OJK Dorong Inovasi Asuransi di Tengah Ancaman El Nino Godzilla

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong industri asuransi memperkuat inovasi produk dan kolaborasi guna mengantisipasi lonjakan klaim akibat fenomena El Nino yang diperkirakan berdampak dalam beberapa bulan ke depan.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) OJK, Ogi Prastomiyono, menyatakan fenomena iklim tersebut berpotensi meningkatkan risiko di berbagai lini usaha asuransi, mulai dari properti hingga pertanian.
“OJK mendorong penguatan inovasi produk seperti asuransi parametrik serta koordinasi dengan pemangku kepentingan, termasuk MAIPARK, dalam pemutakhiran peta risiko bencana,” kata Ogi dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Baca Juga: Antisipasi El Nino Godzilla, Pengawasan Hutan di NTB Diperketat
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan El Nino umumnya meningkatkan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik dan memicu penurunan curah hujan di Indonesia.
Pada periode El Nino kuat 2015, misalnya, luas kebakaran hutan dan lahan mencapai lebih dari 2,6 juta hektare menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), yang berdampak signifikan pada sektor ekonomi dan kesehatan.
Ogi menjelaskan, sejumlah lini usaha seperti asuransi properti, kendaraan bermotor, pertanian, dan kesehatan menjadi sektor yang paling rentan terdampak. Seiring meningkatnya frekuensi dan tingkat keparahan bencana, industri juga berpotensi melakukan penyesuaian tarif premi.
“Ada kemungkinan penyesuaian premi, namun harus dilakukan secara terukur sesuai ketentuan yang berlaku serta mempertimbangkan daya beli masyarakat,” ujarnya.
Dari sisi mitigasi, OJK mencatat industri asuransi nasional telah memiliki mekanisme pengelolaan risiko melalui reasuransi, termasuk proteksi katastropik dan pembentukan cadangan teknis.
Berdasarkan data OJK, total aset industri asuransi Indonesia per 2025 mencapai lebih dari Rp1.000 triliun, yang menjadi bantalan penting dalam menjaga stabilitas sektor keuangan saat terjadi lonjakan klaim.
Sebelumnya Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, pemerintah juga memperkuat perlindungan sektor riil, khususnya pertanian.
Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong petani memanfaatkan program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) untuk mengantisipasi risiko gagal panen akibat kekeringan.
"Salah satu langkah yang terus didorong pemerintah adalah pemanfaatan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Program tersebut dirancang untuk melindungi petani dari berbagai risiko, mulai dari kekeringan, banjir, hingga serangan organisme pengganggu tanaman," ujarnya.
Secara historis, fenomena El Nino kerap memicu tekanan pada sektor pangan dan meningkatkan inflasi, terutama pada komoditas beras.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada periode El Nino sebelumnya, produksi padi sempat mengalami penurunan akibat berkurangnya curah hujan di sejumlah sentra produksi.
Bagi publik, potensi kenaikan premi asuransi dan risiko gangguan produksi pangan menjadi dua dampak utama yang perlu diantisipasi.
Sementara bagi industri keuangan, peningkatan klaim berisiko menekan profitabilitas perusahaan asuransi jika tidak diimbangi dengan manajemen risiko yang memadai.
OJK menegaskan industri asuransi perlu memperkuat kesiapan menghadapi kondisi iklim ekstrem ke depan.
“Secara keseluruhan, industri diharapkan terus memperkuat manajemen risiko dan kesiapan menghadapi potensi peningkatan klaim akibat kondisi iklim ekstrem,” kata Ogi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini











