Bitcoin Rebound ke USD70.700 Meski Sinyal Turun Masih Kuat

AKURAT.CO Harga Bitcoin kembali menguat setelah sempat mengalami koreksi tajam dalam dua hari terakhir.
Pada perdagangan 20 Maret 2026, Bitcoin tercatat naik hampir 3% dari titik terendahnya di kisaran USD68.690 dan kembali diperdagangkan di atas USD70.700.
Diketahi sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi lokal mendekati USD76.000 pada 17 Maret.
Baca Juga: Bitcoin Anjlok 4,5 persen Usai Sinyal The Fed Soal Inflasi
Data pasar menunjukkan, meski terjadi pemantulan jangka pendek, tekanan penurunan masih membayangi pergerakan aset kripto terbesar tersebut.
Secara teknikal, struktur harga saat ini masih membentuk pola head and shoulders pada grafik 8 jam indikator yang secara historis sering menjadi sinyal pembalikan arah ke tren turun.
Zona resistance utama berada di rentang USD70.800 hingga USD72.800. Jika harga gagal menembus area ini secara konsisten, maka potensi terbentuknya “bahu kanan” akan semakin kuat.
Sementara itu, level USD76.000 menjadi batas krusial untuk mengubah struktur menjadi bullish.
Di sisi bawah, garis neckline berada di sekitar USD68.600, di mana penembusan ke bawah level ini berpotensi memicu koreksi lanjutan.
Baca Juga: Proyeksi Harga Bitcoin di Tengah Konflik Timur Tengah, Bisakah Turun ke US$60.000?
Dari sisi makro, korelasi antara Bitcoin dan indeks dolar AS (DXY) menunjukkan pelemahan tipis ke wilayah negatif. Secara historis, kondisi ini memang mendukung kenaikan harga kripto.
Namun, kekuatan korelasi saat ini dinilai tidak cukup solid untuk menopang reli jangka panjang.
CEO Gracy Chen menyatakan bahwa pasar tidak lagi hanya bereaksi pada keputusan kebijakan kenaikan biaya energi, ekspektasi pelonggaran yang tertunda, dan dolar yang semakin kuat menciptakan lingkungan investasi yang lebih selektif.
“Tekanan jangka pendek Bitcoin setelah pengumuman tersebut mencerminkan kondisi likuiditas yang semakin ketat, sementara posisi institusional tetap sensitif terhadap data inflasi dan stabilitas geopolitik,” ucapnya dikutip dari BeinCrypto, Jumat (20/3/2026).
Kondisi ini terjadi setelah bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, memutuskan menahan suku bunga acuan di tengah inflasi yang masih tinggi.
Kebijakan tersebut berdampak pada penguatan dolar AS dan menekan aliran dana ke aset berisiko seperti kripto.
Dari sisi derivatif, data menunjukkan ketidakseimbangan signifikan di pasar. Nilai posisi short Bitcoin perpetual di bursa Binance mencapai sekitar USD1,93 miliar, jauh lebih besar dibanding posisi long yang hanya sekitar USD711 juta. Artinya, posisi short hampir 2,7 kali lebih dominan, mencerminkan ekspektasi pelaku pasar terhadap potensi penurunan harga.
Sementara itu, data on-chain dari Glassnode menunjukkan metrik Net Unrealized Profit/Loss (NUPL) turun dari 0,27 pada 16 Maret menjadi 0,22. Meski menurun, angka ini masih relatif tinggi dibanding level Februari di kisaran 0,14. Kondisi tersebut mengindikasikan sebagian besar investor masih berada dalam posisi untung, yang berpotensi memicu aksi ambil untung jika sentimen pasar melemah.
Secara historis, fase profit tinggi sering kali diikuti tekanan jual, terutama ketika likuiditas pasar mulai mengetat. Hal ini juga tercermin dalam pola pergerakan Bitcoin sepanjang awal 2026, di mana reli kerap gagal menembus resistance kuat dan berujung pada koreksi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini











