Akurat
Pemprov Sumsel

Nikkei Ambles 4,7 Persen, Krisis Teluk Guncang Pasar Asia dan Global

Esha Tri Wahyuni | 30 Maret 2026, 11:40 WIB
Nikkei Ambles 4,7 Persen, Krisis Teluk Guncang Pasar Asia dan Global
Nikkei turun 4,7%, Korea Selatan melemah 4,2%, sementara harga minyak melonjak tajam akibat eskalasi konflik di kawasan Teluk.

AKURAT.CO Pasar saham Asia anjlok pada perdagangan Senin (30/3/2026) seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap konflik berkepanjangan di kawasan Teluk yang mulai mendorong lonjakan harga energi global dan risiko inflasi.

Tekanan pasar terjadi bersamaan dengan kenaikan tajam harga minyak dunia yang mencatat lonjakan bulanan terbesar sejak krisis geopolitik besar sebelumnya.

Indeks Nikkei Jepang tercatat turun 4,7% dan memperpanjang penurunan sepanjang Maret menjadi hampir 14%.

Sementara itu, indeks saham Korea Selatan melemah 4,2%, dan indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 1,2%. Tekanan juga terjadi di pasar global, dengan futures S&P 500 turun 0,7% dan Nasdaq melemah 0,9%.

Kenaikan harga energi menjadi pemicu utama. Harga minyak Brent naik 3% ke level USD115,98 per barel, dengan lonjakan bulanan mencapai 60%.

Sementara minyak mentah AS naik 3% ke USD102,52 per barel, mencatat kenaikan 53% sepanjang bulan. Kenaikan ini melampaui lonjakan harga pasca invasi Irak ke Kuwait pada 1990.

Baca Juga: Penutupan Selat Hormuz dan Ambruknya Pasar Saham Asia

Analis senior geo-ekonomi Commonwealth Bank of Australia, Madison Cartwright, mengatakan konflik berpotensi berlangsung lebih lama.

“Iran memiliki kendali atas Selat Hormuz dan kapasitas untuk mengganggu pasar energi global, sehingga kecil insentif untuk meredakan konflik. Kami memperkirakan perang berlangsung setidaknya hingga Juni dengan risiko durasi lebih panjang," ujarnya dikutip dari Reuters, Senin (30/3/2026).

Tekanan juga datang dari potensi gangguan distribusi energi global. Kepala ekonom global JPMorgan, Bruce Kasman, memperingatkan dampak lebih luas jika jalur energi utama terganggu.

“Jika Selat Hormuz tetap tertutup selama satu bulan tambahan, harga minyak bisa naik menuju US$150 per barel dan memicu pembatasan pasokan energi bagi industri,” katanya.

Ketegangan meningkat setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut kemungkinan pengambilalihan Pulau Kharg pusat ekspor minyak utama Iran. Di sisi lain, peluang gencatan senjata tetap terbuka, sementara Pakistan disebut tengah menyiapkan pembicaraan untuk meredakan konflik.

Konflik ini juga melibatkan kelompok Houthi di Yaman yang melancarkan serangan ke Israel, memperluas eskalasi geopolitik di kawasan. Situasi ini memperbesar risiko gangguan pada Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak global.

Secara historis, gangguan di kawasan ini kerap memicu lonjakan harga energi global, seperti saat Perang Teluk 1990 yang menyebabkan lonjakan harga minyak signifikan dan tekanan inflasi global.

Baca Juga: Pasar Saham Asia Menguat Imbas Sentimen Positif Wall Street

Lonjakan harga energi mulai merembet ke berbagai sektor, termasuk gas, pupuk, plastik, aluminium, hingga biaya logistik seperti bahan bakar pesawat dan kapal. Dampak lanjutan diperkirakan akan mendorong kenaikan harga pangan, farmasi, dan produk petrokimia.

Bagi Asia, dampaknya lebih signifikan karena ketergantungan tinggi terhadap impor energi dari Timur Tengah. Kondisi ini meningkatkan risiko inflasi sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi kawasan.

Di sisi kebijakan moneter, pasar mulai mengubah ekspektasi terhadap suku bunga global. Investor kini memperkirakan adanya kenaikan suku bunga sebesar 12 basis poin oleh bank sentral AS tahun ini, berbalik dari ekspektasi penurunan 50 basis poin sebelumnya.

Ketua bank sentral AS, Jerome Powell, dijadwalkan memberikan pernyataan terkait kondisi ekonomi terbaru. Data ekonomi AS pekan ini, termasuk penjualan ritel dan tenaga kerja, akan menjadi indikator penting arah kebijakan selanjutnya.

Proyeksi menunjukkan penambahan tenaga kerja sebesar 55.000 pada Maret, dengan tingkat pengangguran stabil di 4,4%.

Di Eropa, inflasi tahunan diperkirakan naik ke 2,7% dari sebelumnya 1,9%, menandakan tekanan harga mulai meluas akibat kenaikan energi.

Pasar obligasi juga terdampak, dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 47 basis poin menjadi 4,428%, mencerminkan meningkatnya biaya pinjaman global.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.