS Dibatalkan
Sebagai produsen mobil terbesar kedua di Jepang, Honda mengungkapkan bahwa sebagian besar kerugian berasal dari pembatalan tiga model EV yang sebelumnya direncanakan untuk diproduksi di Amerika Serikat.
Chief Executive Officer Toshihiro Mibe mengatakan permintaan kendaraan listrik turun tajam dalam beberapa waktu terakhir, sehingga mempertahankan profitabilitas di segmen tersebut menjadi sangat sulit.
Mengalami kerugian yang terkait dengan peninjauan ulang strategi elektrifikasi kendaraan bermotor, dikutip dari laman resmi honda, Senin (16/3/2026).
Tekanan dari China
Selain restrukturisasi di AS, Honda juga menurunkan valuasi bisnisnya di China. Di pasar terbesar dunia tersebut, perusahaan kesulitan bersaing dengan produsen lokal yang lebih unggul dalam teknologi kendaraan berbasis perangkat lunak, seperti BYD.
Berbalik dari Laba ke Rugi
Honda kini memperkirakan kerugian hingga CNY570 miliar (sekitar USD3,6 miliar) untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret mendatang. Proyeksi ini berbalik drastis dari perkiraan sebelumnya yang masih memprediksi laba sebesar CNY550 miliar.
Jika terealisasi, ini akan menjadi kerugian tahunan pertama Honda sejak perusahaan tersebut terdaftar di pasar saham pada 1957.
Pasar merespons negatif pengumuman tersebut. Saham Honda yang diperdagangkan di Amerika Serikat turun sekitar 8% dalam perdagangan pra-pasar.
Gelombang Penurunan Nilai di Industri
Honda bukan satu-satunya produsen otomotif yang menanggung beban besar akibat koreksi strategi EV. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah pemain global telah mencatatkan penurunan nilai investasi besar-besaran.
Secara keseluruhan, total penurunan nilai atau write down industri terkait EV kini diperkirakan mencapai sekitar USD67 miliar. General Motors memperingatkan potensi kerugian hingga USD7,6 miliar. Stellantis menandai dampak hingga USD25 miliar. Ford Motor Company memperkirakan tekanan sekitar USD19 miliar.
Fokus Baru: India
Di tengah tekanan dari produsen China di berbagai pasar Asia, Honda berencana memperkuat portofolio model serta meningkatkan daya saing biaya di India.
Negara tersebut dipandang sebagai pasar dengan potensi pertumbuhan besar, terutama karena produsen otomotif China memiliki akses terbatas di sana—mirip dengan situasi di Amerika Serikat.
Pemangkasan Gaji Eksekutif
Sebagai bentuk tanggung jawab manajemen, CEO Toshihiro Mibe dan Executive Vice President Noriya Kaihara akan secara sukarela memotong sekitar 30% dari kompensasi mereka selama tiga bulan. Sejumlah eksekutif lain juga akan memangkas sekitar 20% dari remunerasi mereka.
Honda menyatakan akan mengumumkan strategi bisnis jangka menengah hingga panjang yang baru pada tahun fiskal berikutnya—sebuah langkah yang diharapkan dapat mengarahkan kembali perusahaan di tengah perubahan cepat lanskap industri otomotif global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







