Yen Tertekan, Dolar AS Menguat di Tengah Konflik Timur Tengah

AKURAT.CO Dolar Amerika Serikat menguat pada perdagangan Senin (30/3/2026) dan berada di jalur kenaikan bulanan terbesar sejak Juli, di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah yang berdampak luas pada stabilitas ekonomi global.
Data pasar menunjukkan indeks dolar AS berada di level 100,14 pada awal perdagangan, mencerminkan penguatan terhadap enam mata uang utama dunia.
Sementara itu, euro tercatat di level USD1,1512 dan berpotensi mencatat penurunan bulanan sebesar 2,5%, menjadi yang terlemah sejak Juli. Poundsterling juga berada di posisi USD1,32585 dengan penurunan bulanan sekitar 1,7%.
Penguatan dolar terjadi seiring meningkatnya permintaan aset safe haven setelah konflik di Timur Tengah menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang menyumbang sekitar 20% distribusi minyak dan gas global.
Kondisi ini mendorong harga minyak mentah Brent menuju kenaikan bulanan terbesar dan memicu ketidakpastian terhadap arah suku bunga global.
“Yang menonjol adalah seberapa cepat probabilitas berubah. Dua minggu lalu, kehadiran militer darat AS di Iran masih dianggap berpeluang rendah. Kini situasinya jelas berbeda. Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar cenderung defensif. Strateginya adalah menjual aset berisiko saat reli dan mempertahankan lindung nilai volatilitas," ujar Kepala Riset Pepperstone, Chris Weston dikutip dari Reuters, Senin (30/3/2026).
Dari sisi Asia, yen Jepang kembali menjadi sorotan setelah melemah hingga menyentuh level 160,47 per USD, sebelum sedikit menguat ke 159,97. Level tersebut menjadi titik kritis karena terakhir kali disentuh pada Juli 2024 saat pemerintah Jepang melakukan intervensi pasar valuta asing.
Diplomat mata uang utama Jepang, Atsushi Mimura, menegaskan otoritas siap mengambil langkah tegas jika pergerakan spekulatif terus berlanjut.
“Kami siap mengambil langkah yang menentukan terhadap pergerakan berlebihan di pasar valuta asing,” ujarnya.
Baca Juga: Efek Domino Global: Dolar Menguat, Mata Uang Asia Tertekan
Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda, juga menyatakan pihaknya memantau ketat pergerakan nilai tukar yen karena dampaknya yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan inflasi domestik.
Selain yen, mata uang lain turut tertekan. Dolar Australia turun 0,3% ke USD0,6851 dan diperkirakan mencatat penurunan bulanan sebesar 3,8%, menjadi yang terdalam sejak Desember 2024. Dolar Selandia Baru juga melemah 0,4% ke USD0,57275 dengan penurunan bulanan mencapai 4,4%.
Konflik yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 kini telah meluas ke kawasan Timur Tengah, termasuk potensi keterlibatan kelompok Houthi di Yaman. Pakistan disebut tengah menyiapkan pembicaraan diplomatik untuk meredakan konflik, meskipun Iran menegaskan siap merespons jika terjadi operasi militer darat oleh AS.
Secara historis, setiap gangguan di Selat Hormuz selalu berdampak signifikan terhadap pasar energi global dan nilai tukar mata uang utama. Ketergantungan dunia terhadap jalur ini membuat setiap eskalasi konflik langsung tercermin pada lonjakan harga minyak dan peningkatan volatilitas pasar keuangan.
Dampaknya terhadap publik dan pasar mulai terasa, terutama melalui potensi kenaikan harga energi, tekanan inflasi global, serta meningkatnya ketidakpastian kebijakan moneter bank sentral. Investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap aman seperti dolar AS, yang memperkuat posisinya dalam jangka pendek.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini











