Prediksi Harga Bitcoin: Turun ke US$60.000 atau Siap Bangkit Lagi?

AKURAT.CO Harga Bitcoin tiba-tiba kehilangan tenaga saat pasar global diliputi ketegangan. Ketika banyak orang berharap reli akan berlanjut, justru yang terjadi sebaliknya—harga berbalik turun. Prediksi harga Bitcoin kini menjadi topik panas karena pergerakan terbaru menunjukkan bahwa pasar sedang berada dalam fase penuh ketidakpastian.
Dikutip dari riset Tokocrypto, tekanan ini muncul setelah pidato Donald Trump terkait konflik Iran yang tidak memberikan kepastian arah de-eskalasi. Dari level sekitar US$68.000, Bitcoin terkoreksi ke kisaran US$66.000, mencerminkan perubahan sentimen pasar yang cepat dan tajam.
Jawaban Cepat: Kenapa Bitcoin Turun dan Bagaimana Prediksinya?
Harga Bitcoin turun karena kombinasi faktor makro dan sentimen pasar, antara lain:
Ketidakpastian geopolitik (konflik AS–Iran)
Penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi
Lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi
Tekanan jual dari investor (distribusi, bukan akumulasi)
Untuk prediksi:
Jangka pendek: cenderung sideways dengan risiko turun ke US$60.000
Jangka menengah–panjang: masih berpotensi naik ke US$80.000–100.000 jika kondisi global membaik
Kenapa Harga Bitcoin Turun? Ini Penyebab Utamanya
Penurunan Bitcoin bukan terjadi tanpa alasan. Ada perubahan besar dalam sentimen global.
Ketika pidato Trump tidak memberikan kepastian soal berakhirnya konflik, pasar langsung bereaksi. Ketegangan geopolitik membuat investor menghindari aset berisiko seperti kripto dan beralih ke aset yang lebih aman.
Lonjakan harga minyak lebih dari 5% juga memperkuat kekhawatiran inflasi. Dampaknya, ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama—dan ini biasanya menjadi tekanan bagi Bitcoin.
Data Pasar Bicara: Tekanan Jual Masih Dominan
Jika melihat lebih dalam, pergerakan harga ini sebenarnya sudah “terbaca” dari data.
Indikator menunjukkan:
Cumulative Volume Delta (CVD): dominasi tekanan jual
On-Balance Volume (OBV): terjadi distribusi (investor jual saat harga naik)
Open interest futures: menurun tajam
Volume trading: melemah
Artinya, kenaikan sebelumnya bukan karena kepercayaan pasar, tapi lebih ke momentum sementara. Banyak pelaku pasar justru memanfaatkan kenaikan untuk keluar dari posisi.
Fenomena “Sell the News” di Balik Penurunan Bitcoin
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, melihat ini sebagai fenomena klasik.
"Pasar sebelumnya sudah mengantisipasi kemungkinan de-eskalasi konflik, sehingga sebagian besar sentimen positif sebenarnya sudah tercermin dalam harga,” ujar Fyqieh melalui hasil riset yang diterima AKURAT.CO, dikutip Jumat, 3 April 2026.
Menurutnya, ketika realita tidak sesuai ekspektasi, investor memilih mengurangi risiko.
Secara sederhana:
Harapan tinggi → harga naik duluan
Realita tidak sesuai → harga turun cepat
Inilah yang disebut sell the news.
Prediksi Harga Bitcoin Jangka Pendek: Waspada Area Kritis
Dalam waktu dekat, Bitcoin diperkirakan belum akan bergerak agresif naik.
Beberapa level penting:
Resistance: US$70.000–75.000
Support: sekitar US$60.000
Fyqieh menjelaskan:
“Selama Bitcoin masih berada di bawah area resistance US$70.000–75.000, pergerakan harga cenderung sideways dengan risiko koreksi lanjutan.”
Jika tekanan global berlanjut, bukan tidak mungkin Bitcoin menguji area yang lebih rendah, bahkan di kisaran US$40.000–60.000.
Prospek Bitcoin 2026: Masih Ada Harapan Besar
Meski jangka pendek penuh tekanan, gambaran jangka panjang tetap menarik.
Beberapa faktor pendukung:
Adopsi institusional yang terus meningkat
Efek pasca-halving
Potensi likuiditas global kembali longgar
Proyeksi dasar menunjukkan Bitcoin bisa mencapai:
US$80.000–100.000 dalam skenario normal
Lebih tinggi jika didukung sentimen positif global
Insight: Bitcoin Kini Semakin Tergantung Kondisi Global
Dulu Bitcoin sering dianggap “aset independen”. Tapi sekarang realitanya berbeda.
Pergerakan Bitcoin semakin dipengaruhi oleh:
Kebijakan moneter global
Konflik geopolitik
Pergerakan dolar AS
Artinya, memahami Bitcoin hari ini tidak cukup hanya melihat chart—harus melihat dunia secara keseluruhan.
Simulasi Nyata: Investor Ritel vs Smart Money
Bayangkan dua tipe investor:
Investor ritel: beli di US$68.000 karena takut ketinggalan (FOMO)
Smart money: justru jual di momen yang sama
Ketika harga turun ke US$66.000:
Investor ritel panik
Smart money sudah pegang cash
Inilah pola klasik yang terus berulang di pasar kripto.
Implikasi: Harus Beli atau Menunggu?
Kondisi ini penting untuk dipahami, terutama bagi investor pemula.
Jika salah langkah:
Bisa masuk di harga puncak
Terjebak dalam tren turun
Sebaliknya, jika sabar:
Bisa mendapatkan harga lebih ideal
Menghindari risiko besar
Dalam situasi seperti ini, strategi wait & see sering kali lebih bijak dibanding mengejar harga.
Penutup: Bitcoin Naik atau Turun, Semua Kembali ke Sentimen
Pergerakan Bitcoin saat ini bukan sekadar soal angka, tapi soal kepercayaan pasar.
Ketika dunia diliputi ketidakpastian, bahkan aset sekuat Bitcoin pun bisa goyah dalam jangka pendek. Namun di balik volatilitas itu, tetap ada peluang bagi mereka yang memahami pola dan tidak terburu-buru mengambil keputusan.
Pertanyaannya sekarang: apakah ini awal koreksi lebih dalam, atau justru fase sebelum lonjakan berikutnya?
Pantau terus pergerakan Bitcoin dan dinamika global—karena di situlah arah pasar sebenarnya ditentukan.
Baca Juga: Bitcoin Bangkit ke USD70.000, Reli Harga Bergantung pada Perang AS-Iran
Baca Juga: Indodax Perkuat Edukasi Kripto, Jaga Kepercayaan 9 Jutaan Investor Ritel
FAQ
1. Kenapa harga Bitcoin turun hari ini?
Harga Bitcoin turun karena kombinasi faktor global seperti ketidakpastian geopolitik, penguatan dolar AS, serta kenaikan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi. Selain itu, data pasar menunjukkan adanya tekanan jual dan distribusi aset oleh investor besar, sehingga memperlemah momentum kenaikan BTC.
2. Apakah harga Bitcoin akan turun lagi dalam waktu dekat?
Dalam jangka pendek, Bitcoin masih berpotensi turun jika tekanan makro seperti konflik global dan suku bunga tinggi terus berlanjut. Selama harga masih berada di bawah resistance US$70.000–75.000, risiko koreksi ke area support sekitar US$60.000 tetap terbuka.
3. Berapa prediksi harga Bitcoin di tahun 2026?
Prediksi harga Bitcoin 2026 berada di kisaran US$80.000 hingga US$100.000 dalam skenario dasar. Kenaikan ini didukung oleh adopsi institusional dan efek pasca-halving, meskipun tetap bergantung pada kondisi ekonomi global dan likuiditas pasar.
4. Apa itu fenomena “sell the news” dalam kripto?
“Sell the news” adalah kondisi ketika harga aset seperti Bitcoin sudah naik karena ekspektasi positif, tetapi justru turun setelah berita resmi keluar. Ini terjadi karena investor mengambil keuntungan setelah sentimen positif sudah tercermin dalam harga sebelumnya.
5. Apakah sekarang waktu yang tepat untuk membeli Bitcoin?
Keputusan membeli Bitcoin saat ini tergantung strategi masing-masing investor. Dalam kondisi pasar yang volatil, banyak analis menyarankan untuk tidak terburu-buru dan menunggu konfirmasi tren atau memanfaatkan strategi bertahap seperti dollar cost averaging (DCA).
6. Faktor apa saja yang memengaruhi harga Bitcoin?
Harga Bitcoin dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kebijakan suku bunga global, kondisi ekonomi makro, sentimen investor, adopsi institusional, serta peristiwa geopolitik. Selain itu, data teknikal seperti volume trading dan open interest juga memainkan peran penting dalam menentukan arah pergerakan BTC.
7. Apakah Bitcoin masih layak untuk investasi jangka panjang?
Bitcoin masih dianggap menarik untuk investasi jangka panjang karena memiliki fundamental kuat seperti suplai terbatas dan meningkatnya adopsi global. Namun, investor tetap perlu memahami risiko volatilitas tinggi dan memantau perkembangan ekonomi global sebelum mengambil keputusan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









