Akurat
Pemprov Sumsel

Laba Bank Permata Rp3,6 Triliun di 2025, Kredit dan CASA Tumbuh

Esha Tri Wahyuni | 17 Maret 2026, 10:30 WIB
Laba Bank Permata Rp3,6 Triliun  di 2025, Kredit dan CASA Tumbuh
Bank Permata mencatat laba bersih Rp3,6 triliun pada 2025. Kredit tumbuh 5,5% dan rasio CASA naik 20,1% seiring penguatan kinerja dan likuiditas bank.

AKURAT.CO PT Bank Permata Tbk mencatat kinerja positif sepanjang 2025 dengan laba bersih mencapai Rp3,6 triliun, didukung pertumbuhan pendapatan dan ekspansi kredit. Capaian ini diungkap dalam Public Expose Permata Bank pada 12 Maret 2026 di Jakarta.

Direktur Keuangan dan Unit Usaha Syariah Permata Bank, Rudy Basyir Ahmad mengatakan, kinerja tersebut menunjukkan fundamental bank tetap kuat di tengah dinamika ekonomi global.

“Permata Bank terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap disiplin dan prudent serta menempatkan nasabah sebagai pusat setiap keputusan bisnis. Dengan fundamental yang resilien dan dukungan penuh Bangkok Bank, kami mampu menjaga pertumbuhan pendapatan serta kualitas aset yang tetap terjaga,” ujar Rudy dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa (17/3/2026).

Baca Juga: HijrahFest 2026, Permata Bank Syariah Tawarkan Margin hingga 0,79 Persen

Sepanjang 2025, Permata Bank membukukan total pendapatan Rp12,6 triliun, naik 3,8% secara tahunan (year-on-year/YoY). Peningkatan ini terutama didorong lonjakan pendapatan non-bunga sebesar 34,1% YoY menjadi Rp2,6 triliun.

Dari sisi neraca, total aset bank meningkat 3,6% YoY menjadi Rp268,3 triliun. Sementara itu, simpanan nasabah mencapai Rp192,8 triliun, tumbuh 3,9% YoY.

Pertumbuhan dana murah juga terlihat dari Current Account Saving Account (CASA) yang naik 20,1% YoY, sehingga rasio CASA mencapai 63,9%.

Di sisi intermediasi, penyaluran kredit Permata Bank mencapai Rp163,3 triliun, tumbuh 5,5% YoY. Segmen korporasi menjadi kontributor utama dengan kenaikan 11,2% YoY menjadi Rp99,6 triliun.

Permata Bank menyatakan tetap menjaga kondisi likuiditas dan permodalan yang solid.

Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat 84,5%, mencerminkan penyaluran kredit yang masih dalam batas sehat menurut standar industri perbankan.

Sementara indikator likuiditas Basel III menunjukkan posisi yang kuat, dengan:

  • Liquidity Coverage Ratio (LCR) rata-rata: 296,5%

  • Net Stable Funding Ratio (NSFR): 126,8%

Keduanya jauh di atas ambang minimum regulator yang umumnya berada di kisaran 100%.

Dari sisi permodalan, Capital Adequacy Ratio (CAR) Permata Bank berada di 34,6%, sedangkan CET-1 mencapai 26,6%. Rasio tersebut termasuk tinggi dibanding rata-rata industri perbankan nasional yang berada di kisaran 26–27% pada 2025 menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Permata Bank juga melaporkan kualitas aset yang tetap stabil.

  • Rasio Non Performing Loan (NPL) gross tercatat 2,1%, masih di bawah batas aman regulator sebesar 5%.

  • Sementara indikator risiko kredit lain, Loan at Risk (LAR), membaik menjadi 6,3%.

Bank juga mempertahankan tingkat pencadangan yang konservatif dengan:

  • NPL Coverage Ratio: 356%

  • LAR Coverage Ratio: 118%

Permata Bank menyatakan secara aktif melakukan restrukturisasi kredit, litigasi, dan penjualan aset untuk mempercepat penyelesaian kredit bermasalah.

Baca Juga: Permata Bank Raup Laba Rp3,6 Triliun di 2025, NPL Terjaga 2,1 Persen

Unit Usaha Syariah Permata Bank juga mencatat kinerja positif sepanjang 2025.

Laba operasional sebelum provisi tercatat Rp785,3 miliar, tumbuh 8,1% YoY. Pertumbuhan ini didorong oleh pendapatan setelah distribusi bagi hasil yang naik 6,4% YoY serta efisiensi biaya operasional.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan industri perbankan syariah Indonesia pada 2025 masih tumbuh stabil dengan pangsa pasar sekitar 7,4% dari total industri perbankan nasional.

Dalam kesempatan yang sama, Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,1%–5,2%.

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menilai konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi.

Namun, sejumlah faktor eksternal perlu dicermati, terutama volatilitas pasar keuangan global dan dinamika perdagangan internasional.

PIER juga menilai ruang pelonggaran kebijakan moneter masih terbuka secara terbatas.

Inflasi inti diperkirakan tetap terkendali, sementara arah penurunan suku bunga global diprediksi berlangsung secara bertahap.

Permata Bank juga menekankan penguatan layanan digital melalui pengembangan Permata ME, aplikasi mobile banking yang memungkinkan nasabah mengakses berbagai layanan perbankan secara digital.

Selain itu, bank juga mengembangkan Permata eBusiness untuk mendukung kebutuhan transaksi nasabah korporasi dan bisnis.

Transformasi digital ini diperkuat dengan konsep Modernized Branch, yaitu cabang dengan layanan berbasis teknologi yang lebih efisien dan terintegrasi.

Tren digitalisasi perbankan di Indonesia memang meningkat pesat. Data Bank Indonesia menunjukkan nilai transaksi digital banking nasional mencapai lebih dari Rp58.000 triliun pada 2025, tumbuh dua digit dibanding tahun sebelumnya.

Permata Bank juga memperluas portofolio pembiayaan berkelanjutan.

Pada 2025, portofolio Kategori Kegiatan Usaha Berkelanjutan (KKUB) meningkat 33,3% YoY menjadi Rp30,1 triliun.

Pembiayaan ini didominasi oleh Kegiatan Usaha Berwawasan Lingkungan (KUBL) senilai Rp24,9 triliun, yang mencakup sektor energi terbarukan, transportasi ramah lingkungan, pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan, bangunan hijau dan efisiensi energi.

Permata Bank juga menargetkan Net Zero Emissions untuk operasional pada 2030 dan aktivitas pembiayaan pada 2052.

Dalam program tanggung jawab sosial perusahaan, Permata Bank menjalankan program Adopt-A-Tree: 1 Misi Hijaukan Bumi.

Program ini mengajak karyawan berpartisipasi dalam aktivitas ramah lingkungan dengan mencatat lebih dari 80 juta langkah aktivitas fisik, yang kemudian dikonversi menjadi bibit pohon untuk ditanam di kawasan Bukit Tigapuluh, Jambi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.