Akurat
Pemprov Sumsel

Imbas Ancaman Trump ke Iran, IHSG Rontok 2,19 Persen ke 7.026,78

Yosi Winosa | 2 April 2026, 18:17 WIB
Imbas Ancaman Trump ke Iran, IHSG Rontok 2,19 Persen ke 7.026,78
IHSG rontok

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah sebesar 2,19% atau 157,66 poin ke level 7.026,78. Beberapa saham yang menjadi penekan terbesar adalah BREN (-12,73%), AMMN (-8,29%), BYAN (-6,78%), BRPT (12,33%), dan MORA (10,70%).

Sentimen global yang cenderung berhati-hati serta aktivitas perdagangan yang relatif sepi menjelang libur Paskah menekan pasar domestik.

Sehari setelah pasar saham regional Asia menguat karena optimisme tentang meredanya ketegangan di Timur Tengah-menyusul pernyataan Presiden Trump tentang potensi penyelesaian konflik dalam dua hingga tiga minggu sentimen pasar berbalik arah dalam perdagangan hari ini.

Baca Juga: IHSG Turun Saat Bursa Global Naik, Ini Penyebab Utamanya

Dalam pidato nasional terbarunya, Trump mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat berpotensi mengambil tindakan yang lebih agresif terhadap Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan.

“Kami berada di jalur yang tepat untuk segera, dalam waktu dekat, menyelesaikan semua tujuan militer Amerika. Kami akan menyerang mereka dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan,” kata Trump dalam pidato pertamanya yang disiarkan pada jam tayang utama sejak perang di Iran dimulai.

Perubahan nada ini memicu peningkatan ketidakpastian di pasar global, Harga minyak Brent melonjak lebih dari 7%, sementara pasar saham dan obligasi menurun.

"Pergeseran komunikasi ini meredam ekspektasi akan penyelesaian konflik yang akan segera terjadi, yang menjadi pendorong utama volatilitas pasar finansial," tulis riset Eastspring Investment, dikutip Kamis (2/4/2026).

Indeks MSCI Asia Pacific telah turun sekitar 2% sampai saat ini ditulis. Sementara itu, indeks saham berjangka di AS dan Eropa turun lebih dari 1%, di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa konflik yang berkepanjangan dapat membuat harga minyak tetap tinggi dan membebani prospek pertumbuhan ekonomi global.

Di sisi lain, dolar AS menguat, mencerminkan peningkatan permintaan akan aset safe-haven di tengah ketidakpastian geopolitik. Rupiah tercatat melemah sebesar 0,11% ke Rp17.002 per dolar AS, sejalan dengan tekanan yang juga terlihat pada pasar obligasi domestik.

Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 5 tahun mengalami kenaikan 4 basis poin menjadi 6,52%, sementara SBN tenor 10 tahun turun ke level 6,65% dari 6,68%.

Pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah dalam beberapa hari terakhir menunjukkan sensitivitas terhadap perubahan premi risiko, yang terutama dipengaruhi oleh dinamika konflik geopolitik global.

Kemarin, ketika ekspektasi meredanya konflik sempat menguat, imbal hasil SBN 10 tahun turun signifikan sebesar 17 basis poin menjadi 6,68%, semakin menjauh dari kisaran 7%.

Hal ini mencerminkan bahwa persepsi risiko investor terkait perkembangan konflik merupakan faktor kunci dalam menentukan arah pergerakan pasar obligasi domestik.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.