Akurat
Pemprov Sumsel

Bitcoin Anjlok 4,5 persen Usai Sinyal The Fed Soal Inflasi

Esha Tri Wahyuni | 19 Maret 2026, 13:30 WIB
Bitcoin Anjlok 4,5 persen Usai Sinyal The Fed Soal Inflasi
Ilustrasi Bitcoin

AKURAT.CO Harga Bitcoin anjlok pada perdagangan Rabu waktu setempat, turun 4,5% ke level USD71.004,2 setelah sebelumnya sempat mendekati USD76.000.

Penurunan ini terjadi seiring meningkatnya tekanan global usai pernyataan bank sentral AS, Federal Reserve, terkait ketidakpastian inflasi akibat lonjakan harga energi dan konflik geopolitik.

Mengutip dari laman investing menunjukkan pelemahan tidak hanya terjadi pada Bitcoin, tetapi juga diikuti mayoritas aset kripto lain.

Ethereum turun 6,1% ke USD2.188,74, sementara XRP melemah 4,2% ke USD1,4631. Aset lain seperti Solana turun 5,2%, Cardano terkoreksi 6,0%, dan Dogecoin melemah 5,7%.

Baca Juga: Proyeksi Harga Bitcoin di Tengah Konflik Timur Tengah, Bisakah Turun ke US$60.000?

Ketua The Fed, Jerome Powell, menegaskan bahwa kenaikan harga energi akibat konflik Timur Tengah berpotensi mendorong inflasi dalam jangka pendek.

“Dalam jangka pendek, harga energi yang lebih tinggi akan mendorong inflasi secara keseluruhan,” ujar Powell dikutip dari Reuters, Kamis (19/3/2026).

Dalam rapat terbaru, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memutuskan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5%–3,75%. Dari 12 anggota, 11 memilih untuk tidak mengubah kebijakan tersebut.

Powell menyatakan ketidakpastian masih tinggi terkait dampak konflik terhadap ekonomi global. “Kami akan membuat keputusan berdasarkan setiap pertemuan,” kata Powell, menegaskan bahwa arah kebijakan moneter tetap fleksibel dan bergantung pada perkembangan data inflasi.

The Fed juga memperkirakan inflasi akan melandai sepanjang 2026, namun dengan laju yang lebih lambat dari proyeksi sebelumnya. Bank sentral tersebut masih membuka peluang dua kali penurunan suku bunga, dengan catatan tekanan inflasi tidak kembali meningkat.

Pasar kripto dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan volatilitas tinggi, sejalan dengan dinamika makro global. Secara historis, aset kripto seperti Bitcoin kerap bergerak searah dengan aset berisiko (risk assets), termasuk saham teknologi, terutama saat terjadi perubahan kebijakan moneter AS.

Lonjakan harga minyak akibat eskalasi konflik Timur Tengah menjadi faktor tambahan yang memperburuk sentimen pasar. Kenaikan harga energi berpotensi memicu inflasi lanjutan, yang pada akhirnya membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan.

Selain faktor makro, laporan penundaan rencana debut pasar oleh bursa kripto Kraken turut menambah tekanan psikologis di pasar, memperkuat aksi jual di kalangan investor.

Pelemahan harga kripto ini mencerminkan meningkatnya risk-off sentiment di pasar global. Investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko dan beralih ke instrumen yang lebih aman.

Baca Juga: Bitcoin Terguncang Konflik Iran VS Israel dan AS, Safe Haven Kembali Dipertanyakan

Penurunan serentak di berbagai aset kripto juga menunjukkan korelasi tinggi antar aset digital, di mana pergerakan Bitcoin masih menjadi indikator utama arah pasar. Koreksi lebih dari 4% dalam sehari menandakan volatilitas tetap tinggi, terutama bagi investor jangka pendek.

Bagi investor ritel, kondisi ini meningkatkan risiko kerugian, terutama bagi mereka yang masuk di harga puncak tanpa strategi manajemen risiko yang memadai. Sementara itu, pelaku pasar institusional cenderung menahan posisi sambil menunggu kejelasan arah kebijakan The Fed.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.