Yen Tembus 160 per Dolar AS, BOJ Buka Peluang Naikkan Suku Bunga

AKURAT.CO Yen Jepang kembali melemah tajam hingga menembus level 160 per USD pada Senin (30/3/2026), level terlemah sejak Juli 2024.
Gubernur Bank of Japan (BOJ), Kazuo Ueda menyatakan, bank sentral akan memantau pergerakan mata uang secara ketat karena dampaknya terhadap inflasi dan ekonomi, sekaligus membuka peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Ueda menegaskan bahwa fluktuasi nilai tukar kini memiliki dampak lebih besar terhadap harga dibanding periode sebelumnya.
“Kami tidak mengarahkan kebijakan moneter secara langsung untuk mengendalikan nilai tukar. Namun pergerakan pasar mata uang jelas menjadi faktor penting yang memengaruhi perkembangan ekonomi dan harga,” ujar Ueda dikutip dari Reuters, Senin (30/3/2026).
Baca Juga: Yen Tertekan, Dolar AS Menguat di Tengah Konflik Timur Tengah
Pelemahan yen terjadi di tengah meningkatnya tekanan eksternal, termasuk penguatan dolar AS dan lonjakan harga energi global. Data menunjukkan, nilai tukar yen telah melemah lebih dari 10% sepanjang 12 bulan terakhir, memperbesar biaya impor Jepang yang sangat bergantung pada energi dan bahan baku dari luar negeri.
BOJ sebelumnya mempertahankan suku bunga jangka pendek di level 0,75% pada Maret 2026. Namun bank sentral tetap memberi sinyal kebijakan moneter yang lebih ketat (tightening bias), terutama setelah inflasi inti Jepang bertahan di atas target 2% dalam beberapa bulan terakhir.
Tekanan inflasi juga diperparah oleh kenaikan harga minyak global akibat konflik di Timur Tengah.
Ueda mengakui bahwa kondisi saat ini berbeda dibanding era deflasi panjang Jepang sebelumnya.
“Fluktuasi yen kini berdampak lebih besar terhadap inflasi karena perusahaan semakin aktif menaikkan harga dan upah,” katanya.
Dirinya juga menambahkan, BOJ akan menyesuaikan kebijakan dengan mempertimbangkan risiko terhadap proyeksi pertumbuhan dan inflasi.
Secara historis, Jepang dikenal mempertahankan suku bunga ultra rendah selama lebih dari dua dekade untuk melawan deflasi. Namun sejak 2024, BOJ mulai melakukan normalisasi kebijakan secara bertahap.
Pelemahan yen yang ekstrem seperti saat ini meningkatkan risiko imported inflation yakni inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor.
Dari sisi pasar, kekhawatiran bahwa BOJ tertinggal dalam merespons inflasi telah mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) dalam sepekan terakhir.
Yield obligasi tenor 10 tahun dilaporkan naik mendekati level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir, mencerminkan ekspektasi pasar terhadap pengetatan kebijakan.
Baca Juga: Yen Melemah, BOJ Tetap Tahan Suku Bunga
Di sisi lain, otoritas Jepang juga mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi intervensi pasar valuta asing. Pelemahan yen di atas 160 per USD sebelumnya kerap memicu aksi intervensi pemerintah, seperti yang terjadi pada 2022 dan 2024 untuk menstabilkan pasar.
Dampak langsung dari pelemahan yen dirasakan pada sektor riil, terutama melalui kenaikan harga impor energi, pangan, dan bahan baku industri. Hal ini berpotensi menekan daya beli rumah tangga serta margin perusahaan, sekaligus memperbesar tekanan inflasi domestik.
Menutup pernyataannya, Ueda menegaskan bahwa BOJ akan mengambil langkah kebijakan secara hati-hati namun terukur.
“Jika suku bunga jangka pendek tidak disesuaikan secara tepat dan menyebabkan inflasi melampaui target, terdapat risiko imbal hasil jangka panjang meningkat secara berlebihan,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini











