AMAR Bukukan Pertumbuhan Laba 16,1 Persen ke Rp249,6 Miliar di 2025

AKURAT.CO Kinerja PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) sepanjang 2025 menjadi sorotan pasar setelah mencetak laba bersih tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.
Bank berbasis digital ini membukukan laba Rp249,6 miliar atau tumbuh 16,1% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Pertumbuhan laba Amar Bank 2025 ini tidak hanya ditopang ekspansi kredit yang agresif, tetapi juga perbaikan kualitas aset dan peningkatan kepercayaan nasabah.
Di tengah tren transformasi digital perbankan dan dorongan pembiayaan UMKM, kinerja AMAR memperlihatkan bagaimana strategi bank digital mampu menciptakan pertumbuhan berkualitas dan berkelanjutan.
Direktur Utama Amar Bank, Vishal Tulsian, menegaskan bahwa capaian 2025 menjadi tonggak penting dalam perjalanan bisnis perseroan.
“Kinerja 2025 mencerminkan fokus Amar Bank dalam membangun pertumbuhan yang semakin berkualitas. Kami berhasil mendorong ekspansi kredit secara sehat, menjaga kualitas aset tetap terkelola dengan baik, dan pada saat yang sama melanjutkan tren pertumbuhan laba secara konsisten,” ujar Vishal dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Pencapaian ini sekaligus memperpanjang tren positif Amar Bank dalam tiga tahun terakhir, dengan kombinasi pertumbuhan laba yang stabil dan penguatan fundamental bisnis.
Kredit Tumbuh 35,7 Persen ke Rp3,98 Triliun, UMKM Jadi Mesin Utama
Sepanjang 2025, Amar Bank mencatat penyaluran kredit sebesar Rp3,98 triliun, melonjak 35,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menegaskan agresivitas ekspansi yang tetap dijaga dalam koridor manajemen risiko yang prudent.
Lebih dari 50% kredit tersebut disalurkan ke sektor UMKM, memperlihatkan positioning Amar Bank sebagai pemain penting dalam pembiayaan usaha kecil dan menengah.
Pertumbuhan kredit ini didorong oleh ekspansi pinjaman digital melalui platform Tunaiku. Model bisnis digital memungkinkan penetrasi pasar lebih luas dengan efisiensi operasional yang lebih tinggi dibandingkan bank konvensional.
Strategi ini juga sejalan dengan tren industri perbankan yang semakin mengandalkan teknologi untuk meningkatkan akses keuangan masyarakat.
Kualitas Aset Membaik, NPL Turun ke 0,83 Persen
Selain pertumbuhan kredit, Amar Bank juga mencatat perbaikan signifikan pada kualitas aset. Rasio kredit bermasalah (NPL) net turun menjadi 0,83 persen dari sebelumnya 1,07%.
SVP Finance Amar Bank, David Wirawan, menilai capaian ini sebagai indikator kuat dari strategi ekspansi yang selektif.
“Pertumbuhan kredit serta laba bersih di angka double digit, serta perbaikan NPL net menjadi 0,83 persen, mencerminkan strategi ekspansi yang dijalankan secara selektif dan prudent,” jelas David.
Penurunan NPL ini menjadi krusial di tengah kekhawatiran risiko kredit pada segmen digital lending yang umumnya lebih agresif.
Tidak hanya dari sisi penyaluran kredit, kepercayaan nasabah terhadap Amar Bank juga meningkat signifikan. Hal ini tercermin dari pertumbuhan total simpanan yang meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
David menambahkan bahwa pertumbuhan dana pihak ketiga ini turut memperkuat posisi likuiditas bank.
“Di saat yang sama kami juga menjaga posisi likuiditas yang kuat. Kami melihat capaian ini sebagai fondasi penting dalam menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan ke depan,” katanya.
Likuiditas yang kuat menjadi faktor kunci bagi bank digital untuk terus melakukan ekspansi tanpa mengorbankan stabilitas keuangan.
2026 Fokus Digitalisasi dan Ekosistem UMKM
Memasuki 2026, Amar Bank menegaskan akan melanjutkan strategi penguatan digital dan inklusi keuangan.
“Tahun ini, Amar Bank akan terus fokus pada penguatan produk dan layanan digital, perluasan ekosistem pembayaran, dan menghadirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Vishal.
Selain itu, perseroan juga memperkuat peran Amar Bank Bisnis sebagai pilar dalam pemberdayaan UMKM. Langkah ini dinilai strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini











